perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Duit Pacar, Duitku Juga

Image

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang kawan wanita. Selang lama tidak bertemu, gaya hidupnya kini berubah sekali dari yang saya kenal sebelumnya. Ia memiliki benda-benda mahal, bercengkerama di tempat-tempat mewah, dan pergi liburan ke destinasi-destinasi eksotis. Setahu saya ia belum bekerja. Desas-desusnya, pacarnya yang membiayai. Saya terpukau mendengar cerita-ceritanya yang cukup bombastis karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi saya.

Iri? Sudah tentu. :p

Pertemuan itu membuat saya iseng mengadakan survey kecil-kecilan di twitter siang tadi. Seberapa berhak Anda, para perempuan, atas uang pacar? Berbagai jawaban yang saya dapatkan dari followers ternyata sangat menarik, bahkan para pria pun ikut menjawab. Berikut saya cantumkan beberapa di antaranya.

“gak ada. Kalau udah nikah boleh, masih pacaran sih pengeretan banget kalau merasa berhak sama duit pacar.” – @DianOnno

“mengutip kalimat dalam bahasa arab “Lakum Dinukum Waliyadin” jadi..Duit-mu ya Duit-mu ..Duit-ku ya Duit-ku.” – @enolaelv

“aku rasa gak berhak, biasanya kami bersepakat gantian bayarin; kl salah satu lg bokek ya jujur aja :p” – @dyanti

“kl kecil2 saling gantian bayar gpp. Kado sewajarnya. Tp kl terima berlebih msh pacaran, aku sih agak gak nyaman apalagi minta.” – @twittibeth

“sbenernya yg penting ngga minta duluan sih nin, kalo semua dibayarin malah suka risih, jadi gak punya power *alah*” – @giezka

“ga ada hak kak, bayar ya masing-masing. bukan karena gengsi. kalau uda nikah ya lain urusan dong (◦˘ϖ˘◦)” – @nyonyapejabat

“bayarin beda kasus, tapi kalo untuk klaim belum saatnya.” – @jekijack

“duit pacar ya duit masing-masing, kalau udah nikah baru kekayaan suami milik istri juga.” – @muhghazali

“kalo gue si balance aja. Kadang bayarin, tp jg gak nolak kalo dibayarin :D” – @wowadit

Berdasarkan survey iseng itu, saya menarik kesimpulan yang kemudian saya tweet. Rata-rata berpendapat bahwa kalau masih pacaran, tidak ada hak atas uang pacarnya, tapi tentu tidak menolak kalau dibayari. Asal tidak minta. Lain urusan bila sudah menikah, maka uang menjadi milik bersama. Karena tidak ada yang menyanggah tweet saya itu, maka saya simpulkan bahwa semua setuju. 😀

Dalam hukum Islam, disebutkan bahwa kewajiban menafkahi keluarga adalah tanggung jawab suami. Istri yang berkarir untuk menafkahi keluarga adalah diperbolehkan dan diizinkan, tetapi sifatnya bukan sebagai kewajiban istri untuk memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya, melainkan hanya bersifat membantu tugas suami. Nafkah yang diberikan oleh istri kepada keluarganya termasuk dalam ketegori sedekah.

Tentunya, hal itu hanya berlaku dalam pernikahan. Apalagi pada zaman dulu, status sosial perempuan sangat rendah. Tugas perempuan hanyalah diperistri dan dinafkahi, namun tidak punya kekuatan bahkan atas dirinya sendiri. Sekarang zaman sudah berubah, perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki. Namun dogma kewajiban laki-laki menafkahi, dalam hal ini membayari dalam bentuk apapun, menempel dalam kebudayaan masyarakat, termasuk ketika pacaran. Jujur, ketika usia bukan lagi remaja, adakah perempuan yang sama sekali tidak melihat kestabilan laki-laki yang menjadi pacarnya secara ekonomi?

Saya sendiri tidak mau munafik. Saya tidak anti dibayari pacar. Dari sekian jumlah mantan saya, ada satu orang yang, dulu, banyak berkontribusi secara finansial pada saya tanpa saya minta. Itu terjadi secara perlahan tanpa saya sadari, yang kemudian ternyata menjadi kebiasaan. Malam mingguan atau makan, sudah pasti dia yang bayar. Pergi liburan pun dia banyak menyumbang, walau tentunya saya bayar sebagian. Misalnya, dia membelikan tiket, maka saya akan membayar untuk akomodasi, walau kemudian dia banyak menjajani untuk makan dan sebagainya.

Ketika putus, saya baru sadar, betapa besarnya pengeluaran kami selama pacaran! Di masa-masa awal menjomblo, dengan gaya hidup yang masih terbiasa seperti saat masih pacaran, uang pribadi saya cepat sekali habis. Satu hal yang saya belajar benar-benar, pacaran bukanlah hitam di atas putih seperti lembaga pernikahan. Tidak ada hukum atas sesuatu yang bernama “pacaran”.

Jujur, puji syukur saya terlahir dari keluarga yang cukup. Saat ini, terhitung sebagai mahasiswa, saya masih mendapat support penuh secara finansial. Bagaimanapun, mengganggu rasanya, di usia segini saya belum memiliki penghasilan tetap.

Setelah putus dengan mantan saya tersebut, pelan-pelan saya mulai menemukan diri saya sendiri. Mengatur gaya hidup, dan menemukan hobi-hobi yang dulu terlupakan karena terlalu sibuk pacaran, hehehe. Sedikit-sedikit saya menjadi penulis lepas, dengan tetap menjalankan kuliah magang saya di rumah sakit sebagai dokter muda.

Ada kebanggaan tersendiri ketika walau sedikit saya mampu mendapat penghasilan. Lumayan untuk menambah biaya hedon, walau tidak banyak, setidaknya saya tidak terus-terusan menadahkan tangan pada orangtua.

Tidak hanya penghasilan, namun juga pencapaian. Ada kepuasan ketika saya menemukan bahwa, satu titik kecil berwujud diri saya, menjalankan fungsi dan peran di dunia yang sangat luas. Dan mendapatkan penghargaan sesuai dengan kemampuan dan usaha saya sendiri. Serta mampu menyokong eksistensinya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Apalagi pacar. Apakah itu bisa disebut gengsi? Sudah pasti. 😀

Perempuan, dengan segala kodratnya, seperti juga laki-laki sesama manusia, dibekali dengan rahmat yang sangat besar dari Tuhan berbentuk akal budi dan kemampuan, yang tidak hanya terbatas diberi oleh laki-laki walau kelak menjadi kewajibannya menafkahi. Itu yang Ibu saya ajarkan, saya percaya, dan semoga, akan selalu saya pegang. 🙂

Iklan

One comment on “Duit Pacar, Duitku Juga

  1. muhammadghazali
    Maret 30, 2012

    Hallo Nindya,
    terima kasih lho, pendapat saya mengenai hal ini turut dimuat di tulisan kamu yang ini. Pada dasarnya saya sependapat dengan kesimpulan yang kamu buat 🙂

    Thanks,
    best regards.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2012 by in Life.
%d blogger menyukai ini: