perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Surai-surai Cantik Kota Singa

Tanggal 8 Juli minggu lalu, setelah tertunda beberapa kali, lagi-lagi secara impulsif saya memutuskan bepergian seorang diri. Tidak jauh-jauh, ‘hanya’ ke Singapura. Hampir setiap tahun saya selalu pergi ke kota sekaligus negara tetangga yang tidak besar ini. Karena memang selalu ada yang baru di sana, baik tempat maupun acara-acara menarik. Kali ini praktis menjadi pengalaman kedua saya solo travelling.

Day 1 (8/7/2012)

Saya berangkat dari Bandung naik pesawat paling pagi, pukul 05.30. Keharusan bangun pukul 3 pagi dan kebiasaan buruk saya tidur malam bahkan subuh membuat saya hampir tidak tidur sama sekali. Untung saya menemukan sebuah kedai kopi mungil yang menarik bernama Prologue di Ruang Tunggu Keberangkatan Internasional Bandara Husein Sastranegara.

Sesampainya di Changi International Airport Singapore, hal pertama yang saya lakukan adalah membeli simcard. Yang saya temukan adalah kartu prabayar M1 seharga $50 dengan isi pulsa $60, yang kemudian sedikit saya sesali karena ke-gaptek-an saya membiarkan koneksi 3G iPhone menyala terus ternyata menyedot banyak sekali pulsa. Belakangan saya baru tahu dari seorang teman, ada kartu SingTel khusus turis yang dijual di lantai basement ION Mall di Orchard Road, seharga $15 berisi pulsa senilai $18 dan internet 1 giga untuk 1 minggu.

Saya lalu membeli kartu transportasi EZ Link yang dapat digunakan untuk MRT dan bus seharga $12. Kartu EZ Link seingat saya dapat berlaku untuk 6 bulan, dan mengingat saya berencana kembali bulan November nanti, saya rasa tidak rugi juga walau deposit $5 tidak dapat kembali. Saya langsung menaiki MRT ke arah stasiun Nicholl Highway. Sesampainya di sana, saya berjalan kaki menuju hostel saya, 5footway.inn Project Sultan. Saat itu waktu belum lagi pukul 10.00 pagi. Saya check in, tapi karena belum bisa masuk kamar hingga pukul 15.00, saya meninggalkan barang-barang di resepsionis.

Saya lalu berjalan-jalan di area Kampong Glam itu, yang terkenal dengan Masjid Sultan-nya. Area ini menyenangkan dengan banyaknya rumah-rumah bergaya lama warna-warni yang digunakan sebagai cafe maupun toko suvenir. Juga merupakan lokasi Haji Lane dan Arab Street yang terkenal dengan butik-butik lokal yang keren. Sayangnya karena masih pagi, banyak yang belum buka. Rata-rata toko di Singapura buka pukul 11 siang.

Saya lalu menuju MINT Toy Museum yang berada di seberang Raffles Hotel, tidak terlalu jauh dari Kampong Glam. Saya menggunakan transportasi favorit saya di Singapura, bus kota. Menggunakan bus di Singapura sangat memudahkan karena hampir setiap beberapa ratus meter di jalan besar ada halte bus, hanya saja rute dan nomer bus yang begitu banyak cukup memusingkan. Karena itu saya sudah install aplikasi gothere.sg di iPhone saya. Sempat juga, di depan Raffles Hotel ketika saya sedang memotret, diajak berbicara dengan seorang bapak India yang berkeras mengajak saya minum kopi lalu setengah memaksa memeluk saya dengan agak tidak sopan. Well, girls, always be careful when you travel alone.

Sesuai namanya, MINT Toy Museum memamerkan segala jenis mainan maupun figurin dari berbagai era di seluruh dunia. Dari mainan klasik hingga edisi koleksi bernilai tinggi ada di sana. Dari Disney, Batman, Popeyes, Tintin, bahkan hingga koleksi merchandiseΒ the Beatles (AAAAAH!!) mereka punya.

Tadinya saya berencana kembali ke Kampong Glam dan mencicipi makanan Timur Tengah di sana, tapi perut saya sudah keroncongan. Jadi tak jauh dari MINT saya berhenti di Sin Swee Kee Chicken Restaurant dan memesan nasi ayam hainan dan jus barley. Standar Singapura, tapi wajib. πŸ™‚

Baru setelah itu saya kembali ke Haji Lane dan memasuki beberapa butik. Dasar tidak kuat iman, keluar dari sebuah toko bernama Filmbox saya sudah menenteng belanjaan. 😦

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga lebih. Ketika sedang tergesa-gesa berjalan ke halte bus, saya sempat dicegat sepasang kakek-nenek Cina yang meminta saya membelikan makanan, tapi saya katakan bahwa saya sedang buru-buru. Setelah beberapa kali ganti bus, saya sampai di Marina Bay Sands. Masuk ke Marina Bay Sands Boardwalk, saya sempat bertemu dengan seorang wanita yang bertanya dengan logat Jawa kental apakah saya orang Indonesia, lalu menyodorkan telepon genggamnya menyuruh saya ‘berantem’ dengan kakaknya yang tidak tahu jalan ke MBS. Ada-ada saja memang pengalaman traveling sendirian. πŸ˜€

Saya lalu masuk ke Art & Science Museum untuk tujuan utama saya ke Singapura: Harry Potter Exhibition dan Andy Warhol Exhibition. Saya belum membeli tiket karena tiket masuk paket dua eksibisi seharga $28 hanya bisa dibeli di box office secara langsung, sementara bila membeli secara online hanya bisa membeli satu persatu seharga $24 dan $14. Ketika masuk, antriannya panjang sekali, padahal waktu sudah menunjukan hampir pukul 4 sore, hanya beberapa menit sebelum eksibisi Harry Potter dimulai. Harry Potter Exhibition diadakan beberapa kali sehari, tapi saya memang mengincar pukul 4 sore. Untunglah, seorang pegawai di sana memberi tahu saya bahwa tiket dapat dibeli juga di box office di MBS Theatre, di dalam gedung MBS Shoppe. Terburu-buru saya berlari ke sana, dan untungnya memang tidak mengantri. πŸ˜€

Harry Potter Exhibition diadakan di lantai basement Art & Science Museum. Ketika saya turun, antrian masuk sudah panjang. Orang-orang sibuk berfoto di luar karena di dalam kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Saya sempat menjadi salah satu dari tiga sukarelawan untuk mencoba topi sihir Hogwarts, yang ‘mengatakan’ saya masuk asrama Ravenclaw. πŸ˜€ Eksibisi ini sendiri memamerkan benda-benda dan artefak yang digunakan dalam film Harry Potter, seperti baju-baju, tongkat sihir, hingga tanaman ‘mandrake’ yang benar-benar berteriak ketika kita angkat. Pameran dibagi menjadi beberapa ruangan sesuai alur cerita serial film Harry Potter, dan suasananya benar-benar dibuat seperti di Hogwarts! Dan jangan khawatir tidak mengerti, karena di setiap instalasi ada televisi kecil yang menyiarkan potongan film untuk mengingatkan di adegan mana artefak yang dipamerkan digunakan. Ruangan terakhir adalah toko di mana segala jenis merchandise Harry Potter dijual. Wah, saya benar-benar kalap di sini. Kalung Time-turner Hermione, kalung Golden Egg, sweater Hogwarts, dan bolpen berbentuk tongkat sihir Harry Potter sukses menghabiskan dollar saya. Juga Every Flavor Beans (yang benar-benar ada rasa muntah, rasa cacing, dan rasa-rasa ajaib lainnya) dan Chocolate Frog. Harga merchandise di sini memang tidak murah sama sekali, tapi saya pikir kapan lagi. Dan buatannya betul-betul bagus dan ‘niat’. Jadi saran saya, kalau Anda pecinta Harry Potter (atau pecinta merchandise seperti saya) bawalah uang yang cukup untuk berbelanja.

Keluar dari Harry Potter Exhibition, saya sebenarnya sudah lelah sekali karena belum tidur dan berjalan kaki ke mana-mana. Saya lalu naik ke lantai 5 untuk memasuki Andy Warhol Exhibition. Sebenarnya saya suka sekali karya-karya Andy Warhol, tapi mungkin karena terlalu lelah, saya tidak terlalu menikmati, sampai-sampai lupa mengambil foto. Walau harus diakui, nyentrik-nya sang seniman terasa sekali di eksibisi itu.

Keluar dari Art & Science Museum, saya lalu berjalan melalui underpass MBS untuk naik ke Skypark. Niat awal saya, saya ingin berjalan-jalan dan berfoto di Skypark. Tapi setelah melihat harga tiket masuk Skypark Β seharga $20, saya memutuskan untuk masuk ke Ku De Ta Restaurant & LoungeΒ saja karena saya juga haus sekali, walaupun sudah pernah ke sana. Sepertinya keputusan yang cukup tepat, karena di atas saya lihat Skypark penuh sekali. Sementara Ku De Ta, cabang dari pusatnya di Bali, masih agak lengang, dan saya mendapatkan tempat enak di pojok smoking area untuk melihat sunset. Dengan harga yang sama dengan tiket masuk Skypark, saya mendapatkan pemandangan yang sama plus segelas coffee martini. πŸ˜€

Saya turun dari Skypark ketika hari mulai gelap dan Ku De ta pun mulai disesaki kaum ekspat bergaya. Saya sudah tidak kuat berjalan dan saya hanya ingin sesegera mungkin sampai di hostel, jadi itulah sekali-sekalinya saya naik taksi dalam trip kali ini.

Sesampainya di hostel, saya mendapatkan kunci kamar dan sayangnya, mungkin karena hari sudah malam dan hostel sudah penuh, saya ditempatkan di lantai 3. Cukup melelahkan juga menaiki tangga dengan membawa banyak barang, dan kenyataan saya mendapat bedΒ yang belum dibereskan membuat saya harus bolak-balik ke lobby. Paling tidak, desain hostel saya itu memang bagus dan nyaman, walaupun saya ternyata ditempatkan bersama roommates yang semuanya laki-laki Asia di mixed dorm untuk 6 orang yang cukup sempit.

Setelah beristirahat sebentar, saya pergi ke daerah sekitar Masjid Sultan untuk mencari makan malam. Saya memutuskan untuk makan di Kampong Glam Cafe yang penuh sekali, lalu memesan nasi bryani dan teh tarik. Ternyata porsinya raksasa. Saya kemudian baru tahu dari seorang teman, biasanya orang Indonesia makan nasi bryani seporsi berdua. Hahaha.

Day 2 (9/7/2012)

Pagi itu saya sengaja bersantai-santai setelah kehebohan hari sebelumnya. Saya menikmati sarapan sederhana dan kopi gratis di rooftop terrace hostel. Enaknya berlibur sendirian, tidak ada yang memburu-buru. πŸ˜€

Ketika hari beranjak siang, saya check out dan menitipkan barang di resepsionis. Saya lalu berjalan mencari kantor pos untuk mengeposkan kartu-kartu pos yang saya beli di toko suvenir kemarinnya, dan menemukannya di lantai bawah sebuah gedung berwarna biru, di seberang gedung Kampong Glam Community Club di Jalan Sultan. Ini pertama kalinya saya mengeposkan kartu pos dari luar negeri, dan saya beruntung dilayani oleh seorang bapak Melayu yang sangat ramah dan fasih sekali berbahasa Indonesia.

Setelah itu saya makan siang di sebuah restoran Jepang bernama Box n Sticks tepat di sebelah hostel. Harganya tidak terlalu murah, tapi rasa makanannya tidak disangka enak sekali.

Setelah mengambil barang, saya naik bis menuju hostel baru saya di area Chinatown.

Hostel baru ini, Matchbox the Concept Hostel, terletak di area favorit saya di Singapura, Ann Siang Road. Seperti hostel sebelumnya, hostel ini pun menerapkan sistem keamanan yang sangat baik. Semua orang yang akan memasuki bangunan hostel harus memiliki kartu, atau dibukakan secara otomatis oleh resepsionis di balik pintu kaca. Saya langsung menyukai hostel ini begitu memasukinya. Resepsionisnya sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Sebelum masuk ke dalam, kita harus membuka sepatu dan menaruhnya di tempat yang sudah disediakan di area lobby, sehingga benar-benar terasa seperti di rumah bagi saya. Kamar mandi bersama cukup mewah dengan warna-warni atraktif dan kosmetika mandi lengkap, dan mereka bahkan menyediakan handuk. Fasilitas yang jarang diberikan sebuah hostel. Di sana juga terdapat ruangan kursi pijat dengan koleksi buku, dapur, dan ruang santai. Yang paling saya suka adalah kamarnya. Saya menyewa bed di mixed dorm untuk 16 orang, yang terasa lebih aman bagi perempuan yang bepergian sendirian seperti saya. Tempat tidurnya menyerupai kapsul yang nyaman dengan pencahayaan masing-masing, sehingga terasa lebih private. Harganya memang cukup mahal untuk ukuran hostel, tapi seluruhnya memuaskan.

Setelah menaruh barang di loker, saya menyusuri Ann Siang Road dan Club Street. Area ini dipenuhi bangunan berarsitektur Peranakan lama dan berwarna-warna pastel. Bangunan-bangunan ini digunakan sebagai bar, cafe, butik, toko-toko, juga perkantoran. Saya sempat memasuki salah satu toko buku bernama Woods in the Books (dan ditegur karena ternyata tidak boleh mengambil foto) dan membeli sebuah buku pop-up untuk keponakan saya.

Saya juga mampir di Chinatown Night Market Β yang dipenuhi lapak suvenir sejak siang hari dan menjajakan berbagai makanan di malam hari, untuk membeli oleh-oleh lainnya.

Setelah menaruh belanjaan di loker, saya menuju Red Dot Design Museum di Maxwell Road. Museum ini adalah cabang dari pusatnya di Jerman. Sayangnya hari itu museum ditutup untuk publik karena sedang ada acara pribadi. Walaupun begitu, toko desain dan cafe di lantai bawah tetap buka.

Saya lalu naik bus menuju Dempsey Hill. Tidak enaknya naik bus di Singapura, selain harus tahu rute dengan benar juga bahwa kita tidak boleh melewatkan halte yang dituju, karena bus tidak berhenti di semua halte. Seperti saya saat itu, yang akhirnya harus berjalan kaki cukup jauh karena melewatkan halte di mana seharusnya saya turun. Bagaimanapun bagi saya lebih baik daripada mencari-cari jalan bila menggunakan MRT, dan ongkosnya pun lebih murah.

Dempsey Hill, seperti juga kawasan Holland Road di sekitarnya, adalah area tempat restoran-restoran mewah Singapura berkumpul. Yang terkenal di Dempsey Hill adalah PS Cafe yang juga memiliki cabang di Ann Siang Road. Saya juga melihat cabang Jumbo Seafood yang terkenal dengan Chilli Crab-nya di sini. Tapi saya simpan semua itu untuk kunjungan berikutnya bila saya datang tidak sendiri, lebih baik lagi bila bersama orangtua karena harganya yang saya tahu tidak murah, hehehe. Tujuan saya hanya satu: Ben & Jerry’s. Cafe es krim ini letaknya ternyata jauh di pojok Dempsey Hill yang ternyata tidak kecil. Tidak heran saya satu-satunya orang yang berjalan kaki di tempat itu sore itu, sementara pengunjung lain yang rata-rata ekspatriat dan eksekutif muda datang dengan taksi atau mobil pribadi.

Walaupun begitu, tentu saja brownies with 2 scoops of ice cream Ben & Jerry’s tidak mengecewakan sama sekali. Bus berwarna ceria menyambut di pintu masuk cafe, sementara interiornya terasa hangat dan artistik.

Ketika hari mulai gelap, saya kembali berjalan ke depan Dempsey Hill dan menaiki bus. Tujuan saya kali ini familiar. Memang aneh rasanya bila ke Singapura tapi tidak ke Orchard Road. Walaupun tujuan saya hanya H&M Store yang dibuka sejak tahun 2011 lalu, dan saat itu sedang sale. πŸ˜›

Ketika kembali ke Ann Siang Road, saya sudah kelelahan sehingga mengurungkan niat mencoba salah satu bar. Saya langsung kembali ke hostel dan menulis beberapa kartu pos (lagi) berdesain unik yang saya dapat secara gratis dari hostel, untuk diposkan dari kantor pos di Terminal 2 Changi Airport sebelum pulang ke Indonesia esok harinya.

Menjelang tengah malam, dasar rakus, ternyata perut saya keroncongan. Sesuai rekomendasi resepsionis hotel dan hasil browsing sebelum berangkat, saya berjalan ke Maxwell Food Center yang letaknya memang dekat dari hostel. Untungnya resepsionis hostel benar, masih ada beberapa lapak yang buka. Saya memilih sebuah counter mie dan dibuatkan makanan custommade, ee mian dengan udang goreng dan telur. Saya juga memesan teh krisan panas untuk minumnya. Rasanya, itulah makanan terenak saya sepanjang trip kali ini. Harganya pun paling murah, total hanya $3,5. πŸ˜€ Yang menyenangkan, begitu keluar dari Food Center, saya sempat mengobrol dengan seorang bapak Cina yang ternyata satpam gedung sebelah yang hendak sembahyang di altar, yang kemudian mendoakan saya. πŸ™‚

Sepulangnya ke hostel, setelah mandi dan beres-beres, saya meneruskan menulis kartu pos dalam kapsul saya. Tidak lama kemudian, seorang teman sekamar yang sudah berkenalan siangnya, datang. Saya berpapasan dengannya ketika sedang berjalan keluar untuk merokok. Seperti seluruh bangunan di Singapura, area dalam hostel pun tidak diperkenankan merokok. Ketika masuk, saya kembali berpapasan dengannya yang baru selesai mandi. Melihat bungkus rokok di tangan saya, ia menawarkan untuk merokok sebatang lagi. Tentu saja saya tidak keberatan, soalnya dia ganteng, hahaha. πŸ˜› Saya mengobrol panjang lebar dengan Robert dari Inggris yang juga bepergian seorang diri, sebelum bertukar email.

Ada kesenangan dariΒ solo traveling yang sulit terganti. Mendapat teman baru, eksplorasi tanpa terganggu, juga belajar dari pengalaman-pengalaman unik walau mungkin tidak dimau. πŸ˜€

P.S.: Hari ini, saya baru saja menerima kiriman beberapa barang oleh-oleh yang tertinggal di loker Matchbox. Hostel yang satu ini benar-benar saya rekomendasikan. πŸ˜€

Pemesanan hostel seluruhnya dilakukan di HostelBookers.com

Iklan

14 comments on “Surai-surai Cantik Kota Singa

  1. viraindohoy
    Juli 27, 2012

    Singapur memang nggak ada abisnya ya bok..
    berapa kali ke sana juga adaaa terus yg baru2 lagi..dan walopun kebanyakan artifisial, tapi mereka bikinnya nggak nanggung2..
    untungnya deket! hihihi

    • nindyalubis
      Juli 27, 2012

      Iyaaah! Niat abis! Kemaren gue pengen ke apa tuh, Botanical Garden ya yang baru deket MBS? Tapi gak sempeet huhuhu. Ntar November harus ke museum-museumnya ah!

  2. Angelita
    Juli 27, 2012

    your words are like advice for me, i loved your post.http://www.divulgaemail.com

  3. ariohendra
    Juli 28, 2012

    waw sangat menarik, nice posting btw, lengkap dan detail banget, nggak bosen bacanya

  4. puchsukahujan
    Agustus 1, 2012

    rasanya ini pertama kali saya ke sini, tulisan tentang travelling selalu membuat mata saya berakomodasi lebih

    senang membaca tulisannya yang komplit dan detail banget mbak,
    oya saya suka tagline blog ini πŸ˜€

    • nindyalubis
      Agustus 1, 2012

      Waah, makasih banget ya! Main-main ke sini lagi, hehehe πŸ˜€

  5. philardi ogi
    Oktober 30, 2013

    menemukan postingan blog ini ketika akan merencanakan solo trip singapore seperti menemukan harta karun πŸ™‚

    thanks ya..ijin copy itinerarynya…kayaknya interest saya ga jauh beda nih πŸ™‚

    • nindyalubis
      November 15, 2013

      Silahkan πŸ˜€ terima kasih sudah membaca ya. πŸ™‚

  6. laret
    Januari 12, 2014

    Kak nanya dong, harry potter exhibition itu permanen apa ga ya? Akhir januari ini mau ke spore. Kira2 harpot exb masih ada ga ya? Tolong infonya ya kak, makasih πŸ˜€

    • nindyalubis
      Januari 12, 2014

      Sayangnya udah gak ada, Harry Potter Exhibition itu semacam tour-nya Museum Harry Potter di UK. πŸ™‚

      • laret
        Januari 13, 2014

        yah..sayang bgt. makasih kak infonya πŸ™‚

  7. irdaaahaha
    November 13, 2014

    Hi Dok πŸ˜ƒ aku untuk pertama kalinya akan solo travel (sehubungan cupu, ke Sing dulu yg kira-kira familiar) dan ga sengaja nyasar ke sini saat googling “Ann Siang Hill” pdhl aku follow Kak Nin di twitter udah dari kapan tau… Nice post! Informatif dan memotivasi newbie solo traveler kaya aku πŸ˜‚

    • nindyalubis
      November 13, 2014

      Waah, terima kasih sudah mampir πŸ˜€
      Gak apa, aku juga ini pas pertama-pertama solo traveling lho. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: