perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (1)

Bulan lalu, tepatnya tanggal 18-21 Mei 2012, saya kembali ke Jawa Tengah. Kali ini bersama kakak saya Nanda, Vabyo, dan teman Nanda, Allen. Perjalanan ini direncanakan untuk merayakan ulangtahun Nanda yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Sebenarnya perjalanan ke Karimun Jawa lewat Semarang ini sudah lama mereka rencanakan, dan seharusnya seorang teman Nanda, Rini, ikut dalam perjalanan ini. Seminggu sebelum berangkat, Rini batal ikut serta, karena itu saya sebagai ‘pemain cadangan’ menggantikan tempatnya.

Day 1 (18/5/2012)

Kami tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang sekitar pukul 14.30 siang. Setibanya di Semarang, kami segera check-in di Hotel Ibis Semarang yang berlokasi tepat di tengah kota di kawasan Simpang Lima.

Kelaparan karena belum makan siang, kami menuju Warung Koh Liem di Jl. Karang Anyar, tepat di seberang SMU Kolase Loyola. Tempat ini terkenal dengan masakan asem-asemnya. Sayangnya karena sudah sore, asem-asemnya habis. Maka kami makan apa saja yang tersedia di rumah makan yang mirip warung Tegal besar ini: cap cay, telur goreng kepiting, udang goreng mentega, dan lain-lain, yang ternyata enak sekali. Ada cerita lucu di sini. Ketika saya meminta cap cay, Mbak yang melayani bertanya apakah saya mau menambahkan kekkian. Saya mengangguk. Allen mengikuti mengambil capcay di belakang saya. Ketika sedang makan saya katakan kekkian babinya enak sekali. Allen kaget, dan segera menyodorkan kekkian yang tinggal sedikit di piringnya pada saya karena ia tidak makan babi. Harusnya tidak saya katakan, ya. πŸ˜›

Sambil menunggu taksi yang dipesan via telepon, kami membeli Lekker Paimo di depan SMA Kolase Loyola. Kue lekker ini dimasak di gerobak dagangannya menggunakan engkol manual. Ukurannya besar sekali dengan rasa yang bervariasi, berisi sayuran, telur, sosis, dan lain-lain. Rasanya sebenarnya enak sekali, sayangnya saya dengan sok tahu minta ditambahkan sambal, yang pedasnya, astaga… betul-betul ‘membakar’. Saya tidak kuat menghabiskannya karena perut saya langsung terasa panas.

Dengan perut super kenyang, kami menuju Klenteng Sam Po Kong yang terletak cukup jauh di daerah Simongan di pinggir kota. Klenteng ini diyakini sebagai tempat persinggahan pertama Laksamana Cheng Ho yang, seperti saya, beragama Islam. Dalam agama Kong Hu Cu, seorang leluhur apalagi yang bernama besar seperti Cheng Ho, mendapat penghormatan tinggi, apapun agamanya. Setelah masuk setelah membayar tiket seharga Rp 10.000, tempat ini ternyata ini besar sekali, terdiri dari 3 bangunan utama.

Setelah puas foto-foto di luar klenteng bersama yang lain, saya sendirian masuk ke dalam bangunan klenteng-klenteng itu dengan membayar tiket sembahyang seharga Rp. 20.000. Karena hari sudah sore dan saya tidak begitu mengerti, saya langsung menuju klenteng terbesar di ujung. Setelah melepas sepatu, saya menuju altar. Beruntung, seorang teman saya yang keturunan Tionghoa pernah mengajarkan cara sembahyang sedikit. Saya menyalakan 3 dupa hio yang melambangkan manusia, bumi, dan Tuhan. Ketika meletakkan hio di altar, ternyata Biokong (penjaga klenteng) sudah berdiri di sebelah saya. Beliau menanyakan tempat asal, tujuan datang, dan pekerjaan saya (senang sekali sempat disangka masih mahasiswa, hahaha). Lalu beliau mengajak saya ke bagian belakang gedung. Ternyata, di situlah letak Gua Batu berada! Itulah justru esensi dari Klenteng Sam Po Kong ini, yaitu gua batu tempat petilasan Laksamana Cheng Ho. Biokong memberi saya 3 hio, lalu menyuruh saya berdoa dengan menyebutkan nama lengkap dan maksud kedatangan saya di altar di depan gua. Setelah itu beliau mempersilahkan saya masuk sambil berkata saya boleh melakukan permintaan di dalam. Di dalam gua terdapat altar besar dewa dengan diterangi hanya lilin-lilin dan pelita-pelita kecil. Tampak seorang kakek sedang bermeditasi. Suasana hening sekali di dalam. Sayang bagian dalam gua tidak boleh difoto.

Dari Klenteng Sam Po Kong, setelah mendapat taksi yang ternyata jarang sekali lewat, kami menuju kawasan Pecinan. Tujuan kami adalah Klenteng Tay Kak Sie. Di depan klenteng ini terdapat replika Kapal Cheng Ho.

Klenteng yang dari luar tampak kecil ini ternyata cukup luas di dalam, terbagi menjadi 3 bagian gedung dengan banyak sekali altar. Di sini saya untuk pertama kalinya mencoba peruntungan dengan ramalan di depan altar seorang dewa dengan bantuan seorang Biokong. Untuk bertanya apakah nomor ramalan yang jatuh adalah jawaban yang benar, harus melempar dua batu, tapi batu saya berkali-kali menunjukkan ‘tidak’. Yang agak membuat saya bergidik, sempat saking kesalnya saya melempar batu sambil memandangi patung dewa, dan kedua batu jatuh dengan posisi yang menunjukkan bahwa sang dewa marah. Baru setelah itu, ramalan jatuh di nomor 77 dan posisi jatuhnya batu menunjukkan bahwa sang dewa setuju. Isi ramalannya, apa ya… Saya tidak begitu ingat, hahaha. πŸ˜›

Lalu Aan, yang juga sedang liburan ke Semarang dari Solo, datang menjemput. Saya berpisah dari rombongan. Kami menuju suatu kawasan perbukitan di pinggir kota, Bukit Sari. Kawasan ini, menurut saya, mirip daerah Dago Pakar di Bandung, atau Puncak, dengan banyak restoran dan villa-villa. Kami makan di The Hills Dining Restaurant, dengan pemandangan lampu-lampu kota Semarang. Yah, memang mirip kawasan Dago Pakar Bandung. πŸ˜›

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (2)

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (3)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 13, 2012 by in Travel and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: