perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Hari Buku Sedunia: Harga Sebentuk Ilmu dan Kreatifitas

Photo: Rumah Buku Kineruku Bandung

Photo: Rumah Buku Kineruku

Hari ini, 23 April, diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Di timeline twitter saya, banyak orang yang merayakannya dengan merekomendasikan buku-buku favorit atau sekedar berkicau menyelamati.

Saya sebenarnya suka sekali membaca. Menurut saya, ilmu bisa didapat dari mana saja, tidak hanya buku pelajaran. Bahkan dari kantong pembungkus makanan, saya kecil terbiasa melihat kandungan nutrisi atau sekedar membaca tulisan yang tertera, yang kemudian seringkali tanpa kita sadari menjadi acuan kita dalam berbahasa dan menulis. Sejak masuk Fakultas Kedokteran 7 tahun yang lalu, waktu saya membaca buku lain selain buku pelajaran banyak berkurang. Banyak buku-buku yang saya beli secara impulsif tapi belum sempat saya baca. Kebetulan saya adalah penikmat buku fisik dan bukan penggemar berat buku digital. Ada kepuasan yang berbeda ketika menyentuh kertas dan menikmati artwork dari sebuah buku, bahkan buku pelajaran.

Di Indonesia, tidak semua orang dapat menikmati buku. Jangankan buku digital, buku fisik pun tidak semua orang dapat menikmati. Jangankan buku bacaan, buku kosong untuk menulis pun tidak semua orang dapat menikmati, contohnya di Pulau Karimun di mana para pelajar terpaksa mencatat pelajaran di papan tulis kecil dengan kapur, kemudian menghapus tulisan dan mencatat pelajaran lain ketika jam pelajaran berganti (baca tulisan saya sebelumnya: Dari Karimun ke Bellagio).

Melihat timeline twitter hari ini, banyak yang dengan elegan menuliskan buku-buku ciamik impor sebagai buku favoritnya. Tidakkah kita sangat beruntung dapat menikmati buku-buku impor berkualitas? Buku impor tidaklah murah di Indonesia. Untuk gambaran, bila kita membeli buku dari situs luar negeri secara online, misalnya,ada batas sebesar 50 USD dari nilai barang kiriman. Jika melebihi batas tersebut, maka mendapat beban Pajak Pertambahan Nilai Impor sebesar 10%. Pajak lainnya adalah Pajak Penghasilan Pasal 22 sebesar 7.5%. Itu semua belum termasuk ongkos pengiriman (sumber: gacobooks). Saya tidak tahu berapa nominal pajak buku yang diimpor oleh toko buku, yang pasti harga buku impor di toko buku pun mahal sekali. Yang lucu, sering saya mendapati memesan buku dari situs internasional justru harga totalnya lebih murah dari membeli di toko buku. Begitu juga dengan buku-buku terjemahan. Salah satu buku Kedokteran saya, Atlas Anatomi Sobotta terjemahan Indonesia, saya beli pada tahun 2003, dengan harga 1,2 juta untuk 1 set yang terdiri dari 2 buku.

Jumlah yang tidak sedikit untuk kalangan menengah ke bawah yang menjadi sebagian besar penghuni tanah air.

Bagaimanapun, kecintaan membaca buku menurut saya adalah salah satu sumber ilmu terpenting. Selain buku-buku pelajaran dan nonfiksi, karya-karya seperti novel dan sastra juga adalah sebentuk kreatifitas yang sangat saya hargai. Namun dengan mahalnya harga buku di Indonesia, tidak berarti kreatifitas penulis dalam berkarya, menurut saya, cukup dihargai. Seorang kawan baik saya, Valiant Budi Yogi yang akrab dipanggil Vabyo (yang pada detik tulisan ini saya ketik saat ini sedang berada di depan saya), penulis novel kontroversial Kedai 1001 Mimpi dan beberapa judul lainnya, mengatakan bahwa royalti yang diterima penulis adalah 10% dari harga satu buku dikali jumlah buku yang terjual. Dari royalti tersebut, dipotong sekitar 15% untuk pajak penghasilan. Misalnya, harga satu buku adalah Rp. 45.000, terjual 1000 eksemplar. Maka royalti untuk penulis adalah Rp. 4.500 x 1000 = Rp. 4.500.000. Dari jumlah tersebut, masih dipotong pajak sekitar 15% bila penulis memiliki NPWP dan 30% bila tidak memiliki NPWP. Sementara, menulis satu buku yang bagus kerap membutuhkan berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Vabyo (photo by Desiyanti Wirabrata)

Vabyo (photo by Desiyanti Wirabrata)

Karya-karya ilustrasi, salah satu alasan yang membuat saya menyintai buku fisik, dihargai lebih rendah lagi. Rata-rata satu ilustrasi di dalam sebuah buku hanya dihargai Rp 20.000. Vabyo bercerita, ilustrasi cover salah satu novelnya hanya dihargai Rp. 600.000 oleh penerbitnya. Padahal yang membuat adalah seorang art director terkemuka. Akhirnya Vabyo memutuskan membayar sang ilustrator dari koceknya sendiri.

Begitulah kira-kira harga yang Anda bayarkan untuk sebentuk buku, di luar biaya produksi tentunya. Sekedar pendapat, di Hari Buku Sedunia ini, ketimbang memamerkan buku-buku sophisticated yang Anda baca di kicauan twitter, tidakkah lebih baik berbagi dengan sesama kita yang kurang beruntung tidak dapat menikmati lembaran sebuah buku? Kini sudah banyak gerakan yang dapat membantu Anda untuk menyumbang buku bagi anak-anak Indonesia bahkan hingga ke pelosok negeri yang tidak terjamah perhatian apalagi ilmu, contohnya @pelangibook. Sebuah buku Anda, dapat menyumbang ilmu dan pengetahuan bagi generasi penerus Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2012 by in Life, People and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: