perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

Stranger and the City (Part 2)

Food, Food, Food!

Saya sengaja membuat posting khusus karena New York adalah surga makanan. Segala jenis makanan dari berbagai belahan dunia ada. Bermacam-macam kreasi kuliner kelas dunia lahir di sini, seperti cronut misalnya. Dengan sedikitnya waktu saya terpaksa membatasi itinerary dalam kegiatan icip-icip. Karena selain banyaknya, semakin terkenal satu tempat makan berarti semakin panjang juga antriannya. Dan ya, di New York, orang benar-benar rela mengantri berjam-jam untuk makan di satu tempat meski dalam udara dingin. Maka dari itu saya tidak terlalu ngoyo. Tapi tebak, hampir semua makanan yang saya coba – yang asal pilih sekalipun – tidak gagal! Satu lagi yang cukup membuat saya bahagia, ternyata makan di New York tidak semahal yang saya kira. Asumsi saya dan Becca, because New York is all eateries, semua harus menyediakan yang terbaik dengan harga kompetitif bila tidak mau bangkrut karena persaingan yang sangat ketat. Menurut Becca, semua orang yang pernah ke kota ini akan berlomba-lomba mengatakan bahwa ia mengetahui tempat makan terbaik. Padahal ada ribuan yang perlu dicoba untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Beberapa yang saya coba di bawah ini memang termasuk dalam bucketlist saya. Tapi selebihnya – dan jauh lebih banyak – kami masuki hanya berdasarkan intuisi. Untungnya, saya dan Becca sama-sama tukang makan! 😛

*) Klik judul untuk situs online dan informasi

1. Magnolia Bakery

Termasuk dalam bucketlist saya, cafe yang laris manis sejak masuk serial TV “Sex and the City” ini adalah makanan pertama saya di NYC. Senangnya, salah satu cabangnya di Upper West Side tidak jauh dari flat yang kami sewa. Saya memilih banana pudding yang terkenal sangat enak ketimbang cupcake-nya – yang lebih populer lagi. Dan memang, it was to-die-for!

photo 1

Magnolia Bakery inside

Magnolia's Banana Pudding

2. Falafel

Jenis makanan ini tampaknya sangat populer di New York. Tersebar di berbagai penjuru kota, baik kedai maupun di stand pinggir jalan. Makanan Timur Tengah berbahan dasar chickpeas ini seringkali dijual bersama makanan vegetarian lainnya. Sayangnya, saya lupa nama kedai yang kami masuki di Upper West Side, but it was good.

3. Cocina Economica

Dari semua yang saya coba di NYC, inilah favorit saya. Becca seringkali bertanya makanan apa yang ingin saya coba, dan hari itu saya sedang ngidam makanan Mexican. Soalnya, di Indonesia saya jarang menemukan makanan Mexican yang otentik. Becca lalu membawa saya ke tempat yang tidak jauh dari flat kami di UWS ini, yang membuatnya penasaran karena selalu dipenuhi pengunjung. Ternyata enak sekali! Everything is good and well-cooked. Harganya pun layak. Di pintu resto, tertempel bangga stiker rekomendasi dari Zagat dan Trip Advisor. Tidak heran.

Cocina Economica

Cocina Economica corner

Mexican meals @ Cocina Economica

4. Le Pain Quotidien Bakery

Kami mampir ke sini ketika usaha pertama mengunjungi Serendipity 3 gagal. Ternyata ini adalah salah satu bakery chain yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Saya sendiri tidak memesan makanan, tapi menurut Becca sandwich-nya enak. Dan selera Becca sangat dapat diandalkan. Interior French country-nya yang hangat menyenangkan untuk duduk-duduk ngopi.

5. Joe Coffee

Kedai kopi waralaba yang selalu saya datangi setiap pagi, to grab my morning caffeine fix. Saya suka sekali citarasa kopinya yang cukup kuat dengan tingkat keasaman rendah. Yang menyenangkan, mereka selalu membuat latte art di atas kopinya, pada latte-to-go sekalipun.

Joe's Coffee cup

6. Birdbath Neighborhood Green Bakery

Kedai ini berada tepat di sebelah Joe Coffee di UWS, jadi sesekali kami membeli breakfast-to-go di sini. Awalnya saya agak ragu dengan menu vegetarian-nya, tapi ternyata pitta bread sandwich berisi chickpeas yang saya beli benar-benar enak!

7. The Halal Guys

Tempat ini direkomendasikan Kenny dari @KartuPos dan ternyata memang sering disebut-sebut sebagai stand kakilima terbaik di NYC. Dan ya, berbagai kebab asal Timur Tengah ini enak sekali menurut saya! Porsinya pun besar untuk harganya yang miring. Untuk orang Asia yang rindu dengan nasi, mereka juga menyediakan pilihan.

The Halal Guys

8. Hot dog booth @ Times Square

Saya membelinya karena makan hotdog pinggir jalan di NYC adalah salah satu bucketlist saya. And doing that at Times Square was quite an experience, haha. Walau sebenarnya rasa chilli hotdog yang saya coba, sih, biasa saja.

me @ Times Square

9. Famous Original Ray’s Pizza

Kami mendatangi kedai ini dalam perjalanan pulang di larut malam dan kebingungan memilih tempat makan malam. Ini adalah pilihan saya, karena selain murah, menurut saya kami sudah makan terlalu banyak makanan sehat selama di NYC (hehe). Tampak beberapa anak muda bergaya punk ketika kami masuk dan Becca tidak tampak senang, apalagi ketika seorang staf mengepel lantai dengan cairan berbau tajam dan membuat selera makan hilang. Akhirnya kami memilih membawa pulang sisa makanan kami. Saya menghabiskan pizza saya di flat, dan sejujurnya, pizza ala New York berpotongan raksasa ini sungguh enak! 😛

10. Once Upon a Tart

Cafe ini adalah salah satu dari daftar tempat makan yang ingin Becca coba. Berbagai jenis pie ada di sini. Karena tidak fanatik dengan dessert manis, saya mencoba Savory Spinach Tart-nya. Lumayan enak dan porsinya mengenyangkan untuk ukuran snack. Untuk orang Indonesia yang terbiasa dengan makanan berbumbu mungkin akan terasa sedikit hambar. Tapi bagi saya citarasa aslinya justru jadi tidak “terganggu”.

Spinach Tart

11. Momofuku Noodle Bar

Ini termasuk dalam daftar bucketlist saya karena banyak yang merekomendasikan. Apalagi saya memproklamirkan diri sebagai Duta Ramen Jakarta, hehehe. And believe me, it was the best ramen and pork bun I’ve ever had! Daging pada pork bun dan chasiu-nya empuk tebal dan semua dibumbui dengan sangat tepat. Tidak sia-sia menunggu dalam waiting list sebelum mendapat tempat.

Momofuku ramen

Momofuku pork bun

12. Macaron Parlour

Kami tertarik dengan macaron berwarna-warni cantik ketika melewati tempat ini. Ternyata mereka menjual macaron dengan berbagai rasa unik, seperti thai chilli dan candied bacon macaron with maple cream cheese filling. Becca yang penyuka makanan manis langsung membeli satu kotak, sementara saya hanya mencoba macaron rasa earl grey tea with milk chocolate ganache. Rasanya… lucu, haha. Tapi saya suka karena macaron-nya tidak terlalu manis dan teksturnya tepat.

Macarons Parlour

13. Davey’s Ice Cream

Siapa bilang es krim bukan hidangan musim dingin? Sekali lagi, kami memasuki kedai ini hanya karena impulsif, dan tampaknya begitu juga dengan para pengunjung lain. Staf yang melayani kami sangat ramah, kami mencoba berbagai rasa sebelum menentukan pilihan masing-masing. Semua rasa es krim handmade ini enak sekali, namun pilihan saya jatuh pada pistachio. Bahan-bahannya terasa segar dan berkualitas.

Davey's Ice Cream

14. Mast Brothers Chocolate

Tempat ini termasuk dalam bucketlist Becca. Tempat ini cukup ramai oleh pengunjung, sepertinya lumayan populer. Saya sendiri tidak membeli apa-apa di sini, karena tampaknya repot membawa-bawa coklat sementara saya masih akan pergi ke Iceland. Tapi saya ikut mencoba berbagai sampel craft chocolate dengan bahan berasal dari berbagai negara yang tersedia di meja.

15. Pies ‘n’ Thighs

Kami harus mengantri beberapa lama sebelum mendapat meja karena tempat ini dipenuhi pengunjung. Tapi semuanya terbayar. We had all the good, unhealthy southern way! Haha. Ayam gorengnya renyah, tidak terlalu berminyak dan tekstur pie-nya pas dengan butter yang sedap. Becca mengajari saya mencampur sirup maple dengan saus sambal lalu memakannya dengan pie, waffle, maupun mac ‘n’ cheese, and that did work. It was really, really good. Tempat ini juga menjual beberapa pilihan craft beer. Dengan lokasinya yang di Williamsburg, rata-rata tamu tentu saja adalah kawula hipster bergaya. Enak di lidah dan enak di mata. :p

Pies 'n' Thighs

16. Serendipity 3

Ketika pertama kali ke sini, tempat ini penuh sesak oleh pengunjung. Kami mendaftarkan nama pada waiting list namun diperkirakan kami baru akan mendapat tempat 2 jam kemudian. Baru kami sadari itu adalah hari Jumat. Maka di pada hari Senin yang merupakan hari terakhir saya, kami datang tepat setelah restoran buka setelah membuat reservasi malam sebelumnya. Selain makan siang, tentu saja kami mencoba frozen ice chocolate yang legendaris. Rasa minuman sejenis frappe coklat itu ternyata bagi kami biasa saja, walau cukup unik dan porsinya besar. Sandwich saya cukup sukses – well, mengingat harganya yang tidak murah saya kira wajar. Meski begitu, interior genitnya menyenangkan. Saya juga membeli beberapa bungkus bubuk frozen hot chocolate untuk oleh-oleh.

Serendipity 3

Serendipity 3 1st floor

Serendipity 3 2nd floor

Frozen Ice Chocolate

 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya coba di New York City. Semoga bisa tercapai suatu hari nanti, dengan waktu tinggal yang lebih lama lagi. Dan mungkin, di musim lain untuk pengalaman yang berbeda. Dan ya, saya janji, saya pasti kembali ke sini! 😉

Iklan

2 comments on “Stranger and the City (Part 2)

  1. arievrahman
    September 2, 2014

    Selalu iri sama yang suka makan tapi gak gemuk, hih!

    • nindyalubis
      September 2, 2014

      …gue gak gendut dari manaaaaaa?! *cubit lemak perut* *bergetar*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2014 by in Review, Travel and tagged , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: