perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Solo Trip To Solo #2

Day 2.

Hari ini, saya memutuskan menyewa mobil. Karena mendadak (saya baru menghubungi sekitar pukul 9 malam sebelumnya ketika sedang menonton sendratari), saya tidak sempat mencari dan membandingkan harga. Dari situs rental mobil pertama yang saya temukan, Manunggal Rent Car, saya menyewa Avanza dengan supir selama 12 jam seharga Rp. 400.000.

Alasan saya menyewa mobil adalah karena tujuan hari ini cukup jauh, yaitu Candi Sukuh dan Air Terjun Tawangmangu. Berada di daerah pegunungan berjarak tempuh sekitar 1 jam ke arah barat kota Solo. Selain keduanya, di daerah yang sama juga terdapat Candi Geto dan Patung Semar.

Candi Sukuh terkenal akan keerotisannya. Menurut supir saya, orang Solo menyebutnya Candi Saru, atau Candi Porno. Beberapa orang yang mengenal saya dengan cukup baik mungkin mengerti alasan saya ingin mengunjungi candi ini karena ketertarikan saya akan konsep seksualitas. Candi berbentuk trapesium ini disebut-sebut mirip dengan piramida suku Maya di Mexico. Menurut penglihatan saya yang sama sekali bukan ahli, bentuk candi ini adalah penegasan dari simbol lingga (penis) sebagai gapura candi dan yoni (vagina) sebagai atapnya. Buat saya, candi ini melambangkan perayaan tubuh manusia, seperti yang tertulis di kitab Jawa Kuno, Serat Centini (lihat di sini). Sayang saya menemukan banyak kerusakan di pelataran candi yang tidak terlalu luas ini. Salah satu arca terbesar penisnya disunat, patung-patung tanpa kepala, dan yang paling mengganggu bagi saya adalah goresan penuh kebanggaan bertuliskan “ARS FKT” besar di badan candi. Kalau benar dugaan saya bahwa yang menulis mahasiswa arsitektur, sungguh memalukan mereka merusak bangunan agung berusia ribuan tahun.Candi Sukuharca Candi Sukuhperusak candi

Kami lalu menuju kawasan Tawangmangu yang, bagi orang Solo, menyerupai kawasan Puncak bagi orang Jakarta, untuk melihat Grojogan Sewu atau air terjun. Memasuki kompleks air terjun, jalan masuk harus ditempuh dengan berjalan kaki dan untuk menuju air terjun harus menuruni anak tangga batu yang cukup curam dan berkelok-kelok, dengan monyet-monyet yang berkeliaran lepas. Saya sempat khawatir. Lho, kok nggak nyampe-nyampe? Ketika akhirnya sampai, air terjunnya ternyata memang bagus. Saat itu cukup ramai karena hari libur. Seorang tukang foto keliling memperhatikan saya dengan pandangan kasihan. “Kok dewe’an wae, Mbak (kok sendirian saja, Mbak)?” tanyanya. Saya hanya senyum-senyum. Ada juga cerita lucu ketika saya sedang meminum Mizone yang saya beli di situ. Saya didatangi 2 ekor monyet berukuran cukup besar yang memandangi saya dengan penuh cinta. Salah satunya bahkan menarik-narik ransel saya sehingga beberapa gadis di sekitar saya menjerit-jerit. Lalu saya lempar botol minuman saya yang langsung dikerubuti (sambil sesaat lupa sedang berada di daerah Jawa yang halus; merutuk dengan umpatan a la Jakarta). Ternyata mereka tertarik pada warna biru botol itu. Untung saya masih punya persediaan minum, karena ternyata kekhawatiran saya terbukti. Jalan tracking menaiki tangga kembali sungguh menyiksa orang yang jarang olahraga seperti saya, sampai-sampai sepatu saya rusak. Untung di setiap belokan tangga terdapat saung untuk beristirahat.monyet TawangmanguAir Terjun Tawangmangu

Kembali ke kota Solo, saya langsung menuju Keraton Surakarta Hadiningrat. Kawasan ini, sayangnya, kurang begitu terawat. Benda-benda di museum bahkan sudah banyak yang rusak. Asumsi saya dan seorang ibu dari Jakarta yang sempat mengobrol, mungkin karena kota ini bukanlah daerah khusus seperti Yogyakarta, yang Sultannya memerintah sebagai Gubernur, sehingga kurang mendapat perhatian pemerintah. Kesunanan Surakarta hanyalah sebuah simbol, dan tampuk pemerintahan tetap dipegang seorang Walikota. Kebutuhan akan eksistensi lah, menurut saya dan Aan dalam diskusi sehari sebelumnya, yang mendorong Keraton Surakarta mengangkat begitu banyak bangsawan dari kalangan artis ibukota. Di keraton, saya yang sendirian tanpa guide sempat menaiki salah satu bangunan pendopo kecil untuk mengambil foto, dan langsung riuh dikeproki dan diteriaki dari jauh oleh salah satu guide yang menyuruh saya turun. Hehehe, saya nggak tahu, soalnya tidak ada papan larangannya.Pendopo Keraton Surakartatukang becak beristirahat di bangunan keraton

Waktu sudah menunjukan hampir pukul 4 sore, sementara saya belum makan dari pagi. Saya langsung menuju Sate Buntel Tambaksegaran. Satenya yang tanpa tusuk itu ternyata besar sekali. Tapi sayang, dari semua makanan gurih di Solo, hanya sate buntel ini yang kurang sesuai selera saya karena cita rasanya yang manis.sate buntel

Saya kemudian menuju salah satu tujuan utama saya, yaitu Lokananta. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan perusahaan musik tertua di Indonesia ini. Sesampainya di sana, penjaganya sempat menanyai saya dengan curiga, mau apa, mau bertemu siapa. Sempat menolak saya masuk dengan alasan tutup karena hari libur. Dengan sedikit rengekan maut saya berhasil masuk ke bangunan utama walau gagal masuk ke gedung rekaman yang bersejarah. Sedikit spoiler, menurut penjaganya, Glenn Fredly baru saja rekaman di sana. Senang mendengar tempat legendaris itu akan jaya lagi. 🙂LokanantaPeralatan musik antik di Lokananta

Dari Lokananta, perjalanan dilanjutkan ke daerah Sukoharjo untuk mengunjungi Toko Roti Widoro yang berusia 90 tahun. Walaupun namanya toko roti, sebenarnya produk utama yang dijual adalah bolu (menurut Ibu saya, orang Jawa menyebut kue dengan kata ‘roti’ juga). Rata-rata teman saya yang sudah mencoba “roti” ini tidak suka karena manis. Rasa bolunya, menurut saya, enak sekali! Rasanya betul-betul “jaman dulu”, seperti kue-kue yang dijual di warung ketika kecil. Harganya berkisar dari Rp. 3.000 – Rp. 5.000 sesuai ukurannya. Saya juga sempat melihat-lihat dapurnya yang terbuka, walau proses produksi hampir berakhir.Toko Roti Widorodapur Toko Roti Widororoti Widoro

Kembali ke daerah kota, saya sempat mampir di salah satu toko batik di Laweyan membeli oleh-oleh kecil untuk teman-teman kuliah. Sayangnya ketika keluar toko hujan turun deras. Niat saya ke kawasan Ngarsopuro untuk mengunjungi Night Market yang diadakan setiap malam Minggu terpaksa urung dan saya kembali ke hotel, karena waktu sewa mobil pun hampir habis.

Setelah hujan reda sekitar pukul setengah 9 malam, saya langsung menuju Sriwedari dengan taksi. Menikmati makan malam bestik lidah dan wedang coklat super enak di Sumber Bestik sebelah stadion sesuai saran Aan.bestik lidah

Lalu saya bergegas berjalan memasuki Taman Sriwedari dan segera membeli tiket masuk Gedung Wayang Orang seharga Rp 3.000. Untunglah pertunjukan masih berlangsung hingga pukul 11 malam. Jadi juga saya menonton Wayang Orang Sriwedari yang legendaris. Kursi-kursi tampak penuh, tapi saya masih dapat tempat cukup nyaman di tengah. Seorang kakek yang duduk di sebelah saya terdengar ikut menyanyikan tembang-tembang yang dibawakan, dan sesekali menjelaskan lakon pada cucu laki-lakinya yang sibuk bertanya. Untuk pertunjukan yang diadakan setiap malam, wayang orang ini benar-benar di luar ekpektasi saya. Dari penampilan, kondisi gedung, hingga kostum semua tertata rapi dan berseni tinggi. Sejarah hidup yang mencerminkan seluruh kota Solo dengan budayanya yang terjaga.Wayang Orang SriwedariKawasan Ngarsopuro di malam hari

Day 3.

Ini adalah hari terakhir saya di Solo. Bangun pagi-pagi karena harus mengejar pesawat (yup, saya kehabisan tiket kereta) pukul setengah 3 sore, saya segera menuju Pasar Triwindu untuk membeli bros dan kembang goyang untuk ibu dan kakak saya. Maklum, perempuan 😀 setelah dipikir-pikir harganya jauh lebih murah daripada di Inacraft :D. Saya juga sempat mampir ke Toko Kurnia di ujung jalan untuk membeli CD gending dan tarian Jawa titipan kakak saya. Sempat ditanya penjualnya apakah saya penari, karena jarang ada anak muda yang membeli CD gending. Senang sekali karena ternyata CD-CD itu adalah produksi Lokananta. Kesampaian juga membeli produknya.bros dan kembang goyang Triwinducd & vcd gending & tarian

Saya lalu menuju Kampung Batik Laweyan. Untunglah, saya mendapatkan jarik motif Sido Asih untuk kado pernikahan teman kuliah saya. Juga kemeja batik dengan motif Tambal untuk Teddy, walau gagal mendapatkan jariknya. Selain itu saya juga membeli kemeja batik Manchester United titipan Ghanoz, dan dua kain batik motif kreasi untuk kedua kakak saya. Sayang saya tetap gagal mendapatkan motif Truntum dan Kawung untuk mereka.Kampung Batik Laweyan

Setelah check out dari hotel, dalam perjalanan ke bandara Adi Sumarmo, saya berpikir. Rasanya belum puas menjelajahi Solo. Masih banyak daftar tempat tujuan, kuliner, dan things-to-do saya yang belum terpenuhi. Tiba-tiba saya ingat saya akan ke Jogja untuk Perayaan Waisak di Borobudur bulan depan. Dengan impulsif saat itu juga saya memutuskan untuk kembali ke Solo pada tanggal 4 Mei. Ada yang tertarik bergabung? 😀Surakarta

Kembali ke Solo Trip to Solo #1

Baca artikel perjalanan ini di areamagz.com – Travel: Menghentikan Waktu di Solo

Informasi dan kalender kebudayaan Surakarta bisa dilihat di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 17, 2012 by in Travel and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: