perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Pelesir di Kota Medan

Bulan lalu, tepatnya pada liburan akhir pekan panjang tanggal 15-18 November 2012, saya bersama kakak saya, Nanda, seharusnya pergi ke Sydney untuk menonton konser Coldplay. Kepergian ayah saya yang begitu tiba-tiba sebulan sebelumnya membuat kami mengurungkan niat kami itu. Kami menjual tiket konser kami dan sebagai gantinya, kami berusaha menghibur Ibu dengan mengajaknya mengunjungi Medan, kota di mana kakak tertua saya, Nasha, tinggal bersama keluarganya. Semenjak Nasha menikah tahun 2006, saya sebenarnya sudah beberapa kali menyambangi Medan, hanya saja saya tidak pernah punya waktu untuk berjalan-jalan. Keluarga almarhum ayah saya yang berdarah Batak telah merantau ke Bandung sejak beliau berusia 5 tahun dan hampir tidak ada keluarga dekat yang tersisa. Karena itu, kali ini saya bertekad untuk mengenal lebih dalam ibukota Sumatera Utara ini.

Day 1

Kami mendarat di Bandara Polonia ketika hari menjelang siang. Nasha datang menjemput bersama supir. Tujuan pertama kami, sayangnya tidak elit sama sekali, yaitu supermarket. Karena mengingat kami akan tinggal di rumah kosong milik Nasha yang tidak pernah ditempati, kami wanita-wanita agak cerewet mengenai kelangsungan hidup kami selama 4 hari ke depan, hehehe. Setelah menaruh barang dan makan siang di rumah Nasha, baru menjelang sore kami pergi karena saya mulai rewel ingin berjalan-jalan.

Tujuan wisata pertama kami adalah Tjong A Fie Mansion di Kesawan Square. Kediaman pengusaha besar Tjong A Fie yang didirikan tahun 1900 ini merupakan bangunan yang berdesain arstitektur campuran Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco dan menjadi obyek wisata bersejarah di Medan. Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya peranakan Melayu-Tionghoa. Terdiri dari lebih dari 30 ruangan, berbagai perabotan antik di rumah ini sungguh cantik dan bernilai tinggi. Sayangnya, karena termakan usia dan kurangnya dana, saya melihat beberapa bagian rumah – yang sebenarnya bernilai sangat tinggi – telah rusak. Mungkin karena pemeliharaan obyek wisata bernilai sejarah ini tidak mendapat dana dari pemerintah. Bangunan ini kini dikelola oleh keturunan Tjong A Fie, yaitu cucu dan buyutnya yang sangat ramah menyambut kami sejak kedatangan hingga kami meninggalkan tempat ini. Buyutnya yang menemani saya – yang kerap terpisah sendirian saking asyiknya berfoto – bahkan mengizinkan saya mengambil foto ruang sembahyang di lantai dua yang sebenarnya tertutup untuk publik.

IMG_3532

IMG_3536
IMG_3539

Selain di Medan, keluarga Tjong A Fie yaitu pamannya Cheong Fatt Tze juga memiliki kediaman megah berarsitektur mirip yang kini menjadi obyek wisata sejarah di Penang, yaitu the Blue Mansion. Sayangnya, kediaman keluarganya di Tiongkok telah hancur dimakan usia.

Dari Tjong A Fie Mansion, kami menyeberangi jalan dan mengunjungi salah satu tempat makan tertua di Medan, yaitu Tip Top Ice Cream and Restaurant. Tentunya untuk menyicipi es krimnya yang terkenal. Sedikit banyak, bagi saya nilainya mirip dengan restoran lama sejak zaman Belanda seperti Braga Permai di Bandung, Ragusa di Jakarta, atau Toko Oen di Semarang. Rasa es krimnya enak dengan rasa krim yang tidak terlalu kental dan cepat meleleh di mulut, seperti juga es krim jadul lainnya. Selain es krim, restoran ini juga menyediakan makanan khas restoran jadul, seperti poffertjes, bitterballen, dan masakan rumahan.

IMG_3540

IMG_3544

Kami lalu pulang karena ibu dan kedua keponakan saya sudah kelelahan.

Malamnya, kami makan di tempat makan wajib bagi keluarga kami setiap kali mengunjungi Medan, yaitu Seafood Waringin di Jalan Mayang. Menurut saya, ini adalah restoran seafood paling enak yang pernah saya makan. Menu wajib bagi saya di sini adalah kepiting soka lada hitam.

IMG_3554

Day 2

Pagi itu, saya dan Nanda meninggalkan rumah bersama supir sejak pukul 7.30. Sesuai saran abang ipar saya, Yuri, kami berkendara selama 3 jam menuju Berastagi. Awalnya sebelum berangkat ke Medan, saya menanyakan kemungkinan mengunjungi Danau Toba, tapi karena musim hujan dan keterbatasan waktu, maka kami mencari cara lain. Perjalanan menuju Brastagi sendiri cukup menyenangkan bagi saya, dengan pemandangan kota suburban dan pegunungan. Kami memotong jalan melewati Barusjahe, melewati perkebunan-perkebunan luas. Beberapa hal menarik perhatian saya, seperti keberadaan makam-makam megah di tengah kebun. Menurut Pak Supir, makam-makam itu adalah kuburan para tuan tanah. Saya juga menemukan bahwa di sana, setiap beberapa ratus meter terdapat bangunan gereja kecil dengan arsitektur yang sangat menarik, entah bergaya Batak Karo maupun art-deco. Setahu saya yang seorang muslim, gereja memiliki pembagian wilayah komunitas masing-masing. Keberadaan banyak gereja dalam satu wilayah bagi saya menunjukkan bahwa aktifitas religi di Tanah Karo itu sangat kuat dan kekeluargaan.

IMG_3559

Setelah cukup banyak “ooh”, “waah”, angguk-anggukan, dan lawakan tidak penting sepanjang perjalanan, akhirnya kami sampai ke tujuan kami, yaitu Taman Simalem Resort. Untuk  masuk, kami wajib membayar tiket seharga Rp. 150.000 untuk mobil keluarga. Dari harga itu, kami mendapatkan 2 voucher makan (di luar supir) senilai masing-masing Rp. 30.000 dan juga peta. Astaga, ternyata resort seluas 200 hektar ini luas sekali, dengan berbagai obyek wisata di dalamnya seperti Bird Park, Amphitheatre, Kawasan Agrobisnis, Campsite & Jungle Trekking, bahkan 9-hole Golf course yang sedang dibangun.

IMG_7578

Sempat bingung karena tujuan kami sebenarnya hanya mencari pemandangan Danau Toba, kami menuju Toba Cafe karena lapar. Mendekati penghujung tanah resort, kami berdua – dengan kampungannya – segera melontarkan “WAAAH” kencang begitu mendapati pemandangan Danau Toba biru luas terbentang. Sayangnya, saat itu Toba Cafe masih tutup. Kami lalu berputar mencari restoran lainnya, yaitu Kodon-Kodon Cafe. Terdapat beberapa tempat makan di resort ini, dan saya hanya asal menunjuk yang di peta tampak dekat dengan Danau Toba. Pilihan yang tidak salah, karena Kodon-Kodon Cafe ini menarik dengan gubuk-gubuk makan bergaya arsitektur Bataknya yang langsung menghadap Danau Toba.

IMG_7571

Untuk dapat duduk di salah satu gubuk ini, terdapat ketentuan minimum spending Rp. 300.000. Terbiasa dengan harga Jakarta, saya menggampangkan, “Ah, beli aja makanan lebih buat dibawa pulang,” lalu segera duduk di salah satu gubuk. Begitu melihat menu saya cukup kaget melihat harganya yang relatif murah untuk ukuran resort. Namun karena kelaparan, saya dan Nanda memesan makanan dari pembuka hingga penutup. Menu yang ditawarkan adalah makanan Indonesia seperti sop buntut, kari ayam, dan lumpia goreng. Menurut saya, rasa makanannya biasa saja, tapi jadi enak karena dimakan sambil terkesima menatap pemandangan epik Danau Toba, hehehe. Cukup lama kami bengong sambil minum kopi dan makan cemilan di sana. Ketika membayar, kami sempat bingung karena sudah memesan banyak sekali tapi tidak juga tercapai Rp. 300.000, hingga akhirnya memesan cukup banyak juga untuk dibawa pulang. Untung juga voucher kami berlaku dan dapat langsung digunakan.

IMG_7569

Dari Kodon-Kodon Cafe, kami mencari-cari air terjun, tapi malah tersasar ke One Tree Hill, salah satu tempat melihat view Danau Toba di resort. Tentu saja kami turun dan berfoto, walaupun angin dingin bertiup cukup kencang.

IMG_3572

Karena hari sudah siang dan itinerary kami masih cukup panjang, kami lalu meninggalkan Taman Simalem Resort dan kembali mengarah ke Berastagi. Kali ini, tujuan kami Air Terjun Sipiso-piso. Berbeda dengan Taman Simalem Resort yang mewah, obyek wisata ini jauh lebih merakyat. Untuk mencapai air terjun harus menuruni ratusan anak tangga. Karena kami berdua adalah dua wanita pemalas, kami berhenti di sebuah gazebo peristirahatan dan menikmati pemandangan air terjun besar yang indah itu dari sana, dobel dengan lagi-lagi pemandangan hebat Danau Toba di seberangnya.

IMG_7587

IMG_7581

Dari Air Terjun Sipiso-piso, dari sekian daftar obyek wisata yang diberikan Bang Yuri, kami lalu secara acak memilih menuju sebuah tempat bernama Bukit Kubu. Ternyata tempat ini adalah sebuah hotel tua. Untuk masuk, kami harus membayar tiket seharga Rp. 30.000. Terdapat taman luas yang tampak digunakan untuk piknik oleh orang-orang. Penampilan tempat ini membuat saya merasa terlempar ke era 80an. Lucunya, ketika turun dari mobil, kami baru sadar bahwa petugas menaruh tikar untuk piknik di atas mobil, haha. Karena saya butuh men-charge baterai telepon genggam saya, kami lalu masuk menuju restorannya yang sepi. Menurut saya, bangunan restorannya yang antik cukup menarik, walaupun menu yang dijual hanya mie instan dan teman-temannya. Tapi rasa teh susunya yang murah meriah ternyata enak sekali.

IMG_3585

IMG_7594

Dari Bukit Kubu, kami mencari kampung adat, tetapi malah tersasar ke Taman Hutan Raya Bukit Barisan. Karena setelah bertanya pada beberapa orang tetap tidak ketemu dan hari sudah terlalu sore, akhirnya kami memutuskan untuk melewatkan kampung adat dan pulang ke Medan.

IMG_3586

Sesampainya di rumah, Mie Kumango sudah menanti. Penampakannya tidak memukau, dan bagi saya yang tinggal di Bandung yang penuh dengan kuliner bakmi-nya, saya tidak berharap banyak. Tapi ternyata rasanya enak sekali! Bumbunya lain dengan bakmi yang ada di Bandung maupun Jakarta. Tidak lupa, malam itu kami membelah durian – dalam artian sebenarnya. Belum ke Medan kalau belum makan durian.

IMG_3589

IMG_3594

Day 3

Menjelang siang, ibu saya, Nasha, Nanda, dan saya berburu brunch. Kali ini tujuan kami adalah kedai kopi tertua di Medan, Kedai Kopi Apek di Jalan Hindu, Kampung Keling. Kedai yang diperkirakan berdiri pada awal 1900an ini tidak besar dan tampak agak lusuh, tapi perabotan antiknya menarik mata saya. Saya yang memang pada dasarnya menyukai benda-benda tua langsung jatuh cinta. Rasa kopinya sangat khas dan enak, begitu juga roti kaya-nya. Untungnya kami tidak terlambat, karena roti kaya yang kami pesan adalah roti terakhir yang tersedia hari itu.

IMG_3596

IMG_3602

Dari kedai, kami lalu menyambangi Istana Maimun di Jalan Brigjen Katamso. Istana Kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1888 yang mengusung arsitektur Islam Melayu kental ini banyak menggunakan perabotan Eropa pada interiornya, seperti juga arsiteknya yang berkebangsaan Italia. Saat ini, Sultan Deli yang bertahta berusia 14 tahun, dilantik pada tahun 2005 setelah ayahnya meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Aceh di tahun yang sama. Ketika kami masuk, balairung istana baru saja dibuka setelah sebelumnya diadakan pengajian, pertanda istana masih aktif digunakan. Hanya bagian utama istana saja yang dibuka untuk umum, sisanya hanya dapat dipandangi dari luar. Setiap hari, juga diadakan pertunjukan musik Melayu.

IMG_7625

IMG_7632

IMG_7636

IMG_7643

Dari Istana Maimun, kami menuju Rumah Makan Cahaya Baru di Jalan Teuku Cik Ditiro. Dulu, saya benci sekali makanan India. Baru setelah mencicipi restoran ini beberapa tahun lalu, saya selalu kangen dengan masakannya. Cheese naan, nasi bryani, mutton curry, pallak panner, dan berbagai makanannya yang menggunakan keju kambing dan bumbu khasnya itu nggak ada duanya.

IMG_7651

IMG_3621

Lalu ke mana kami setelah kenyang? Sayangnya, saya dan Nanda lalu melipir ke Starbucks Coffee di Cambridge Mall, karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan.

Malamnya, karena ini adalah malam terakhir, abang ipar saya mengajak kami semua makan bersama di luar. Ketika melihat papan namanya, saya sempat bingung. Lha, ke Medan kok diajak makan pecel lele? Ternyata, Pecel Lele Mbak Bolek di Jalan Wajir ini juga menyediakan seafood dan sop daging. Rasa seafood-nya berbeda dengan chinese seafood seperti Waringin, lebih “lokal”. Ya, lumayan lah.

IMG_3625

Medan kaya akan percampuran budaya Batak, Cina, India, maupun kultur lainnya yang diasimilasikan oleh pendatang. Untuk pecinta kultur budaya, kota ini patut disambangi. Dan tentu saja, bagi para pecinta kuliner, siap-siap berat badan naik sepulangnya dari sini.

IMG_7658

Iklan

9 comments on “Pelesir di Kota Medan

  1. ariohendra
    Desember 14, 2012

    pertama, please accept my deepest condolence untuk mbak Nindya dan keluarga.
    postingannya bagus mba, medan itu banyak yang jadul/retro gitu ya keren banget, trus itu air terjunnya apa ga bahaya ya :).
    Oya mba just curious, gimana sih biar jadi dokter trus masih bisa jalan jalan? ada tips mungkin

    • nindyalubis
      Desember 14, 2012

      Hai Ario!
      Makasih ya ucapan belasungkawanya. Mohon doanya. 🙂
      Medan memang retro banget sih, dan kerasa percampuran budayanya. Kalau di Kampung Keling, malem-malem kamu bisa jajan martabak sama orang India asli. 😛
      Kalau tips jadi dokter doyan traveling, gimana ya? Hahaha. Banyak ilmu ninja sesatnya sih. 😛 Kalau masih “di bawah” orang, atau kalau masih kuliah sih, sering-sering pastiin jadwal kosong aja, terus book dari jauh-jauh hari. 😀

      • ariohendra
        Desember 14, 2012

        iya mba, hah banyak orang Indianya asli? asik dong banyak budaya yang beda, syukur kalo rukun 🙂
        kalo sudah semester tujuh dan mau koass bisa jalan jalan ga mba ya T.T

      • nindyalubis
        Desember 14, 2012

        Iya, kalau di Medan “Keling” itu sebutan untuk orang India. 😀
        Kalo saya dulu semester terakhir sarjana sibuknya parah gila-gilaan, tapi abis itu kan spacing-nya lama sebelum koass. Nah, mulai rencanain dari sekarang mau traveling ke mana, hunting tiket biar murah, terus kalo lagi senggang mulai nyicil bikin itinerary. Efektif lho buat jadi penyemangat biar cepat kelar kuliah. 😀

      • ariohendra
        Desember 14, 2012

        gitu ya mba, bener nih liburnya agak lama sebelum klinik, semoga bisa jalan jalan, makasih loh mba saran sarannya 😀

  2. Cumi MzToro
    Desember 26, 2012

    tjong a fie ini sama kan yaaa dengan yg di penang ???

    • nindyalubis
      Desember 28, 2012

      sama sama gak sama sih. blue mansion di penang itu rumah pamannya tjong a fie, yag kemudian dia buat “replika”nya di medan, karena itu bentuknya sama persis. begitu yang saya baca. 🙂

  3. Mulya ritonga
    September 14, 2013

    Nice info sis.

  4. Ping-balik: Things to do in Medan | The Uber Journey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 13, 2012 by in Travel and tagged , , , , , .
%d blogger menyukai ini: