perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Waisak Trip (1): Kembali ke Solo dan Yogya

Perjalanan melihat prosesi Waisak di Candi Borobudur ini sudah direncanakan sejak bulan Desember tahun lalu. Setiap saya bilang akan pergi ke Yogya untuk melihat prosesi Waisak, semua orang menuduh saya terpengaruh film Arisan 2. Sejujurnya, sewaktu memesan tiket, saya belum menonton film itu. Memang, sih, jadi tambah bersemangat pergi setelah menonton. Mungkin lebih tepatnya, terpengaruh teman-teman, selain ketertarikan pribadi saya terhadap agama dan spiritualisme tentunya. Teman saya yang berencana berangkat banyak sekali, walaupun pada akhirnya yang batal pergi pun tidak sedikit. Muty, salah satu teman yang menyetani dan yang membantu membelikan tiket secara online pun awalnya hampir batal pergi. Karena itu saya memutuskan untuk kembali ke Solo selama satu malam. Ya, sendirian lagi. ๐Ÿ˜€

Day 1 (4/5/2012)

Saya, Muty, dan Lisa mendarat di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta setelah perjalanan dengan pesawat paling pagi dari Jakarta. Kami dijemput oleh Thomas, lalu langsung menuju Gudeg Bu Lies, Wijilan, untuk sarapan. Seingat saya, baru pertama kali ini saya makan gudeg basah asli di Yogyakarta. Rasanya? Wah, buat saya makanan hanya enak dan enak sekali. ๐Ÿ˜€ Jadi, gudeg ini saya kategorikan enak saja. Karena saya kurang cocok dengan citarasanya yang manis. Saya lebih suka gudeg kering. Yang menarik, Gudeg Bu Lies ini menjual gudeg kalengan yang tahan hingga 1 tahun. Cocok untuk oleh-oleh.

pose dulu sebelum pisah :D

pose dulu sebelum pisah ๐Ÿ˜€

Setelah sarapan saya berpamitan dengan Muty dan Lisa. Mereka akan tinggal 1 malam di Yogyakarta sebelum menghabiskan sisa liburan di Magelang. Saya diantar Thomas dengan taksi menuju Stasiun Tugu. Saya lalu membeli tiket Kereta Api Madiun Jaya non-ACย tujuanย Solo pukul 10.10 seharga Rp. 10.000. Tadinya saya berencana naik kereta Pramex, tapi menurut Thomas, Madiun Jaya lebih baik. Dan jamnya kebetulan pas dengan kedatangan saya yang go show ke stasiun (jadwal kereta Madiun Jaya: klik di sini).

Sesampainya di Stasiun Solo Balapan, saya langsung menuju Pasar Klewer. Tujuan saya, apalagi kalau bukan Tengkleng Klewer Ibu Edi, makanan khas Solo yang tidak sempat saya cicipi ketika pergi ke kota ini pertama kali. Tidak terlalu sulit mencari tengkleng ini. Lokasinya tepat di sebelah gapura Pasar Klewer. Ketika saya sampai warung belum buka, tapi sudah banyak orang duduk-duduk dan menunggu. Karena kondisi saya saat itu sedang tidak sehat dan udara panas sekali, saya mengurungkan niat berkeliling Pasar Klewer. Saya pun ikut duduk dan menunggu warung dibuka pukul 12.30. Ketika mbok-mbok penjual tengkleng datang, wah, warung langsung ramai, padahal sedang jam shalat Jumat. Pantas, konon tidak sampai sore tengkleng selalu habis.

khas Solo, menyendoki dengan tangan :9

khas Solo, menyendoki dengan tangan :9

Rasa tengklengnya sebenarnya enak sekali, tapi lain kali, saya tidak akan memesan lengkap dengan otak sapi. Selain saya tidak terlalu suka jeroan, mungkin lidah saya yang sedang sakit menolak.

Tengkleng Klewer

Selesai makan, saya langsung menuju tempat menginap saya, Cakra Homestayย (Jl. Cakra II no. 15) di daerah Kauman sesuai rekomendasi Aan. Losmen ini menempati bangunan kuno Solo yang unik menurut saya. Area losmen cukup besar, terdiri dari beberapa bangunan dengan detail kolonial Jawa dan terdapat kolam renang. Di salah satu bangunan tertinggi, terdapat area loteng terbuka dengan coffee table yang tampak nyaman untuk duduk-duduk santai di sore atau malam hari. Kamar-kamar yang disewakan terdiri dari kamar dengan AC dan non-AC, dengan kamar mandi di dalam atau di luar. Saya menempati kamar AC dengan kamar mandi dalam yang terletak di lantai 2 salah satu gedungnya, dengan harga Rp. 175.000. Tampaknya saya adalah satu-satunya tamu lokal saat itu. Begitu masuk kamar dan beres-beres sedikit (dan panik menghubungi Aan karena ketinggalan beberapa barang penting. Entah kenapa saya cukup ceroboh dalam perjalanan kali ini, mungkin karena sedang sakit), saya langsung tertidur. Perjalanan pesawat pagi dan perjalanan Yogya-Solo ternyata cukup menguras tenaga kalau sedang tidak sehat (yah, namanya juga sakit, kali, Nin…).

Setelah mengisi tenaga dengan tidur selama sekitar 1 jam, saya lalu bersiap mencari taksi. Dengan sangat baik hati, Pak Diman, penjaga losmen, menawarkan untuk mengantar saya dengan motor karena kebetulan searah dengan tujuannya. Saya turun di Rumah Batik Danar Hadi Jalan Slamet Riyadi. Tujuan saya bukan untuk belanja, tapi untuk menyambangi Museum Batik. Ketika masuk, saya disambut dengan sopan dan diberitahu bahwa proses produksi sudah berakhir, karena museum akan tutup pada pukul 17.00. Masih ada waktu sekitar 1 jam dan saya tidak keberatan, maka saya membeli tiket seharga Rp. 25.000 di kasir. Untuk saya yang memang mengoleksi batik, mengunjungi museum ini adalah wajib hukumnya. Menyenangkan sekali melihat dan mempelajari sejarah ratusan jenis batik dari seluruh Nusantara di sini, bahkan jenis-jenis yang telah punah. Sayang, interior dan koleksi museum ini tidak boleh difoto.

Dari Museum Batik, saya menuju daerah Ngarsopuro. Ketika pertama kali ke Solo, ada satu cafe yang membuat saya penasaran di ujung Jalan Diponegoro dengan nuansa Jawa-nya yang kental. Ternyata itu adalah Omah Sinten Heritage Hotel & Restaurant. Untuk tempat senyaman itu, dan mungkin dibandingkan dengan di Jakarta, harga makanan dan minuman di sini ternyata relatif murah. Satu cangkir kopi dihargai Rp. 15.000 rupiah.

Ketika sedang duduk-duduk di Omah Sinten inilah saya mengetahui tentang kerusuhan ormas yang terjadi di daerah Pasar Gede dari Ney yang sudah mendarat di Yogya. Tapi situasi di Ngarsopuro aman-aman saja, tuh. Menjelang malam, Aan datang menyusul. Kami ngobrol hingga lupa waktu. Ditanya mau makan apa, saya betul-betul sedang tidak nafsu (damn flu!!!). Akhirnya sekitar pukul 9 malam, kami bergerak ke losmen untuk mengambil bahan pelajaran (maklum, saat itu kami akan menghadapi Ujian Kompetensi Dokter Indonesia, haha) dan menaruh beberapa barang pinjaman dari Aan (maaf ya, Mas… T_T).

Setelah itu kami menuju Taman Sriwedari atas permintaan saya, yang ingin melihat Pusat Rekreasi-nya yang menyerupai pasar malam, buka setiap malam. Sayang kami terlambat, datang pukul 10 malam ketika permainan-permainan sudah ditutup. Masuk pun gratis karena sudah mau tutup pukul 11 malam. Hanya saja tempat itu masih ramai karena sedang ada pertunjukan dangdut. Setelah kami lihat, ternyata kebanyakan permainan seperti carousel dan monorail hanya diperuntukan bagi anak-anak dengan tinggi badan maksimal 120 cm (untunglah, jadi saya nggak nyesel-nyesel amat, hehehe). Orang dewasa masih bisa menikmati permainan seperti bombom car, rumah hantu, dan lempar gelang. Lucu sekali. ๐Ÿ˜€

Setelah Pusat Rekreasi benar-benar tutup, kami melipir ke pertunjukan Keroncong Joglo yang sedang diadakan juga malam itu di Taman Sriwedari. Nonton keroncong sambil minum wedang ronde, menyenangkan. ๐Ÿ˜€ Aan sempat membisikkan saya, menerjemahkan percakapan orang-orang di sekitar kami dalam bahasa Jawa tentang kerusuhan sore tadi. Tampaknya hal itu membuat warga Solo sedih. Setelah itu, hidung meler dan wajah pucat pasi saya sukses membuat Aan menyeret saya pulang ke losmen. ๐Ÿ˜ฆ

Day 2 (5/5/2012)

Pagi ini saya bangun cukup siang karena pengaruh obat yang saya minum. Aan datang menjemput, lalu kami pergi makan Rawon Penjara Bu Har yang terletak persis di sebelah tembok Rumah Tahanan Surakarta. Walau nama dan lokasinya terdengar cukup seram di telinga, sepertinya itu adalah rawon terenak yang pernah saya makan. ๐Ÿ˜€

Aan mengantar saya ke Stasiun Solo Balapan. Saya langsung membeli tiket KA Madiun Jaya AC tujuan Yogyakarta seharga Rp. 20.000. Saya yang masuk kereta 1 jam lebih awal sempat tertidur di kursi. Saya dibangunkan petugas ketika kereta sudah jalan, dan menyadari bahwa kereta penuh sekali. Saya lalu diminta pindah ke kursi bernomor sesuai yang tertera di karcis. Banyak orang tampak berdiri dan duduk di lantai kereta. Menurut seorang ibu yang duduk di depan saya, tiket kereta tanpa nomor tempat duduk tetap dijual walau kursi telah habis dengan harga lebih murah, atau “harga berdiri”. Mungkin karena hari Sabtu, saat itu kereta penuh sesak sampai-sampai AC pun tak terasa.

Sesampainya di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya menuju Eduhostelย di daerah Ngampilan untuk check in. Teman saya yang menginap bersama saya, Teppy, sudah check ini lebih dulu karena sampai Yogyakarta dini hari dengan kereta dari Jakarta. Hostel baru ini nyaman sekali. Konsep hostel memang belum terlalu lazim di Indonesia. Hostel ini pun “di-Indonesia-kan”, dengan male dan female dorms terpisah dan kamar mandi di masing-masing kamar. Untuk harga Rp. 70.000 seorang, prospek hostel ini tampaknya menjanjikan. Lokasinya pun dekat dengan tengah kota.

Setelah check in, saya bergegas menyusul Teppy, Ney, Adit, dan Kiki yang asli Yogya ke Mirota Batik di Malioboro. Saya sempat membeli buku Pedoman Bahasa Jawa di sini.

Setelah itu saya, Teppy, Ney, dan Kiki naik delman menuju Kamikoti Cafe di Alun-alun Kidul. Sesampainya di sana hujan turun deras. Untung tempatnya pas untuk melewati sore bersama hujan. ๐Ÿ˜€

Setelah hujan reda, saya, Teppy, dan Kiki berjalan ke Alun-alun Kidul. Merasakan malam Minggu di sini harus dicoba. Banyak sepeda hias penuh lampu warna-warni disewakan berkeliling lapangan alun-alun, mirip pawai. Juga dapat mencoba tradisi Masangin, yaitu berjalan melewati dua pohon beringin di tengah lapangan dengan kedua mata tertutup kain. Konon, orang yang berhasil melewatinya dengan berjalan lurus maka hidupnya pun akan lurus dan keinginannya terkabul. Namun kami tidak mencobanya karena tanah lapangan becek sehabis hujan.

Saya dan Teppy lalu pulang ke hostel karena Teppy ingin mandi sebelum pergi ke rumah temannya. Di hostel, kami bertemu dengan Windy, Arni, Willy, dan Catur, teman perjalanan kami ke Prosesi Waisak keesokan harinya yang kami kenal dari Pepi, teman kami yang batal berangkat. Juga 2 orang turis Belanda teman sekamar kami bersama Windy dan Arni.

Setelah istirahat sebentar, saya memutuskan untuk menyusul Adit dan teman-temannya ke Via Via Cafe di daerah Prawirotaman. Cafe di area mirip Legian, Bali ini dipadati turis bule. Sedang ada acara South Africa Groove Movement malam itu. Kabarnya memang sering diadakan acara di sana. Sesuai pangsa pasarnya yaitu wisatawan asing, jenis dan harga makanan di tempat ini cukup tinggi.

Baca posting selanjutnya: Waisak Trip (2): Antara Metta, Karuna, dan Maling Handphone

Baca Solo Trip to Solo #1

Baca Solo Trip to Solo #2

Iklan

2 comments on “Waisak Trip (1): Kembali ke Solo dan Yogya

  1. Vira
    Mei 25, 2012

    waaa kamu ternyata ngeblog jugaaa ๐Ÿ˜€
    Haha.. gue juga suka dikira Waisakan karena Arisan2, padahal sampe sekarang belum nonton filmnya ๐Ÿ˜›

    • nindyalubis
      Mei 25, 2012

      Iyaa ๐Ÿ˜€ padahal kenyataannya gak “jalan-jalan cantik” kayak di film ya. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 24, 2012 by in Travel and tagged , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: