perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Waisak Trip (2): Antara Metta, Karuna, dan Maling Handphone

Day 3 (6/5/2012)

Pagi ini saya bangun pukul 04.30 pagi. Hanya Teppy yang terbangun ketika alarm handphone saya berbunyi, lalu saya memutuskan untuk pertama mandi. Malamnya saya pulang cukup larut, dan sempat terbangun ketika Arnie dan Windy pulang sekitar pukul 01.00. Kami sedianya berangkat pukul 06.00, karena sebelum berangkat saya research dan mendengar bahwa jalanan menuju Candi Mendut di Hari Waisak macet sekali. Untung kedua turis Belanda teman sekamar kami juga memiliki tujuan yang sama hari ini, sehingga saya tidak terlalu merasa bersalah grasak-grusuk di pagi buta.

Namun seperti yang dapat diduga, jadwal berangkat kami molor hingga pukul 07.00. Saya, Teppy, Arnie, Willy, dan Catur berkumpul di lobby dan mengurus ini-itu sebelum berangkat. Kami berangkat dengan dua mobil, mobil Catur dan satu mobil sewaan. Di tengah jalan ketika mengisi bensin, Arnie yang menumpang mobil Catur sempat turun dan bertanya apakah kami akan sarapan dulu. Saya yang senewen bilang tidak akan ada waktu.

Benar saja, sampai di persimpangan jalan menuju candi, jalan sudah ditutup polisi. Macet, alasannya. Kami disuruh memutar mengambil jalan lain hingga ke Magelang. Waduh. Akhirnya, entah ide dari siapa, kami tetap masuk jalan itu dengan alasan akan berputar balik. Lalu, woosshh… Willy buru-buru ngebut. Jangan ditiru, ya… Anehnya, jalan itu tidak macet sama sekali. Walaupun sesampainya di Candi Mendut sudah dipadati oleh bus-bus dan orang-orang dari masing-masing majelis umat Buddha yang akan mengikuti prosesi.

Di dalam, karena suasana ramai sekali, kami terpencar. Kami sempat bertemu Adit. Saya dan Teppy beruntung mendapat tempat duduk di tengah-tengah bersama umat, tepat di depan patung Buddha. Kami mengikuti prosesi dan ikut mendengar khotbah dan meditasi. Kami juga sempat mengambil air paritta dan membeli lilin untuk mengikuti ritual Pradaksina di Candi Borobudur malam nanti. Waisak tahun ini mengangkat tema Metta dan Karuna atau cinta dan welas asih. Yang saya ingat, khotbah saat itu sempat membuat saya sedikit tercekat, tentang kehilangan dan kepemilikan. Bahwa ketika kita merasa terlalu lekat dengan sesuatu, kita akan kehilangan sebagian diri ketika kehilangannya (jleb!).

Detik-detik Waisak berlalu pukul 10.34 WIB. Sekitar setengah jam setelah itu umat bubar, bersiap untuk ritual arak-arakan membawa air suci dan api abadi menuju Candi Borobudur. Saat itu suasana ramai dan berdesak-desakan, dengan ribuan umat yang memadati lingkungan Candi Mendut yang tidak seberapa luas. Saya dan Teppy sempat bertemu Stella, dan saya, iseng seperti biasa, juga sempat mengambil bunga sedap malam yang tersedia.

Setelah berkumpul dengan Willy, Arnie, dan Windy di luar, kami memutuskan untuk melewati prosesi arak-arakan, menunggu di Candi Borobudur karena saat itu cuaca terik dan panas sekali. Catur meninggalkan mobilnya di Mendut dan kami bersama-sama pergi dengan satu mobil. Di tengah jalan menuju Candi Borobudur, saya membereskan ransel saya, dan astaga… Saya baru melihat kantong kiri ransel saya terbuka lebar. Isinya, kedua handphone saya, tidak ada lagi di tempatnya. Sesaat saya terdiam, lalu heboh mengeluarkan semua barang di ransel. Seisi mobil ikut heboh mencari. Tidak ada. Ketika ditelepon, Blackberry saya sudah mati, sementara iPhone 4S tidak terdengar deringnya dan tidak ada yang mengangkat. Saya lemas seketika.

Berbagai ide sempat terpikir. Saya ingin kembali ke Mendut untuk mencari, tapi tidak mungkin sendirian karena saya tidak dapat menghubungi siapapun tanpa handphone. Mengajak teman-teman baru saya pun tidak mungkin, karena macet, repot, dan sebagainya. Saya sempat menghubungi teman saya di Bandung, Reza, dan memintanya melacak keberadaan iPhone saya menggunakan aplikasi Find My iPhone. Ketemu! Handphone saya tampak di GPS sedang “berjalan” di Jalan Raya Magelang menuju Yogyakarta. Lalu, saya bisa apa? Mengajak teman-teman baru saya ikut mengejar? Mereka semua berada di situ bersama saya, datang dari jauh untuk berlibur dan menikmati prosesi Waisak, bukan untuk bermain detektif-detektifan.

Setelah makan siang di Candi Borobudur yang sama sekali tidak bisa saya nikmati, kami terkurung di mobil karena hujan lebat. Untung juga kami memutuskan tidak ikut prosesi arak-arakan, tidak terbayang bagaimana suasananya ketika hujan turun. Hujan pun turun berjam-jam. Di mobil, tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya hanya bisa diam. Bercanda pun setengah hati. Saya baru saja kehilangan dua handphone, salah satunya belum 3 bulan menjadi milik saya dengan foto-foto dan catatan-catatan pekerjaan saya di dalamnya. Juga sedang sakit dan kurang tidur. Perasaan saya campur-aduk. Hanya Teppy yang saya kenal baik di dalam mobil itu. Saya sempat terpikir kalau saja saya sedang bersama teman-teman saya dan bukan orang-orang baru yang belum saya kenal. Mungkin saya akan merasa lebih baik dan mungkin bahkan teman-teman saya tanpa sungkan akan membantu. Saya sudah sering pergi travelling, sering ikut trip bersama orang-orang baru. Namun saya jarang pergi bersama teman-teman dekat saya ataupun keluarga saya sendiri. Apa yang saya cari?

Akhirnya kami semua pun tertidur dalam mobil. Ketika bangun, hujan belum juga berkurang lebatnya, namun saya merasa sedikit lebih baik. Untung teman-teman baru saya membawa cemilan yang lumayan banyak, satu hal yang tidak akan saya lakukan bila pergi sendirian. Baru saat itulah, kami semua benar-benar mengobrol setelah kenal. Saya baru mengetahui bahwa Willy dan Arni juga kuliah di Bandung seperti saya, dan mengenal beberapa teman lama saya. Juga bahwa Catur tinggal di Solo. Sempat mendengar cerita cinta Windy yang tidak terlalu beruntung mirip dengan yang pernah saya alami, hahaha. Ketika berjam-jam terkurung bersama orang-orang yang baru dikenal, tidak ada yang dapat dilakukan selain membuat suasana menjadi menyenangkan, dan itulah yang sukses dilakukan teman-teman baru saya. Ya, inilah yang selalu saya cari dalam travelling. Dalam keadaan apapun, selalu ada pelajaran yang dapat diambil, kali ini keteledoran saya sampai kehilangan handphone, dan suasana hangat pertemanan baru. 😀

Menjelang Maghrib, kami melihat beberapa biksu dan umat dengan kaos seragam berseliweran di sekitar tempat kami parkir. Hujan masih turun gerimis, namun kami memutuskan untuk turun. Jalan masuk Candi sudah ditutup, dan kami disuruh berputar jauh masuk melalui Pintu 7 dari luar kawasan candi.

Setelah berjalan kaki menanjak dan berputar cukup jauh, akhirnya kami sampai di depan Candi Borobudur yang sudah didekorasi sangat cantik dengan patung Buddha raksasa dan bunga-bungaan. Keberadaan para biksu di depan patung Sang Buddha menambah khidmat suasana. Umat sudah tidak seramai ketika di Candi Mendut paginya, mungkin karena hujan.

Acara meditasi dimulai. Saya duduk bersama yang lain di depan candi, untungnya masih dapat kursi di pinggir. Karpet yang digelar basah kuyup karena hujan. Saya sempat mendengar biksu memberikan instruksi ketika meditasi, memohon semua menyatukan pikiran agar hujan dipindahkan dahulu demi kelancaran prosesi. Dan tidak sampai setengah jam, hujan benar-benar berhenti dan tidak kembali lagi.

Semakin malam, udara di Candi Borobudur semakin dingin. Saya lupa dengan kenyataan bahwa letak candi yang berada di pegunungan akan menjadikan udara sangat dingin di malam hari. Saat itu saya memakai baju terusan panjang tipis (berwarna putih karena konon dresscode-nya begitu, walau kenyataannya banyak yang memakai baju berwarna-warni), tidak bawa jaket atau baju hangat sama sekali, hanya siap untuk cuaca panas. Setelah melewati cuaca dingin dinihari, panas terik di siang hari, hujan lebat sorenya, berlanjut dingin menusuk di malam hari, tubuh saya yang sedang tidak fit pun tumbang. Saya mulai demam dan kepala saya sakit sekali. Saya biasanya tidak pernah bilang ketika sakit, tapi saat itu saya memberitahu Teppy, Catur, dan juga Ney yang kemudian muncul karena saat itu hanya mereka yang berada di sekitar saya. Saya takut jatuh pingsan. Catur menawarkan mengantar saya kembali ke mobil, tapi Teppy dan saya tidak setuju karena tempat parkir mobil kami jauh sekali. Bisa-bisa saya jatuh terkapar sebelum sampai mobil. Ney sempat menawarkan memanggil tim medis, tapi saya sejujurnya masih ingin mengikuti prosesi hingga Pradaksina dan pelepasan lampion. Saya sudah begitu jauh datang dan kemalingan handphone segala. Akhirnya saya memejamkan mata dan menunduk di kursi. Sayup-sayup saya mendengar biksu mengucap mantra-mantra dan memandu meditasi. Tidak mampu melakukan hal lain bahkan berbicara, saya mulai mengikuti meditasi dalam diam. Atur nafas dan mengikuti mantra. Sekitar 10 menit kemudian saya membuka mata. Ajaib, sakit kepala saya sudah berkurang banyak sekali dan demam saya hilang. 😀

Sekitar pukul 10 malam, mundur satu jam dari yang terjadwalkan, ritual Pradaksina dimulai. Ini adalah ritual mengelilingi candi sebanyak tiga kali sebagai bentuk penghormatan. Saya dan Teppy bergabung bersama rombongan dengan membawa lilin menyala yang kami beli di Candi Mendut paginya. Suasana terasa syahdu dengan diputarnya lagu mantra mengiringi ritual. Di akhir ritual Pradaksina, lilin-lilin diletakkan di suatu tempat khusus yang sudah disediakan. Tampak lilin berbagai ukuran dengan nama pembawa dan keluarganya tertera. Lilin adalah simbol pelita doa.

Selesai acara Pradaksina, dimulailah ritual yang paling ditunggu oleh semua orang: acara pelepasan lampion. Tahun ini ada 1200 lampion diterbangkan, lebih banyak dari tahun lalu yang ‘hanya’ 1000 buah. Satu persatu, lampion terbang perlahan, melewati puncak stupa Borobudur yang terang-benderang, menuju pulan purnama sempurna yang pada saat itu sedang dalam fase Supermoon. Lampion adalah simbol doa, juga simbol melepaskan hal-hal buruk dalam diri. Suasana terasa damai. Seperti semboyan Waisak tahun ini, semoga kebahagiaan menyelimuti seluruh makhluk di muka bumi. Juga bagi maling handphone saya, seorang penghuni bumi entah siapa. Walau terdengar klise, mungkin itulah rezekinya di hari Waisak ini. Sementara bagi saya, inilah Metta dan Karuna yang berhasil saya dapatkan hari ini. 🙂 Kami patungan membeli satu buah lampion seharga Rp. 100.000, lalu menerbangkannya bersama. Ketika lampion kami terbang perlahan, saya nyeletuk sambil melambaikan tangan, “Daag, handphone…” Teman-teman di belakang saya pun tertawa cekikikan.


P.S.: Keesokan malamnya, sesampainya di rumah setelah perjalanan Yogyakarta-Jakarta-Bandung, saya baru menyadari munculnya bercak-bercak merah di punggung dan lengan saya. Ternyata, sepanjang perjalanan saya kali ini, saya bukan sakit demam flu, melainkan sedang dalam masa prodromal campak. Hahaha… (-_-“)

Foto-foto di halaman ini oleh: Willian Hengky

Video dari YouTube oleh: Raditya Adi Nugraha

Kembali ke Waisak Trip (1): Kembali ke Solo dan Yogya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 24, 2012 by in Life, Travel and tagged , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: