perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Lima Tahun Sekali

Hampir jam 2 pagi. Hujan baru saja selesai mengguyur, namun tetes-tetesnya masih enggan beristirahat. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari satu acara musik tahunan di Kemayoran. Setelah mengantar seorang teman ke Rawamangun, kami menuju rumah saya di bilangan Jakarta Selatan.

Kami diam. Entah karena lelah, ngantuk, atau sibuk dengan pikiran masing-masing.

Melewati penghujung Jalan Imam Bonjol, mata saya terpaku pada sebuah gereja
Kristen. Lampu sorot menyinari tanda salib di atas pintunya, kontras dengan kegelapan di sekitarnya. Tampak damai, mengundang orang untuk berteduh.

http://urbansketchers-indonesia.blogspot.com/2010/08/church-paulus-menteng-jakarta.html

GPIB Paulus, Menteng, Jakarta. Posted by Atit Dwi Indarty on urbansketchers-indonesia.blogspot.com

“Bisa nggak sih, kalau aku mau ke gereja sekarang?”

“Jam segini? Nggak sih. Gereja biasanya tutup jam 12 malam.”

“Kalau ada yang mau sembahyang jam segini, gimana?”

“Ngapain juga sembahyang jam segini?”

“Maksudku, kalau kayak mesjid gitu kan terbuka. Orang bisa masuk kapan saja.”

“Ya, ketok saja. Pasti ada penjaga yang membukakan.”

“Apakah penjaga gereja harus Kristen?”

“Tidak. Rata-rata malah setahuku bukan. Di kota asalku, sih, penjaga gerejanya bukan Kristen.”

“Kenapa kalau berdoa di gereja itu orang bernyanyi? Aku hanya sekali ikut ibadah di gereja, waktu pemberkatan nikah teman. Rasanya maksa sekali, menyanyikan doa dengan nada seperti di Vatikan, tapi dibahasaindonesiakan.”

“Apakah Tuhan mendengar bahasa?”

“Apakah Tuhan mendengar nada?”

“Setahuku di semua gereja begitu, doanya dibahasaindonesiakan. Ada yang nadanya diindonesiakan juga, tapi banyak yang mempertahankan aslinya.”

“Kenapa? Kan jadi kurang indah.”

“Itu juga yang aku nggak suka dari agama Katolik. Segala sesuatu sepertinya begitu mengikat. Kamu tahu kalau di Katolik, pakai kondom itu dosa?”

“Masa sih? Kalau bikin bayi tabung berdosa aku tahu, tapi masa pakai kondom juga?”

“Makanya, kalau menurut Katolik itu semua orang berdosa.”

“Hahaha.. Kamu kan terlahir Katolik. Apakah kedua saudara perempuanmu Katolik?”

Saya teringat ceritanya dulu. Kedua orang tuanya adalah penganut aliran Konghucu. Ketika anak-anaknya lahir, kedua orang tuanya mendaftarkan mereka sebagai penganut Katolik, semata agar ketiga anaknya mendapatkan kemudahan. Pada waktu itu, tidak ada tempat bagi penganut kepercayaan selain kelima agama di negara ini.* Pun Konghucu ditetapkan sebagai aliran binaan agama Buddha, walaupun sebenarnya bukan. Konghucu adalah sebuah filsafat hidup yang berdiri sendiri, bukan dibawahi agama manapun. Baru pada awal tahun 2006, pencantuman agama Konghucu dalam sistem administrasi kependudukan mulai dilakukan.**

Satu hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi saya. Bukankah agama dan kepercayaan seseorang adalah salah satu hak asasi manusia yang paling hakiki? Tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights.*** Bila seseorang kemudian percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, atau bila ia menganut suatu aliran di luar agama yang diakui, apakah itu tidak dapat dikatakan sebagai satu kepercayaan yang menjadi haknya?

“Hanya kakakku. Adikku agnostik.”

“Agama di KTP adikmu apa?”

“Aku nggak tahu. Nggak pernah lihat-lihat.”

“Dan di KTP-mu sekarang kamu Buddha.”

“Iya, sejak 2008.”

“Apakah orangtuamu tahu kamu mengganti agama di KTP-mu?”

“Tahu lah. Sudah diomongin.”

“Mereka nggak apa-apa?”

“Oke-oke saja. Malah, aku sudah bilang, mungkin saja aku ganti lagi. Buat ngisengin orang Kelurahan. ‘Iya, nih, Pak. Ternyata nggak cocok. Sebenarnya sudah nggak cocok dari tahun pertama, tapi mau bagaimana lagi. Habis, ganti KTP hanya bisa 5 tahun sekali.'”

Kami tertawa heboh dalam mobil. Mobil meluncur di aspal basah Jalan Sudirman yang sepi. Kosong.

*) Surat Edaran Menteri Dalam negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95, tanggal 18 November 1978; menyatakan antara lain bahwa agama yang diakui oleh pemerintah adalah Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu.

**) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 470/336/SJ, tanggal 24 Februari 2006; tentang pencantuman agama Konghucu dalam sistem administrasi kependudukan dilakukan serentak secara nasional.

***) Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia), ditetapkan tanggal 10 Desember 1948, pada Sidang Umum PBB di Paris, Prancis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 5, 2012 by in Life and tagged , , , .

Navigasi

%d blogger menyukai ini: