perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Kapan Nyusul?

Beberapa minggu lalu, setelah dinyatakan lulus sebagai dokter, saya mendapat pesan singkat dari seorang teman se-geng saya di kampus.

“Nin, besok Dessi akan lamaran di hari yang sama dengan Nyomen. Jadi kapan lo nyusul? Kan menurut prediksi anak-anak, lo yang ketiga dari kita semua.”

Maksudnya yang ketiga di sini, apa lagi kalau bukan urutan menikah. Omongan yang saya anggap lalu belaka, tapi tampaknya tidak untuk Shasya, karena setelah itu dia terus memberondong saya dengan pertanyaan yang sama. Sekedar info, teman-teman saya ini adalah angkatan 2006, rata-rata berusia 2-3 tahun di bawah saya. Tahun ini, tepatnya bulan-bulan ini, banyak dari teman-teman kami seperti berlomba-lomba menikah. Dapat dimaklumi, karena profesi kami menuntut kami untuk membuat planning yang jelas, apalagi dengan adanya penempatan kerja, rencana melanjutkan sekolah, dan lain sebagainya. Urusan pernikahan pun akhirnya diselip-selipkan di sela rencana-rencana besar itu.

Lama-lama saya menangkap kejanggalan dalam cara bicara Shasya yang terus membombardir saya. Dengan enteng saya katakan padanya, “Sya, gue ngerti kalau lo mulai panik karena orang-orang dekat di sekitar lo tiba-tiba menikah apalagi dalam waktu bersamaan, sementara lo belum punya pacar. Tenang aja, lagi.”

Tampaknya kata-kata saya cukup tepat sasaran, karena setelah itu Shasya bertanya bagaimana saya bisa tahu. Maka saya ceritakan padanya.

Bertahun-tahun sebelum ini, saya sudah pernah merasakan fase yang sama dengan yang dialaminya sekarang. Dulu, saya berpacaran dengan seorang laki-laki yang berusia 5 tahun lebih tua dari saya selama beberapa tahun. Otomatis, teman-teman sepermainannya menjadi teman-teman saya juga. Saya yang ketika itu berusia 22 tahun bergaul dengan orang-orang yang berusia 4-5 tahun lebih tua dari saya.

Dalam kurun waktu itu, sesuai usia mereka, teman-teman kami itu satu persatu lamaran, lalu menikah dalam waktu yang berdekatan satu sama lain. Beberapa di antara mereka tidak lama berpacaran, hanya dalam hitungan bulan, lalu memutuskan menikah. Pada waktu itu lah saya mulai merasakan frustasi. Betapa tidak, saya dan pacar saya itu berbeda agama. Melihat orang-orang di sekitar saya satu persatu menikah, walau kami jauh lebih lama berpacaran dibanding mereka. Mendengar para perempuan heboh membicarakan pakaian, undangan, wedding singer, honeymoon, dan segala tetek bengek acara pernikahan lainnya sementara saya diam tidak paham, bahkan kadang meminta pendapat saya. Jujur cukup menyakitkan. Apalagi saya terlalu gengsi untuk tidak tampak tersenyum dan tidak peduli. Mau marah pada pacar saya tentu tidak mungkin, karena dia bukan tidak mau menikahi saya, tetapi tidak bisa.

Maka satu persatu, kami datangi pesta-pesta pernikahan meriah itu. Selalu berusaha untuk tidak bosan dengan senyum sendiri ketika ditanya, “Kapan menyusul?”

Selesai pesta-pesta dan kisah-kisah perjalanan honeymoon yang bombastis, saya dihadapkan pada satu fase berikutnya dalam geng teman-teman sepermainan saya. Satu persatu para wanita mulai mengandung, bahkan sempat 4 orang dari mereka hamil dalam waktu bersamaan. Pembicaraan di sekitar saya berganti menjadi seputar kehamilan dan bayi, dan tak urung saya jadi sering ditanya-tanya soal kedua hal itu karena jurusan kuliah saya. Saya pun mulai merasakan perubahan dalam pola hidup mereka. Di kala saya dan pacar saya masih sibuk hura-hura, party sana-sini dan travelling ke sana kemari, tampaknya mereka mulai anteng terutama para perempuannya, walau kebanyakan para lelakinya tidak mengalami perubahan secepat itu.

Lalu, bermunculanlah para bayi-bayi mungil. Saat-saat berkumpul, sedikit demi sedikit, mulai terasa sepi. Ada saja yang tidak bisa datang karena harus mengurus anak. Kalaupun berkumpul, suasana kini berubah sama sekali. Acara dimulai lebih awal dan berakhir lebih sore, sambil kadang dipenuhi suara tawa dan tangis bayi. Selain itu, acara minum bir, clubbing, dan semacamnya menjadi semakin jarang.

Saat itu, rasa kehilangan teman memang ada. Tapi di sisi lain, saya harus mengakui bahwa saya, yang ketika itu berusia sekitar 24-25 tahun, merasa bersyukur bahwa saya belum menikah. Apalagi saya mulai menyaksikan apa yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya: kehidupan nyata pernikahan. Di depan mata saya. Saya melihat kerepotan teman-teman saya mengatur waktu dan keuangan. Juga kerap menjadi tempat curhat para pasangan yang berantem atau berkeluh-kesah tentang mertua. Ketika berpacaran, tidak ada hukum yang mengikat. Masing-masing tetap bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Namun setelah menikah, tidak saja segala rasa kesal dan jengkel yang mungkin timbul harus ditelan sendiri karena terikat seumur hidup, tapi urusan juga melebar pada keluarga dan lain sebagainya.

Setelah itu, di tengah-tengah rentetan pernikahan teman, kehamilan, dan kelahiran-kelahiran bayi, saya putus dengan pacar saya. Jujur, saat itu, apalagi pada masa-masa awal, rasanya berat sekali. Dalam keadaan hancur kami masih tetap harus mendatangi acara-acara dan tetap membentuk senyum yang sama ketika ditanya, “Kapan menyusul?”

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru: menjomblo. Namun di masa-masa patah hati itu, saya justru mulai menemukan hal-hal baru. Ketika tidak lagi terikat suatu komitmen romantis, kebebasan bisa dipastikan bertambah. Saya bisa memfokuskan diri pada pekerjaan magang di rumah sakit, pergi ke tempat-tempat baru, melakukan kegiatan-kegiatan baru, juga mendapatkan pekerjaan-pekerjaan sampingan yang sangat saya sukai. Tapi satu hal yang tidak terelakkan adalah waktu saya bersama teman-teman yang sudah menikah menjadi semakin sempit. Misalnya, mereka hanya memiliki waktu bertemu di sore hari ketika anak-anaknya sedang tidur siang, sementara saya hanya punya waktu di malam hari ketika semua kegiatan saya sudah usai.

Semalam, saya mengobrol via telepon dengan sahabat perempuan saya sejak kecil selama berjam-jam. Kami biasa begitu karena kini waktu bertemu memang sudah jarang. Sahabat saya, Ina, adalah seorang psikolog dengan satu orang anak berusia 1,5 tahun. Hebatnya, ia tidak pernah satu kali pun memprotes saya yang kini jarang sekali punya waktu untuknya. Kami berdua sama-sama mengerti dunia kami tidak lagi sama. Pembicaraan yang ia mulai lebih sering tentang anaknya atau anak teman-teman kami. Sebaliknya ia pun akan penuh perhatian mendengarkan bila saya mulai bercerita tentang rencana akademis, pekerjaan, ataupun perjalanan-perjalanan saya. Jujur, bila mendengar ceritanya, saya tidak yakin saya sudah sanggup menjalani apa yang ia jalani, ataupun meninggalkan apa yang sedang saya jalani. Saya semakin kagum dengan orang-orang yang berhasil mempertahankan pernikahan sampai mati.

Di satu titik, kami mulai membicarakan tentang kehidupan pernikahan. Kami sepakat, bahwa kehidupan pernikahan adalah satu kehidupan yang mungkin paling real yang dapat dialami semua orang. Marriage is not about the wedding. Di balik manisnya potret suatu kehidupan pernikahan, ada hal-hal berat yang perlu ditanggung selamanya seumur hidup segera setelah segala tetek-bengek resepsi dan honeymoon usai. Pernikahan bukanlah soal usia, walaupun sedikit banyak ada juga pengaruhnya, namun betul-betul soal kesiapan diri, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan.

Maka, bila ditanya lagi (dan lagi) dengan pertanyaan yang sama, “Kapan menyusul?” saya masih akan menjawab dengan senyum yang sama. Namun kini, walau terdengar klise, saya akan menambahkan, “Kalau sudah siap…”

Dedicated to all my married, soon-to-be married, and viva-la-jomblo besties, you guys are amazing. Wish you all a happy ever after!

Iklan

11 comments on “Kapan Nyusul?

  1. Nin.. speechless.. Tapi aku ingin menulis sesuatu untukmu..
    Kata2 kamu, “Marriage is not about the wedding” amat sangat terpatri di kepalaku ketika aku mendengarnya pertama kali..ketika itu kita sedang membahas hal serupa di sebuah tempat makan tak jauh dari RS.. Yup, it’s definitely right.. Apa yg bakal aku hadapi di depan nanti aku pun tak tau dan tak begitu paham.. tapi tak ada kata untuk mundur dari semua yg sudah terjadi. semua begitu cepat untuk aku.. bahkan sangat cepat.. saat aku merasa tak memiliki bekal yg cukuo untuk itu. Tapi satu hal, keyakinan..bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.. mau suka atau tidak kita menerimanya..
    Ada quote yg bagus bgt, nin.. “Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil..namun berikan penghapusnya pada Allah, karna Dia yang akan menghapus bagian yang salah dan menggantinya dengan yang terbaik untukmu”.
    Terlepas dari itu semua, terima kasih aku telah dipertemukan denganmu oleh-Nya.. pribadi yang menarik dan berbeda.. semoga Dia selalu memberikan kebahagiaan untukmu dimanapun kamu berada.. Love you.

    • nindyalubis
      Juni 6, 2012

      Ihiiy! Amiin! Maacih darling, congrats again for the engagement ya. May happiness follows. šŸ˜€

  2. Tengkyuuww.. Amiiin.. šŸ˜‰

  3. HNN
    Juni 6, 2012

    Lahir, jodoh, mati adalah rahasia Tuhan.. Jadi kl ditanya kapan kawin, kapan nyusul.. Tanya balik aja, “Kapan mati?” *smbl mlengos | hahahaha jgn dipraktekkin yaaa…

  4. Ina
    Juni 6, 2012

    Huhahhahahhahahha… Jd kapan mati???? *loh*
    Dear sahabat kecilku tersayang,
    I’m so proud of u after ALL u’ve been through… Lo semakin menjadi org yg lebih baik dan dengan smua tulisan2 lo ini akan buat lo makin sukses..
    Walopun kita ud gk pernah ketemu dan ud d alam yg sama.. Jgn bosen2 update gw gosip dan kbr2 terbaru yaa… HAAHAAHAAA…
    Lo tau hrs cari gw kmana saat lo butuh begitupun gw akan selalu neror lo buat sekedar ngopi dan ngomongin yg gk penting, but that is one thing that keep me balance in this crazy married life dan gk jd GILLLAAAAA !!!!!!! Hehehehe….

    Love u, always have n always do..

    • nindyalubis
      Juni 7, 2012

      Aaakk bebeb kamu bacaaa :”)
      Teror aku!!! Hahahahahaaa..
      Love you too always bebeb :*

  5. dharma asthi
    Juni 7, 2012

    Kapan nyusul? Udh Cepetan nikah aj nunggu apa lg? Classic.. Pertanyaan yg plg sering sy terima smpk utk ngejawabnya jg udh diluar kepala ato terkadang pas mood lg abu2 sy cm ngejawab sekedarnya tahun depan šŸ™‚ Bukanya ngga pengen cepet2 nikah, (apalagi sy termasuk ngga bermasalah dlm hal ‘ngejalanin hubungan yg stabil n serius with my former or present bf ) sy setuju dgn statement marriage is not about the wedding, dibutuhkan lebih kpd kesiapan mental,spiiritual n financial utk ngejalani kehidupan pernikahan yg dipastikan jauh lbh complex dr pacaran trust me I knew.
    Anyway I do believe ,we don’t need to rush. If something bound to happen it will happen, in the right time,with the right person, for the best reason. Jd sepertinya sy terinpirasi jeng nindya utk mulai menjawab ‘kl sy sdh siap’ apabila pertanyaan clasic itu muncul lg, and always hoping for the best *finger cross*

    I dedicated this to all unmarried women out there ‘just listen to your hearth*

  6. muhammadghazali
    Juni 21, 2012

    Nin,
    mantap curhatannya, semangat nin šŸ˜€
    Jangan terlalu menghiraukan pertanyaan kapan menikah, anggap saja itu sebagai pengingat.
    Sebagai lelaki kadang-kadang saya juga selalu ditanyakan dengan pertanyaan serupa seperti “Kapan nyusul?”. Pertanyaan berikutnya yang muncul di hati saya adalah “Kapan saya siap?”
    Karena pertanyaan itu yang sering muncul dari dalam hati saya, bukan dari orang lain.
    Jadi, tidak perlu terlalu khawatir dengan pertanyaan “Kapan nyusul?” dan semacamnya. Anggap saja itu sebagai pengingat bahwa ada hidup selanjutnya yang harus siap untuk dijalani.

  7. Anglicious
    Mei 30, 2014

    Ini tulisan tentang pernikahan paling bagus, speechless, gak bisa komentar banyak.
    bukan soal kehidupan pernikahan yang bikin ketakutan, tp kehidupan “ditinggal” sahabat yang duluan menikah yang menurutku agak menakutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 6, 2012 by in Life.
%d blogger menyukai ini: