perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Ibu Sari Hasan, Ibu Guru Tunanetra

Kemarin, setelah perjalanan Yogyakarta-Jakarta-Bandung, saya sampai rumah sekitar pukul 7 malam. Begitu buka pintu dan mengucap salam, terdengar ibu saya menjawab salam dari kamar depan. Langsung saya buka pintunya, wah, ada Ibu Sari! Tukang pijit langganan ibu saya sejak saya belum lahir. Ngobrolngobrol sebentar, saya ikut-ikutan minta dipijit. Pas sekali saya baru pulang dari perjalanan jauh. Setelah menunggu giliran dengan sabar setelah ibu dan kakak saya, akhirnya tiba giliran saya. Asyik!

Sebenarnya saya tidak terlalu suka dipijit, apalagi oleh ibu-ibu sterk seperti Bu Sari. Benar saja, tidak sampai 2 menit saya sudah mengaduh-aduh. Bu Sari malah tertawa-tawa. Tenaganya masih kuat saja setelah memijat ibu dan kakak saya, padahal. Akhirnya untuk mengalihkan perhatian saya dari rasa sakit, kami pun mengobrol. Baru saya sadar, sudah kenal begitu lama, saya tidak pernah berbicara banyak dengannya. “Neng kan waktu kecil suka ngamuk kalau Ibu mijit Mama, sampai harus ngumpetngumpet mijitnya,” katanya terkekeh. Mungkin karena itu juga saya jarang ngobrol dengannya, karena tengsin. Selain memang saya jarang sekali ikut dipijit olehnya.

Seingat saya, ibu saya pernah cerita Bu Sari itu seorang guru. Ternyata beliau sudah pensiun sejak 3 tahun yang lalu dari mengajar di SLB-A Padjadjaran, Bandung.

Bu Sari lahir di Majalengka 63 tahun yang lalu. Di usia 3 tahun, ia terkena cacar air dan mengalami demam tinggi, setelah itu kedua matanya menjadi buta. Oleh uwak (kakak dari ibu)-nya, ia dibawa ke Bandung dan disekolahkan di SLB-A Padjadjaran. Beliau kemudian tinggal di asramanya, Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, sejak kelas 1 SD. Bu Sari bersekolah dari TK hingga SMA di SLB-A Padjadjaran, lalu melanjutkan ke Sekolah Guru TK Citarum pada tahun 1967. Setelah lulus, ia sempat mengambil beberapa kursus selama satu tahun, seperti kursus keterampilan membuat keset, kursus musik hingga ia bisa bermain gitar, dan kursus pijat. Kemudian ia kuliah di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) selama 2 tahun.

Ketika duduk di tingkat 1 kuliah pada Desember 1971, ia beruntung dapat naik haji atas biaya dari Kerajaan Arab Saudi, berkat perjuangan Panti Wyata Guna. Awalnya, mereka meminta Kerajaan Arab membuat Al Qur’an dalam huruf Braille, namun awalnya ditolak, hingga akhirnya mereka meminta biaya untuk naik haji. Bu Sari bercerita, di Tanah Suci, ia berdoa meminta jodoh yang baik di dunia dan akhirat. Pada Juni 1972, ia melamar untuk bekerja paruh waktu di Panti Pijat Timung, dan diterima. Di sanalah ia bertemu dengan Pak Hasan yang kelak menjadi suaminya. “Pada waktu itu, Neng, mata Pak Hasan masih cukup awas, jadi selain mijit ia juga mengerjakan administrasi,” katanya. “Tapi waktu itu Pak Hasan malu karena saya haji, katanya.” Pada bulan Desember 1972 ia berhasil menamatkan kuliahnya. Ia lalu pindah dari Asrama Wyata Guna, tinggal di Timung bersama 5 orang lainnya termasuk Pak Hasan. Tapi, hubungannya tidak direstui pemilik panti. Ia merasa ‘diusir’ secara halus, dengan tidak diberi klien dan sebagainya. Akhirnya ia keluar dari Timung. Pak Hasan tidak lama kemudian ikut keluar. Mereka menikah pada bulan Juni 1973. Panti Pijat Timung tutup sekitar 2 tahun setelah mereka menikah.

Setelah menikah, hidup Bu Sari dan Pak Hasan sempat terluntang-lantung. 1 tahun keduanya menganggur, panggilan memijat jarang, ikatan dinas dari SGPLB tidak terurus, melamar ke salon-salon pun tidak diterima. Apalagi 2 bulan setelah menikah Bu Sari langsung hamil. Putra pertamanya, Iman, lahir pada tahun 1974. Ketika Iman berusia 1 bulan, atas saran salah satu klien Pak Hasan, Bu Sari pergi ke Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) di Jakarta demi mencari pekerjaan. Sayangnya, DNIKS hanya melayani untuk wilayah Jakarta. “Duh Neng, waktu itu Ibu udah mau nangis rasanya,” katanya. Akhirnya petugas DNIKS memberinya memo untuk dibawa ke Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Barat. Dari BK3S, ia akhirnya ditempatkan mengajar di sekolah masa kecilnya, SLB-A Padjadjaran. Ia ingat, honor pertamanya ketika itu 5000 rupiah per bulan.

Pada tahun 1981, Ibu Sari sempat terpilih untuk pergi ke Malaysia dalam rangka mengikuti Leadership Training Seminar for the Blind Women in Asia. Sepulangnya dari sana, namanya sempat masuk beberapa majalah dan koran karena kisahnya yang inspiratif.

Ketiga anak Bu Sari dan Pak Hasan mengenyam bangku kuliah. Iman adalah Sarjana Teknik lulusan Universitas Jenderal Ahmad Yani. Putri keduanya, Kurniati, sempat kuliah di Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Institut Pertanian Bogor, namun tidak selesai karena menikah. Putri ketiganya, Hikmah, adalah Sarjana Pendidikan lulusan Jurusan Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia.

“Ibu nggak nyangka, dari mijit ternyata dapat banyak banget lho, Neng. Bisa dapat koneksi hingga mampu mengirim adik dan keponakan ikut job training ke Jepang, Pak Hasan dan Bang Iman juga bisa naik haji karena mijat Gubernur, ketemu banyak orang, wah banyak sekali, deh. Selain kesejahteraan tentunya.”

Waktu saya utarakan niat saya menuliskan kisahnya di blog saya, Bu Sari dengan bersemangat berkata, “Wah, ayo-ayo Neng tulis! Biar laku mijitnya,” sambil semakin keras memijit saya. Aduuuuh, Bu Sari…

P.S.: Untuk yang menagih cerita Waisak Trip saya, sabar, ya… Ceritanya panjang. :p

Tulisan ini diajukan untuk berpartisipasi dalam Proyek #PeopleAroundUs karya @aMrazing pada September 2013

Iklan

5 comments on “Ibu Sari Hasan, Ibu Guru Tunanetra

  1. viraindohoy
    November 23, 2012

    terharu… terheru sutimbul…

  2. Galis Remina Babay
    November 27, 2013

    Dear, kisahnya sangat inspiratif. Saya Galis dari majalah Kartini. kami tertarik menulis kisah sukses ibu Sari. Bolehkah berbagi nomor kontak beliau atau alamatnya ke email saya: gallarea@gmail.com? terima kasih perhatiannya.

    • nindyalubis
      November 30, 2013

      Dear Mbak Galis, terima kasih sudah membaca. Email sudah saya kirimkan. Terima kasih.

  3. Budiono
    September 7, 2014

    Bagi siapa saja yang mengetaui nomor kontak ibuk sari saya mintak karna saya sangat terharu dan ingin kenal lebih dekat dengan beliau,ini no hp saya 082182826101

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 8, 2012 by in Life, People and tagged , , , .
%d blogger menyukai ini: