perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (3)

Day 3 (21/5/2012)

Petualangan kami menjelajahi kota Semarang masih berlanjut. Hari ini kami menyewa mobil Toyota Avanza dengan supir seharga Rp. 250.000 dari Yosa Bela Car Rental. Pagi ini kami mengarah ke daerah Ungaran untuk mengunjungi Kampoeng Kopi Banaranย yang terletak sekitar 45 menit berkendara dengan mobil dari tengah kota. Setelah ngopi dan nyemil kudapan mendoan di cafe-nya, kami berkeliling kebun kopi dengan menggunakan kereta wisata dengan membayar tiket seharga Rp. 70.000 per kereta. Cukup menyenangkan, salah satunya karena kami kebetulan mendapat supir kereta yang kocak.

Dari Kampoeng Kopi Banaran, sambil menuruni jalan menuju tengah kota, kami sengaja tidak makan siang agar dapat mencoba beberapa jenis makanan, seperti Sate Pak Kempleng 2 dan Tahu Baxo Ibu Pudji. Kami beli dan makan di mobil beramai-ramai untuk menghemat waktu. Rasa satenya lumayan enak, tahu baxo pun tidak buruk walaupun bagi saya lebih enak batagor Bandung.

Dalam perjalanan saya melihat banyak pabrik di daerah ini. Salah satunya pabrik biskuit Nissin. Sayang kami tidak sempat mampir.

Kami lalu berhenti di Vihara Budhagaya yang terkenal dengan Pagoda Avalokitesvara yang bertingkat tujuh. Terdapat altar Dewi Kwan Im besar di dalamnya, dengan 7 patung Dewi Kwan Im yang lebih kecil di luar tembok yang mengelilinginya.

Lalu kami menuju kawasan Kota Tua. Kawasan ini lebih luas daripada kawasan yang sama di Jakarta, dengan beberapa gedung cantik yang masih berfungsi. Sayangnya beberapa tampak sudah mau ambruk.

Kami mengunjungi GPIB Immanuel yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk karena kubahnya. Dengan membayar tiket seharga Rp. 10.000 kita bisa masuk ke dalam gereja yang masih digunakan hingga sekarang dan melihat interiornya yang masih terjaga keasliannya dengan organ dan ubin tuanya yang cantik.

Setelah puas berputar-putar di Kota Tua, kami mengarah ke Toko Oen. Tentu saja untuk mencicipi es krimnya yang terkenal. Rasa es krimnya ‘menyenangkan’! Rasanya betul-betul ‘zaman dulu’. Nanda dan saya juga membeli kue-kue kering seperti speculaas untuk oleh-oleh, karena keluarga kami memang keluarga ‘jadul’, hehehe. Maksudnya, keluarga kami masih cukup menjaga adat Belanda di rumah. Mendatangi Toko Oen yang sangat kental budaya Belanda-nya sangat menyenangkan bagi kami.

Dari Toko Oen, kami sempat bingung akan menuju ke mana. Hari menjelang maghrib. Entah ide siapa, kami tiba-tiba saja sudah mengarah ke Lawang Sewu. Astaga, pergi ke tempat terseram di Semarang maghrib-maghrib. Nanda sempat menolak untuk masuk. Tapi setelah kami yakinkan bahwa di hari ulangtahunnya ia harus membuat satu perubahan (apa, sih?) akhirnya ia setuju untuk masuk. Gedung yang pada zaman Belanda ini digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api ini beralih fungsi menjadi penjara dan tempat eksekusi pada zaman pendudukan Jepang. Kini, gedung yang ternyata luar biasa cantik ini sebagian besar telah direnovasi.

Guide kami menceritakan tentang sejarah, arsitektur, juga fungsi tiap ruangan dan bagaimana Lawang Sewu telah dipakai untuk fashion show dan shooting film, selain reality show Dunia Lain yang berhasil menangkap ‘penampakan’ tentunya. Untungnya kami mendapat guide yang menenangkan, bukan menakut-nakuti. Konon ada guide Lawang Sewu yang justru memperlihatkan hal-hal seram di sana. Mungkin tergantung keinginan pengunjung juga, sementara kami jelas-jelas berdempetan gemetaran sepanjang tur, hahaha. Bagi saya, Lawang Sewu dan sejarahnya di masa pendudukan Belanda cantik sekali, walaupun kami harus menggunakan senter karena tidak ada lampu. Saya dapat membayangkan para meneer Belanda yang lalu-lalang bekerja di ruangan kantornya, dengan ratusan pintu seragam di balkonnya yang membuatnya dijuluki Lawang Sewu atau Pintu Seribu dalam bahasa Jawa. Juga noni-noni Belanda yang berdansa di ballroom-nya yang sangat besar.

Kami sampai di bagian puncak dari tur: ruang bawah tanah. Awalnya, setelah mengintip ruangan yang terendam air dan keharusan memakai sepatu boots karet, Allen dan Vabyo menolak masuk. Nanda, tidak perlu ditanya. Tapi saya tiba-tiba saja berkeras ingin masuk. Padahal saya adalah orang paling penakut kedua setelah Nanda dalam rombongan. Pikir saya, sayang juga sudah jauh-jauh datang tapi tidak menjelajahi sampai tuntas. Maka saya membayar tiket seharga Rp. 10.000 dan bersiap memakai sepatu boots. Melihat saya, akhirnya Vabyo dan Allen pun memutuskan ikut turun.

Guide kami bercerita tentang bagaimana pada zaman Jepang para tahanan disiksa di ruangan yang sebetulnya adalah ruang sistem pendingin ruangan alami menggunakan air kali di zaman Belanda. Bak-bak air pendek digunakan sebagai penjara dengan memaksa para tahanan berjongkok berdesak-desakan dalam keadaan terendam, sampai mati. Juga bagaimana mereka dieksekusi dengan dipancung dan mayatnya dibiarkan terbawa air pasang hingga keluar sendiri melalui ventilasi ke kali. Rasanya, saya lebih merasa sedih mendengarnya daripada seram. Jahat sekali.

Setelah itu… Kami berhasil keluar Lawang Sewu hidup-hidup! Yay! ๐Ÿ˜€

Setelah mandi di hotel, kami berjalan ke Simpang Lima untuk makan. Yang lain memesan tahu gimbal, tapi saya penasaran dengan yang namanya babat gongso karena tidak sempat mengunjungi tempatnya yang terkenal di Jalan Depok. tidak salah, karena rasanya enak sekali. Saya sampai tambah (enak, doyan, lapar, apa rakus, ya?). ๐Ÿ˜€

Day 4 (21/5/2012)

Pagi ini ketika bangun, saya kaget sekali mendengar cerita Vabyo. Katanya, ia bermimpi bersenang-senang di ballroom Lawang Sewu bersama teman-temannya. Dengan takut-takut saya ceritakan, saya pun semalam bermimpi bermain-main dengannya di ballroom Lawang Sewu. (Baru ketika sudah sampai di Bandung malamnya, ia men-twit foto ‘penampakan’ yang ia dapat dengan handphone-nya. Pantas sepulangnya dari Lawang Sewu dia cepat-cepat minta pulang ke hotel untuk mandi!) Hiii…!!!

Hari ini adalah hari terakhir. Kami kembali menuju Kota Tua khusus untuk mendatangi Kantor Pos untuk mengirim kartu pos. Bangunan Kantor Pos pun masih dipertahankan keasliannya seperti zaman dulu.

Dari Kantor Pos, kami mampir ke Loenpia Mbak Lien untuk membeli oleh-oleh. Ehm, sebenarnya hanya Nanda dan Allen yang pergi membeli lunpia, karena saya dan Vabyo segera ‘berkhianat’ begitu turun dari mobil dan melihat bangunan Toko Oen tak jauh dari situ. Kami pun kembali ke Toko Oen untuk memuaskan hasrat pada es krim. ๐Ÿ˜€

Setelah itu kami pun pergi ke tujuan terakhir kami sebelum pergi ke bandara untuk kembali ke Jakarta: Bandeng Juwana. Kami membeli segala oleh-oleh makanan Semarang di sini, dari berbagai jenis bandeng hingga kue Gandjel Rel kesukaan saya. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat membeli Gandjel Rel merk tertentu yang biasa dibawakan teman saya, yang harus dipesan sehari sebelumnya dan diambil ke tokonya. Kami makan siang di lantai dua Toko Bandeng Juwana, Rumah Makan Elrina. Di sini terdapat berbagai jenis masakan bandeng, dari nasi bakar bandeng hingga bandeng lapis daun pepaya. Rasanya enak sekali.

Rasanya, walaupun batal pergi ke Karimun Jawa, ternyata petualangan kami di Semarang cukup sukses. ๐Ÿ˜€

Mudah-mudahan suatu hari nanti kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Karimun Jawa juga. ๐Ÿ™‚

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (1)

Baca Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (2)

Iklan

3 comments on “Karimun Jawa Batal, Semarang Aja (3)

  1. Riri
    Desember 7, 2012

    mbak, mau tanya dong, di semarang sewa mobil dari yosa bela rent car yang nomor kontaknya ini ? Bp. Sunarto
    Jl. Gedongsongo Barat I Smg
    HP : 085 8787 01367 – 081 226927002 – 087731568118
    Flexi : 024 70049392 ? (website rentalmobil-semarang.com) ya?

    waktu pesan pake DP (uang muka) ya mbak? menurut mbak cukup ok pake yosa bela rent car?
    maaf tanya2 soalnya saya juga mo sewa, baru nemu referensi dari blog mbak ini.

    pls info ya..terimakasih

    • nindyalubis
      Desember 7, 2012

      Website dan keterangan bisa diklik di posting saya. Kalo DP, waktu itu saya gak pake DP, Mbak. Kita dadakan juga nyari rental mobilnya. ๐Ÿ™‚

      • Riri
        Desember 7, 2012

        terimakasih infonya mbak.. cheers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 14, 2012 by in Travel and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: