perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Solo Trip To Solo #1

Ketika libur Paskah yang lalu, akhirnya kesampaian juga saya mengunjungi kota ini. Sebenarnya sedikit ‘maksa’, mengingat sehari sebelumnya saya baru saja judicium dan dinyatakan harus remedial pada hari Rabu (11/4/2012) minggu depannya. Dan seharusnya saya berangkat bersama seorang teman, tapi tidak jadi. Rencana pergi ke Solo ini sudah tertunda hingga dua kali. Setelah berpikir dalam waktu kurang dari 24 jam, saya memutuskan berangkat pada hari Kamis (5/4/2012) malam.ย  Sendirian. Pagi itu juga saya mencari tiket kereta, dan ludes. Terpaksa beli dari calo, dapat tiket KA Turangga tujuan Bandung-Surabaya, yang astaga mahalnya. Tapi, dasar sudah niat, maka dimulailah solo trip pertama saya. Ke kota Solo, untuk pertama kalinya. ๐Ÿ™‚KA Turangga

Day 1.

Setelah menempuh perjalanan kereta selama kurang lebih 10 jam dari yang seharusnya 8 jam, saya tiba di kota Solo sekitar pukul 04.45 pagi. Jemputan dari hotel saya, Rumah Turi, datang sekitar pukul 05.15. Sesampainya di hotel saya langsung ‘tewas’ karena belum tidur cukup di kereta, mungkin karena lampu gerbong yang terang. Senangnya, kamar saya di-upgrade ke deluxe room.Rumah Turi

Upgraded to Deluxe RoomRumah Turi cafe

Bangun sekitar pukul 9 pagi, saya langsung naik becak (yang sulit ditawar karena saya tidak berwajah dan berbahasa Jawa. Saya tidak pernah bayar becak kurang dari Rp. 10.000 di Solo) menuju Pasar Gede untuk tujuan pertama dalam daftar saya: makan timlo. Pasar Gede adalah pasar tradisional terbesar di Solo. Di sini, selain barang kebutuhan sehari-hari, banyak dijual jajanan tradisional Solo seperti dawet. Pasar Gede

Ternyata Timlo Sastro yang saya cari berada di blok lain dari pasar utama. Rasanya mantap! ๐Ÿ˜€ Yang saya suka, seperti di Jogja, di Solo pun saya menemukan pengamen ‘niat’, menyanyikan lagu-lagu keroncong lengkap dengan biola.Timlo Sastrotimlo

Tujuan kedua saya adalah Pasar Windujenar yang lebih dikenal dengan Pasar Triwindu. Ini adalah pasar barang antik yang terletak di Jalan Diponegoro yang cantik di kawasan Ngarsopuro, dengan jajaran patung gamelan, lukisan, dan lampu-lampu sangkar burungnya yang terkenal. Beberapa orang tampak duduk-duduk di bangku jalan, sekedar menikmati suasana. Setelah berkeliaran di Pasar Triwindu (dan langsung menghabiskan uang untuk belanja bros antik untuk ibu saya), saya pun ikut duduk-duduk di situ. Tenang sekali. Gawat, bisa lupa waktu. ๐Ÿ˜€Jalan Diponegorolampu jalan bentuk sangkar burungpatung gamelanlampu sangkar burungPasar Windujenar (Triwindu)Triwindubarang antik

Tujuan ketiga hari itu adalah Kampung Batik Kauman. Sengaja saya menaruh ‘belanja’ sebagai tujuan pertama saya, agar bisa beli oleh-oleh sebelum kalap menghabiskan uang untuk diri sendiri. Ternyata saya salah besar begitu sampai Kauman. Masalahnya, saya pecinta batik, hahaha. Semua kain yang saya sentuh ternyata batik tulis penuh, yang harganya pun tidak murah, sekitar Rp 600.000 hingga jutaan. (-_-“)Kampung Batik Kaumanproses membatik

Di Kauman, saya membeli jarik (kain) batik motifย  Wahyu Tumurun untuk Bayu, sahabat sekaligus editor saya. Sengaja saya cocokkan motif itu dengan profesinya sebagai jurnalis. Saya juga membeli jarik motifย  Sekar Jagad untuk saya sendiri, yang saya beli tanpa mengetahui artinya, hanya karena saya suka motif meraknya yang cantik. Setelah googling, ternyata artinya bagus juga. ๐Ÿ˜€ Saya juga membeli dua boneka batik untuk kedua keponakan saya. Sayangnya saya tidak berhasil menemukan batik motif Truntum dan Kawung yang sesuai selera saya untuk kedua kakak saya. Saya memang agak freak soal filosofi. :pSekar Jagad & Wahyu Tumurun

Puas berputar-putar di Kauman, saya menuju O Solo Mio Ristorante & Bar di Jalan Slamet Riyadi. Di sepanjang jalan protokol ini memang banyak terdapat cafe dan kedai cantik, yang kerap didatangi pelancong bule. Restoran Italia ini salah satunya. Di sana saya bertemu dengan Aan, yang ternyata teman sejawat sesama dokter. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, hanya dikenalkan oleh Teddy lewat bbm ketika saya sedang dalam perjalanan kereta. Menurut Aan, harga makanan di O Solo Mio termasuk mahal untuk ukuran Solo. Harga seporsi T-Bone steak yang saya lihat di menu sekitar Rp 90.000.O Solo Mio

Sekitar pukul 6 sore kami menuju Nasi Liwet Wongso Lemu untuk makan malam. Enak sekali! Rasa nasi liwet Solo gurih dan berkuah, berbeda dengan nasi liwet Bandung yang kering dengan ikan asin. Lagi-lagi saya menemukan pengamen tradisional, tiga pesinden berkebaya lengkap. Duduk lesehan makan nasi liwet Solo sambil mendengarkan sinden, sungguh unik bagi saya.nasi liwet

Setelah itu ada cerita yang lumayan kocak. Kami pergi ke Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari untuk mengejar Wayang Orang Sriwedari yang sedianya dimulai pukul 8 malam. Sesampainya di sana, Aan yang juga belum pernah menonton Wayang Orang walau sudah 7 tahun tinggal di Solo, bertanya pada tukang parkir. Saya yang tidak bisa berbahasa Jawa diam saja. Menurut Aan, tukang parkir itu bilang Wayang Orang pindah ke Taman Balekambang. Wah, saya agak kecewa mendengarnya, karena melewatkan pertunjukan berusia lebih dari 100 tahun yang sangat legendaris. Tapi tak urung kami lanjut mengejar pertunjukan di Taman Balekambang. Masuk taman bayar Rp. 3000, sama seperti yang saya baca di situs-situs Solo untuk harga tiket masuk Wayang Orang, tapi ternyata hanya untuk parkir mobil. Pertunjukan ternyata berada di open-stage seperti colloseum. Saya langsung takjub. Saya kira itulah tempat yang akan digunakan untuk Pertunjukan Sendratari Matah Ati September nanti. Penuh sekali yang datang menonton malam itu. Saya sempat terpikir, apakah karena malam libur, atau orang Solo memang begitu menyintai kebudayaannya walaupun Wayang Orang itu digelar setiap malam sejak tahun 1910. Lakon malam itu adalah Ramayana. Aan membisikkan hampir setiap dialog dalam bahasa Jawa untuk saya yang ndak mudeng sepatah kata pun. ๐Ÿ˜€ Dalam dialognya, sering terucap candaan yang menyentil masalah umum seperti demo BBM. Di akhir pertunjukan, saya kaget melihat dalam pertempuran Alengka, Anoman dan kera-kera kawannya membawa obor-obor menyala kemudian membakar gapura jerami! Bagus sekali! Saat itu juga saya yakin ini bukan Wayang Orang. Selesai pertunjukan, kami menghampiri kru yang sedang membereskan peralatan dan bertanya. Ternyata, pertunjukan malam itu adalah Sendratari Ramayana yang hanya diadakan setiap malam bulan purnama, dan baru kedua kalinya digelar dengan lakon malam itu Anoman Obong (obor). I’m the lucky bastard!! ๐Ÿ˜€Sendratari Ramayana Taman BalekambangAnoman Obong

Keluar dari Taman Balekambang, kami akhirnya menuju hotel saya untuk ngopi di cafe, sambil menunggu hingga lewat tengah malam. Sekitar pukul 1 malam kami bergerak ke tujuan terakhir malam itu: Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan yang terkenal. Ketika lewat pertama kali, tenda sedang didirikan sehingga kami memutuskan untuk berputar satu blok sambil Aan menunjukkan beberapa hal pada saya (salah satunya, “pijat payung”, hahaha). Ketika kembali ke warung gudeg, ternyata tenda sudah dipenuhi orang. Untungnya, kami malah mendapat tempat duduk tepat di sebelah Bu Kasno, yang saat itu belum datang. Begitu beliau datang, seisi tenda yang sebelumnya agak riuh seketika hening. Seperti bila ibu guru masuk kelas. “Watch the Midas touch,” bisik Aan. Saya terbelalak melihat Ibu Kasno menyendoki ceker, gudeg, dan bumbu-bumbunya dengan tangan telanjang. Menurut orang-orang, di situlah letak nikmatnya. Saya sebenarnya tidak terlalu suka ceker, tapi yang satu ini benar-benar beda. Enaknya sampai ke tulang-tulangnya.ngantri gudeggudeg ceker

Lanjutkan ke Solo Trip to Solo #2

Baca artikel perjalanan ini di areamagz.com – Travel: Menghentikan Waktu di Solo

Informasi dan kalender kebudayaan Surakarta bisa dilihat di sini.

Iklan

2 comments on “Solo Trip To Solo #1

  1. gonita
    Desember 1, 2012

    Jalan2 di solonya SERU.. ^^
    itu beli batik wahyu tumurun nya di Kauman? Batik tulis asli brp ya harganya? 600rb ya? #cantik

    • nindyalubis
      Desember 1, 2012

      Iyaaa, batik tulis penuh (bukan campuran cap) antara 400 ribuan sampai jutaan sih. Bikin kalap kalo gak mentok di dompet. X)) Pesen minta customised pattern pun bisa di sana. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 17, 2012 by in Travel and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: