perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (2)

Day 2 (19/5/2012)

Pagi ini, kami berempat harus bangun pukul 6 pagi karena waktu berkumpul di Pelabuhan Tanjung Mas dijadwalkan pukul 8 pagi. Nanda sudah mendaftarkan kami pada suatu penyelenggara trip ke Karimun Jawa selama 2 hari 1 malam. Kami sampai pukul 8 tepat, hampir terlambat karena saya dan Allen baru bangun pukul 7 pagi (ups). Kapal Cepat Kartini telah menanti.

Interior kapal ber-AC dan cukup nyaman. Setelah duduk manis, tertidur, mondar-mandir keluar masuk kapal, kapal belum juga berangkat. Usut punya usut ternyata menurut guide rombongan kami, Mas Indra, izin dari BMKG belum turun. Baru pada pukul 10.00 lebih kapal akhirnya berjalan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar 4 jam. Kami sempat terkikik ketika kapten kapal memimpin doa. “Berdoaa… mulai! …. Berdoaa… selesai!” Saya hanya berdoa agar kami selamat, tapi sepertinya saya lupa untuk berdoa agar sampai di tujuan dengan selamat.

Ombak sepertinya cukup tinggi. Setelah sekitar 1 jam perjalanan, beberapa orang mulai muntah-muntah di dalam kapal, termasuk Allen yang duduk terpisah dari kami bertiga yang duduk di depan. Saya yang serius menonton film The Last Samurai di televisi kapal cuek saja, namun ketika memandangi dinding kapal, memang goyangan kapal terasa sekali. Vabyo tertidur di sebelah saya, sementara Nanda merokok di belakang kapal. Muntah-muntah sepertinya menular, semakin lama semakin banyak penumpang yang muntah. Setelah sekitar 2 jam perjalanan, tiba-tiba suara kapten kapal terdengar dari pengeras suara. Ombak mencapai ketinggian 4 meter dan kecepatan angin sekitar 18 knot, maka kapal kembali ke Pelabuhan Semarang. Seluruh penumpang terdiam (kecuali yang masih muntah-muntah). Beberapa detik kemudian tawa saya meledak tak tertahankan, disusul beberapa penumpang di sekitar saya. Astaga, sudah menunggu begitu lama, sudah banyak yang muntah-muntah, ternyata batal. Saya, Vabyo, dan Allen akhirnya membicarakan rencana tinggal di Semarang hingga kepulangan kami hari Senin tanggal 21. Tak lama setelah pengumuman Nanda kembali ke kursi dan sempat menawarkan ide untuk mencari tiket ke Bali sesampainya di Semarang. Waduh, saya menolak. Saya nggak punya uang sebanyak itu. Sebenarnya saya kasihan padanya karena rencana perjalanan ulangtahunnya batal, tapi entah kenapa, sejak awal feeling saya tidak ‘sampai’ Karimun Jawa. Saya malah mempersiapkan banyak hal untuk dilakukan di Semarang, saya catat di buku kecil saya seperti biasa. Sayang juga, 4 jam di laut menjadi sia-sia. Waktu yang terbuang cukup banyak, lebih dari setengah hari.

Kami sampai di pelabuhan sekitar pukul 3 sore. Setelah mengurus pengembalian uang dan sebagainya dengan Mas Indra, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel tempat seharusnya kami menginap keesokan harinya sekembalinya dari Karimun Jawa, yaitu Hotel Santika Premiere, yang juga terletak di kawasan Simpang Lima.

Setelah check in, saya buka catatan saya. Kami lalu menuju salah satu cabang Seafood Pak Sangklak di Telaga Mas. Kami lapar sekali, dan memesan makanan dengan menggila. Kepiting telor, cumi, sayur, udang, dan tentunya srimping alias kerang lebarnya yang terkenal. Dan ternyata makanannya memang enak sekali.

Setelah makan, Vabyo, Nanda, dan saya yang pecandu kopi merasa butuh kafein untuk menambah semangat kami. Bangun pagi dan perjalanan 4 jam di laut cukup melelahkan. Kami lalu menuju Peacock Coffee di dekat Universitas Diponegoro. Cafe kecil yang menyenangkan. Mengingat lokasinya, sepertinya diperuntukkan untuk mahasiswa, mirip kedai-kedai yang menjamur di Bandung.

Kemudian kami menuju Pasar Malam Semawis di Pecinan yang diadakan setiap akhir minggu, dari Jumat hingga Minggu. Saat itu malam Minggu, suasana ramai sekali. Berbagai jenis makanan, souvenirs, hingga aksesoris dan karaoke jalanan dengan lagu-lagu Mandarin ada di sini. Bagi turis seperti kami, rasanya seperti sedang tidak di Indonesia, hehehe.

Kami mendatangi kios ramal. Ada dua kios ramal di kedua ujung jalan. Salah satunya sepertinya terkenal karena antriannya panjang sekali. Akhirnya kami mendatangi kios yang satunya, peramalnya seorang Jawa bernama Mbak Sar. Ia meramal menggunakan kartu. Ketika sampai giliran saya, jreng… saya sampai tidak bisa berkata-kata sementara yang lain sibuk menertawakan sambil menepuk-nepuk bahu saya, karena ia membaca saya dengan tepat sekali.

Karena lelah, yang lain pulang ke hotel, tapi saya kekeuh tinggal di Pasar Semawis yang mulai sepi. Ada satu lagi yang saya cari. Setelah bolak-balik menelusuri pasar dan bertanya sana-sini, akhirnya di ujung jalan, tersembunyi di balik kios-kios, saya menemukannya. Sebuah toko dengan stand pelukis tinta bak Cina bernama Tan Eng Tiong. Ada 2 orang yang sedang antri membeli lukisan sebelum saya dan berfoto bersama bapak berusia 70 tahunan tapi awet muda itu. Ketika tiba giliran saya, saya menanyakan harga lukisan wajah. Ternyata mahal sekali, dari harga Rp 1,5 juta. Ia menawarkan beberapa lukisan jadi di katalognya seperti bambu, ayam, mawar dan lain sebagainya, lengkap dengan arti simbolisnya. Pilih saja yang cocok, katanya. Harganya mulai dari Rp. 75.ooo. Akhirnya saya memilih lukisan bangau dengan harga Rp. 150.000. Saya pilih lukisan bangau itu walau agak mahal karena cantik sekali, simbol harmoni dalam hidup. Saya tersipu waktu Bapak Tan Eng Tiong berkali-kali bilang lukisannya cantik seperti orangnya (aih…). Ia sempat menanyakan apakah saya memiliki nama Cina, saya ingat seorang teman pernah menamai saya Mei Lian yang berarti bunga lotus kecil karena saya suka sekali bunga itu. Tapi karena tidak memiliki marga (walau ibu saya memang ada keturunan Tionghoa nun jauh di trah atas kami), saya hanya minta agar dituliskan tanggal dan doa yang artinya kira-kira, “Sukses di Timur, berhasil di Barat.” Maksud saya, agar kedua pekerjaan saya yang bertolak belakang dapat berjalan harmonis. Hehehe, disambung-sambungin aja, ya…

Sesampainya di hotel, saya menemukan Vabyo sedang beradegan porno, ups… Tidak, sih. Hanya sedang dipijat. Waktu pemesanan terakhir untuk pijat di hotel adalah pukul 11 malam. Saat itu pukul 10.45. Cepat-cepat saya telepon operator spa untuk memesan juga, hehehe.

Selesai massage di kamar, saya mengetuk kamar Nanda dan Vabyo. Langsung kami menyanyikan lagu Happy Birthday sambil menindih Nanda yang sudah berada di balik selimut. Vabyo mengeluarkan kue ulangtahun darurat yang sudah ia siapkan, yaitu buah durian dengan lilin. Hahaha.. Hanya saya yang belum memberi kado, karena kadonya masih dalam tahap pembuatan (maaf, ya, Kak. Huhuhu.). Paling tidak, walau perjalanan ke Karimun Jawa batal, semoga Semarang yang cantik dan adanya kami di sekelilingnya dapat membuat Nanda senang di hari ulangtahunnya.

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (3)

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 13, 2012 by in Travel and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: