perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Bolshoi Ballet’s Swan Lake @ Esplanade Theatre SG

Kali ini, izinkan saya bercerita tentang satu hal yang saya cintai. Selama kurang lebih 1,5 tahun belakangan saya kembali menekuni hobi masa kecil, yaitu menari. Saya memulai pelajaran ballet klasik saya di Bandung ketika berusia 7 tahun selama 8 tahun, sebelum kemudian berhenti 12 tahun. Zaman sekarang, menari ballet di negara seperti Indonesia apalagi di kota kecil, memang sedikit tidak umum. Di sini menari ballet didentikkan dengan anak-anak perempuan kecil unyu dengan tutu merah muda. Seumur hidup saya belum pernah menonton nomor ballet klasik selain yang diadakan oleh sekolah ballet saya – di mana saya terlibat menari di dalamnya – yang biasanya “hanya” diangkat dari dongeng kanak-kanak. Hingga akhirnya kesempatan itu datang. Akhir minggu lalu saya berangkat ke Singapura bersama @KartuPos untuk menonton pertunjukan ballet klasik paling terkenal sepanjang masa, yaitu Swan Lake yang dipersembahkan oleh salah satu teater ballet kelas dunia, Bolshoi Ballet dari Rusia. Menonton Swan Lake secara langsung, apalagi dari Bolshoi, adalah impian semua ballerina dan pecinta ballet klasik. Saya rasa bahkan orang yang awam terhadap ballet sekalipun tentunya pernah mendengar Swan Lake dan Bolshoi. Pertunjukan di Esplanade Theatre ini adalah satu-satunya perhentian mereka di Asia tahun ini. Karena itu tentu saya antusias sekali menontonnya. Saya hanya pernah menonton Swan Lake dari film, itupun bukan oleh Bolshoi melainkan Mariinsky Theatre dan American Ballet Theatre. Saya pun memutuskan untuk membeli tiket pertunjukan 23 November 2013 malam.

swan_lake_headerKetika membeli tiket dan merencanakan perjalanan, saya sama sekali tidak mengetahui bahwa produksi Swan Lake Bolshoi kali ini adalah karya Yuri Grigorovich, mantan art director Bolshoi. Bila tahu, mungkin, saya tidak akan kaget ketika menontonnya. Act 1 dibuka dengan alur dan ritme yang cukup lamban dibanding Swan Lake manapun yang pernah saya tonton sebelumnya. Bagi orang awam yang menonton, bisa jadi akan terasa membosankan. Saya mengerutkan kening ketika beberapa bagian dari plot yang saya tahu dari Swan Lake dipotong. Misalnya bagian ketika Prince Siegfried mendapatkan hadiah busur panah dari sang Ratu ibundanya. Memasuki Act 2, tanpa panah dan busur, tentunya tidak ada adegan Sang Pangeran pergi berburu dan kemudian bertemu Odette si Puteri Angsa. Perpindahan dari Act 1 ke Act 2 – sepenafsiran saya – adalah adegan Sang Pangeran yang merasa kesepian ketika ditinggalkan semua orang istana usai berpesta lalu berjumpa dengan siapa yang disebut Grigorovich sebagai Evil Genius, yang kemudian menunjukkan penampakan Odette dan para angsa. Dalam kisah yang saya tahu, Evil Genius bernama Rothbart, sang penyihir jahat yang mengutuk Odette menjadi angsa di siang hari dan kembali jadi manusia di malam hari. Setting panggung pun tampak jauh lebih sederhana, suram dan gelap, dibandingkan setting Swan Lake lain yang pernah saya tonton – yang mirip dunia dongeng.

Prince Siegfried & friends of Prince's pas de trois. Photo by straitstimes.com

Prince Siegfried & friends of Prince’s pas de trois. Photo by straitstimes.com

Ekaterina Shipulina (Odette) & Ruslan Skvortsov (Siegfried) on rehearsal. Esplande Theatre, Nov 20. Photo by news.xinhuanet.com

Ekaterina Shipulina (Odette) & Ruslan Skvortsov (Siegfried) on rehearsal. Esplande Theatre, Nov 20. Photo by news.xinhuanet.com

Begitu lampu dinyalakan dan waktu istirahat tiba, saya segera membuka buku panduan. Ternyata inilah versi lain Swan Lake yang selama ini hanya pernah saya dengar selintas. Penafsiran Yuri Grigorovich telah lama menjadi kontroversi, karena beliau mengubah Swan Lake yang bernafaskan fairytale menjadi apa yang ia sebut dengan dramatic realism. Saya cukup bingung pada awalnya, namun saya memutuskan untuk memperhatikan detailnya sejauh yang saya bisa sebagai seorang penari ballet karbitan.

Setelah Act 3 dengan para Brides-To-Be dan Odile yang sangat mengagumkan, saya kembali mengerahkan konsentrasi pada Act 4 yang berbeda. Alur pada Act 4 ini terasa sangat emosional. Barulah saya sadari pada babak terakhir ini, kenapa Rothbart disebut sebagai Evil Genius pada produksi ini adalah karena ia kini memiliki peran yang jauh lebih lebar daripada sekedar menjadi seorang penyihir di dunia dongeng; ia adalah pengejawantahan Takdir. Dan kini baru terasa bahwa peran Pangeran Siegfried yang pada versi Tchaikovsky adalah seorang prince charming penyelamat puteri tersihir, berkembang menjadi pahlawan cerita; seorang manusia biasa yang kalah oleh suratan. Beberapa bagian dipotong, seperti adegan perkelahian sang pangeran dan penyihir. Akhir kisah pun tidak berakhir bahagia seperti pakem sebelumnya.

Rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by news.xinhuanet.com

Rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by news.xinhuanet.com

Setelah menyusuri internet dan membaca-baca, saya menyadari bahwa Swan Lake versi Grigorovich memang tidak sedikit mendapat kecaman. Salah satunya adalah yang saya baca di harian online The Guardian. The Guardian, mungkin, sebagai milik Inggris dengan balletnya yang berkurikulum Royal Ballet Academy (RAD) yang sangatlah patuh pada teknik dan pakem memiliki prinsip yang berbeda. Bagaimanapun, saya sendiri kaget mengetahui Bolshoi sebagai salah satu institusi ballet klasik tertua dunia – dan juga adalah tempat pertama kali Swan Lake lahir pada tahun 1885 – mengambil langkah berani dengan memroduksi Swan Lake versi Grigorovich sejak tahun 1970an. Bagi saya pribadi, saya sangat menikmati – walau sambil terbengong-bengong – pertunjukan Swan Lake versi berbeda yang hanya pernah saya dengar sebelumnya. Bagi saya yang juga adalah penggemar cerita rakyat asli – bukan a la Disney – yang acapkali bernuansa gelap, versi Swan Lake kali ini memiliki pesan yang sangat dalam dan teatrikal. Bolshoi membuktikan bahwa ballet klasik adalah sepenuhnya seni dengan segala kekuatannya, bukan hanya soal teknik dan klasikalitas.

Memang, saya mendengar bahwa ballet Rusia yang diajarkan dengan kurikulum Vaganova sangatlah teatrikal. Saya sendiri mempelajari ballet klasik dengan kurikulum RAD semaja kecil hingga remaja, lalu mendalami Australian Teaching of Dancings (ATOD) belakangan. Dari segi teknik tentu tidak perlu diragukan lagi kemampuan para principal ballerina Bolshoi. Ekaterina Shipulina yang menari sebagai Odette/Odile malam itu adalah ballerina yang pernah saya lihat sejauh ini yang paling sukses memerankan kedua peran tersebut secara seimbang. Yang saya sedikit bingung hanyalah kenapa ia tidak menarikan tepat 32 fouette dari Odile yang sangat terkenal, melainkan sekitar 28 kali putaran. Tentu saya menghitungnya, karena itulah salah satu adegan paling populer dalam Swan Lake. Hitungan saya kebetulan sama dengan kawan Kenny dari @KartuPos yang menonton bersama saya, Ve Handojo. Saya sendiri sampai sekarang tidak pernah berhasil melakukan fouette lebih dari 4 kali, maka saya berpikir mungkin hitungan tersebut dicocokkan dengan ritme lagu karya Tchaikovsky yang – barangkali – juga dimodifikasi. Dari versi lama, salah satu peran favorit saya dalam Swan Lake adalah The Fool, yang perannya pun menyempit dalam versi ini. Karena The Fool adalah salah satu nomor tarian tersulit untuk laki-laki. Namun bagaimanapun, saya memperhatikan Ruslan Skvortsov cukup mampu membawakan peran Siegfried yang jauh lebih besar dari versi sebelumnya, dan mengisi panggung dengan gemilang.

Ruslan Skvortsov as Prince Siegfried on rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by chinadaily.com.cn

Ruslan Skvortsov as Prince Siegfried on rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by chinadaily.com.cn

Saya rasa, kali pertama saya menonton produksi teater ballet besar secara langsung ini sempurna. Karena saya berkesempatan melihat dari dekat sesuatu yang selama ini sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan saya, dan bahkan lebih baik: versi Yuri Grigorovich jauh dari ekspektasi saya – baik secara positif maupun negatif – dan sukses membuat saya ternganga – apapun pandangan subyektif orang terhadapnya. Sekali lagi, sebagai ballerina amatir dari kota kecil di negara tersisih, saya berharap dapat menonton pertunjukan-pertunjukan ballet besar lainnya, dan saya tidak akan berhenti belajar. 😀

Ekaterina Shipulina as Odette on rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by chinadaily.com.cn

Ekaterina Shipulina as Odette on rehearsal, Esplanade Theatre, Nov 20. Photo by chinadaily.com.cn

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 25, 2013 by in Art, Review and tagged , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: