perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Rukmunal Hakim, Ilustrator Buta Warna

Tanggal 21 September kemarin, usai shalat Jumat saya dijemput seorang kawan untuk menghadiri acara Park(ing) Day di Jakarta. Acara yang salah satunya diprakarsai oleh Kopi Keliling, suatu komunitas di mana saya baru saja bergabung sebagai kontributor situs online-nya, dan kawan saya, Rukmunal Hakim adalah salah satu seniman yang secara reguler ikut pamerannya.

Walaupun sedikit banyak sudah mendengar namanya sebagai salah satu ilustrator yang sedang naik daun, saya belum lama mengenal Hakim. Kami diperkenalkan oleh Ario, yang juga salah satu seniman Kopling dan sahabat Hakim, ketika mereka berdua sedang heboh mempersiapkan Singapore Toy, Game & Comic Convention 2012 yang diadakan di awal bulan. Saat itu saya sempat ikut panik membantu. Sepulangnya mereka dari Singapura, saya menulis artikel tentang STGCC 2012 yang mereka ikuti. Ketika menulis artikel itulah saya baru mengetahui satu fakta yang mengejutkan, bahwa Hakim ternyata seorang buta warna.

“Waktu itu gue baru lulus SMA, dites buta warna oleh dokter mata baik untuk persiapan kuliah ataupun bekerja.” Diagnosis buta warna total yang sempat membuatnya down itu juga yang membuatnya tak lulus tes masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Kecintaannya menggambar saat itu mendorongnya untuk tetap masuk fakultas desain di universitas lain. Namun saat itu Hakim merasa bahwa ia tidak mendapat ilmu berarti dari studinya. Pelan-pelan ia mulai berhenti menggambar.

Pada semester kedua, keadaan ekonomi membuatnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah. “Waktu itu, yang gue pikirin cuma gimana caranya agar bisa dapat uang,” kata Hakim yang lalu bekerja serabutan. Dari berjualan hingga ikut multilevel marketing ia jalani. Salah satu yang paling miris di telinga saya adalah ceritanya tentang ketika ia bekerja sebagai pemain game. “Iya, istilahnya itu gue jadi gold-digger. Sebenarnya itu ilegal. Gue main game untuk mengumpulkan uang virtual yang kemudian dijual lagi untuk para gamers. Gue kerja shift tiap malam dari pukul 7 sampai 5 subuh, dengan bayaran Rp. 500.000 sebulan,” terangnya sambil tertawa, “Itu adalah masa-masa tergelap gue yang paling menyedihkan untuk diingat.”

Sekitar tahun 2008, seorang teman SMA-nya yang mengetahui kepiawaan Hakim menggambar di zaman sekolah dulu, mengajaknya untuk bergabung di sebuah perusahaan animasi di Bandung sebagai storyboard illustrator. “Waktu itu gue udah lamaaa banget nggak menggambar. Waktu tes masuk kerja, gue cuma menggambar sambil nggak bisa berhenti berdoa semoga gue diterima. Kalau diingat lagi bagaimana gambar gue waktu itu, rasanya kepingin gue robek-robek terus gue bakar lalu gue tabur di laut,” kenangnya, “Sampai sekarang gue nggak ngerti kenapa gue bisa lolos tes itu dan diterima bekerja keesokan harinya. Bos gue waktu itu baik banget.” Selama bekerja untuk Progres, perusahaan animasi itu, Hakim lalu bertemu dengan orang-orang yang menurutnya sangat jago di bidangnya. Dikelilingi oleh lingkungan kreatif yang tidak pelit berbagi ilmu membuat Hakim kembali menggeluti dunia menggambar. Masa-masa itu diakuinya sebagai masa di mana ia paling intens menggambar. Dari mereka juga, Hakim kemudian mempelajari dunia digital, termasuk internet dan media sosial. “Percaya nggak, gue dulu nggak pernah punya Friendster,” gelaknya. Dari situ ia mulai memiliki beberapa akun media sosial seperti DeviantArt yang membantunya mem-posting karya-karyanya. Di media sosial juga ia bertemu dengan para seniman lain, termasuk Ario.

Sayangnya, karena satu dan lain hal perusahaan tidak berkembang. Satu persatu pegawainya akhirnya angkat kaki, termasuk Hakim. Tahun 2010, Hakim kemudian bekerja di Jakarta untuk sebuah perusahaan yang masih bergerak di bidang animasi bernama Lumine. Walaupun hanya bertahan selama sekitar satu setengah tahun, ia merasa mendapat suntikan semangat untuk terus menggambar karena melihat senior-seniornya di sana. Setelah keluar dari Lumine, nama Hakim mulai diperhitungkan di kalangan seniman dan ilustrator lokal. Ia sempat bekerja bersama Ario untuk produksi film Finding Srimulat, di mana Ario bekerja sebagai art director dan Hakim sebagai property master. Tidak heran keduanya kini seperti anak kembar siam, tidak terpisahkan. šŸ˜€

Sambil mengobrol, sempat tercetus pertanyaan iseng saya tentang jenggot panjangnya, yang sering diolok-olok Ario karena menurutnya mirip Syekh Pudji. Dengan tenang, Hakim yang lahir di Bandung pada tanggal 3 Desember 1983 bercerita tentang masa kecilnya yang dihabiskan di Kalimantan. “Dulu gue sering menemani bokap gue keluar-masuk hutan. Dibonceng naik motor dan bermain bersama. Waktu itu bokap gue gondrong dan berjenggot panjang, yang menurut gue cowok banget. Itu adalah saat-saat terbaik gue bersama bokap.” Kini Hakim tinggal di Bandung bersama ibunya yang telah bercerai dengan ayahnya, dan bekerja sebagai ilustrator penuh waktu.

Sebagai ilustrator, karya-karya Hakim telah sering mengisi majalah dan zine lokal maupun internasional. Ia juga sering mengikuti pameran dan eksibisi. Selain eksibisi reguler Kopling dan STGCC 2012, Hakim pernah mengikuti antara lain 2nd Singapore Tattoo Show 2010, Twitter/Art + Social Media Exhibiton 2010 di Diane Farris Gallery, Canada, Art For Live, Fine Art Auction 2010 di Vancouver, Canada, Trees of Life Exhibition 2011 di Edinburgh, Scotland, 1st Anniversary Exhibition by Homeless Longitude 2011 di Bali, dan pameran-pameran bergengsi lainnya di dalam dan luar negeri. Selain itu, sebagai tattoo designer, Hakim telah membuat desain tato untuk puluhan klien yang rata-rata berasal dari mancanegara.

Memasuki Jalan Tol Cikampek, Hakim lalu memperlihatkan buku album sketsanya pada saya. Dari buku itu saya dapat melihat perubahan dan pendewasaan dari karya-karyanya sejak bertahun-tahun lalu hingga sekarang. Kebanyakan karyanya berwarna hitam-putih. Keterbatasannya membuat Hakim jarang membuat karya berwarna, namun ia tidak ingin berhenti berusaha. “Kadang gue mewarnai dengan apa saja yang gue visualisasikan sebagai warna suatu objek. Misalnya warna kulit manusia, yang kelihatan oleh gue warna apa, maka itu yang gue gunakan.” Dalam menggambar dan dalam melakukan apapun, Hakim terbiasa untuk menghafalkan pola dan pattern benda-benda. Begitu juga dengan alat-alat mewarnai, seperti pensil warna misalnya, yang ia hafalkan bentuk dan pattern-nya. Kadang bila diperlukan, ia terpaksa meminta bantuan teman sesama ilustrator untuk menjadi asisten dalam mewarnai. Saya sempat mengetesnya dengan menunjuk beberapa benda yang kami lewati di jalan. Ia menebak dengan tepat warna penunjuk jalan dan kain terpal di atas truk, karena ia telah hafal sedari kecil akan warna benda-benda yang diajarkan. Lalu saya menunjuk sebuah traktor di tepi jalan. “Kuning!” sahutnya pasti. Padahal warna traktor itu hijau.

Hakim's artwork for ELLE Indonesia Anniversary Issue

Hakim’s artwork for ELLE Indonesia Anniversary Issue

Bahkan bagi saya yang awam akan seni visual, saya dapat melihat bahwa karya-karyanya yang ia akui banyak terpengaruh oleh Alphonse Mucha, Aaron Horkey, dan Joe Fenton adalah gambar yang mampu bercerita, atau berupa ilustrasi naratif. Sambil melihat-lihat albumnya, mata saya terpaku pada salah satu gambar yang melukiskan ibu hamil yang sedang merokok dan melukis bintang. “Itu cara gue menggambarkan Indonesia. Ibu hamil adalah negara yang mengandung harapan, tapi merusak diri sendiri dengan merokok. Melukis bintang karena bagaimanapun masih berusaha mencetak prestasi.” Ilustrasi bersambung di kertas lain di sebelah kirinya, gambar seorang ibu menggendong anaknya yang sehat dengan bintang-bintang sempurna di sekitarnya yang melukiskan gambaran ideal sebuah negara. Ombak yang menyatukan keduanya menceritakan kehidupan, yang menerpa batu yang diduduki si ibu hamil. Keren sekali, puji saya.

Hakim juga menjelaskan kenapa ia lebih suka menggambar wanita dengan tubuh gemuk dan wajah tidak cantik, karena menceritakan ketidaksempurnaan yang menurutnya justru adalah kekuatan. Saya teringat akan karya yang baru saja ia hibahkan pada saya sehari sebelumnya, hanya karena saya puji di akun Instagram-nya. “Kok gambar perempuan yang lo kasih ke gue cantik?” tanya saya. Hakim menjawab sambil senyum-senyum, “Dia cantik karena dia ikhlas, sudah melepaskan. The art of letting go, Nin.” Sial, apa maksudnya, pikir saya.

Tulisan ini diajukan untuk berpartisipasi dalam Proyek #PeopleAroundUs karya @aMrazing pada September 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 23, 2012 by in Art, People and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: