perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

The Land of Saga

“Kok Iceland sih?” adalah pertanyaan terbanyak yang saya dengar dari sebelum, semasa, hingga setelah kepulangan saya dari perjalanan ini. Pulau di utara Eropa yang termasuk gugusan negara Nordic berkultur Scandinavia ini memang belum lazim menjadi tujuan wisata turis Indonesia. Apalagi mendengar seorang wanita bepergian sendirian ke sana. Walau seringkali muncul di film-film – seperti The Secret Life of Walter Mitty dan Game of Thrones – people are still clueless about it. Dibantu oleh @KartuPos, saya berpetualang di negara ini tanggal 25 Februari hingga 2 Maret 2014. Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Reykjavík, ibukota Iceland, saya mengerti mengapa banyak musisi dan segala makhluk mitologi – elves, trolls, fairies, yule lads, you name it – lahir di tanah Viking ini. Negeri ini dipenuhi kecantikan yang absurd. Inilah alasan-alasan yang membuat saya jatuh cinta pada negeri asal legenda Saga ini.

photo 2

 

*)Klik tautan untuk detail dan informasi

1. Aurora Borealis

Menyaksikan fenomena Aurora Borealis atau yang dikenal sebagai Northern Lights adalah salah satu hal yang berada dalam daftar to-do-list saya sebelum mati. Disebut juga sebagai “Dance of  The Spirits”, cahaya alami yang berasal dari magnetosfer dan solar wind ini hanya terlihat pada musim dingin di area yang dekat dengan kutub geomagnetik – termasuk Iceland. Tahun 2014 ini dikatakan sebagai tahun yang tepat untuk berburu Aurora karena aktivitas solarstorm yang tinggi. Selama 5 malam masa tinggal saya, ia bahkan menampakkan diri sebanyak tiga kali, meski saya ‘hanya’ sempat melihat dua.

Saya pertama kali melihatnya di malam pertama saya dengan mengikuti tur dari Superjeep. Sayangnya ia tampak malu-malu. Ia berpendar muncul hanya dalam balutan warna hijau dan tidak banyak berdansa. Saya juga salah kostum dengan hanya memakai mantel biasa, sementara yang lain memakai jaket olahraga musim dingin tebal tahan angin. Untung saya tidak mati hipotermia.

photo 4

photo 3

Baru pada malam ketiga, pertemuan kami lebih bersahabat. Aurora muncul di langit kota, terang benderang dan riang gembira, mengalahkan polusi cahaya. Ia menari-nari ceria dalam warna-warni hijau, merah, pink dan ungu. Sayang saya lupa setting kamera untuk menangkapnya. Apalagi ia berada tepat di atas kepala. Tapi malam itu, dia terlalu cantik untuk dilewatkan hanya untuk memusingkan kamera.

photo 5

2. The Magical Landscape

Iceland is the land of fire and ice. Alamnya terbentuk dari letusan gunung berapi selama ribuan tahun, tanah semi-tundra, dan musim dingin yang cukup kejam. Þingvellir National Park

Selain Aurora Borealis, Golden Circle adalah tujuan wisata paling populer. Bagi sebagian orang, inilah daya tarik utama. Rute sepanjang 300 km di selatan Iceland ini utamanya terdiri dari Þingvellir National Park, lembah geotermal aktif Haukadalur, dan Gullfoss Waterfall. Di Þingvellir National Park, kami menemukan keindahan Þingvallavatn, danau alami terbesar di Iceland, dan melihat retakan pergeseran benua Amerika Utara dan Eurasian. Kami berjalan melewati celah retakan bumi yang diakibatkan letusan gunung berapi ribuan tahun lampau dan berdiri di situs Parliament of Alþingi, insitusi parlemen tertua di dunia yang didirikan bangsa Viking. Lembah geotermal Haukadalur adalah lokasi dua geyser terbesar dan terkuat, The Great Geysir yang bererupsi 4-5 kali sehari, dan Strokkur yang mengalami erupsi setiap 4-5 menit. Gullfos Waterfall yang berasal dari sungai Hvítá adalah fenomena lain yang membuat terpana; air terjun agung yang setengah membeku di musim dingin. Operator tur juga membawa kami ke Faxi Waterfall, air terjun cantik yang lebih kecil tak jauh dari Gullfoss. Kami juga mengunjungi Langjökull Glacier – glasier kedua terbesar di Iceland – dan mendakinya dengan dengan jeep. Berada 1450 m di atas permukaan laut, di atas pegunungan es dengan salju putih sejauh mata memandang adalah suatu keajaiban bagi penduduk negeri tropis seperti saya! Di sini, operator tur kami juga memberikan opsi untuk mengendarai snowmobile yang tidak saya ambil karena mahal, hehe. Setelah menjajaki Golden Circle ini, I swear I saw an elf!

photo 3

photo 4

photo 5

Faxi

photo (80) copy

Selain mengikuti tur Golden Circle, saya juga mengikuti tur winter snorkeling di Silfra Crack yang memberikan pengalaman snorkeling di antara dua pecahan benua Amerika Utara dan Eurasia dengan visibility hingga 200 meter. Juga lava tubing, mengeksplorasi gua yang terbentuk dari aliran lava gunung berapi ribuan tahun lampau dengan stalagtit es di musim dingin.
stalagtit es di dalam Gjábakkahellir 3. Thermal Pools

Orang Iceland memiliki kegemaran unik berendam di kolam air panas. Banyak kolam-kolam pemandian air panas (yang mereka sebut kolam renang) dengan temperatur berkisar dari 38-43° C tersebar di seluruh Islandia, baik yang alami maupun buatan. Selain karena suhu dingin, Iceland memiliki geothermal power plants yang memungkinkan pengadaan energi murah. Yang saya kunjungi adalah favorit turis mancanegara, Blue Lagoon, yang terletak tak jauh dari bandara Keflavík. Selain arsitekturnya yang cantik dikelilingi batuan lava hitam dengan air bermineral berwarna biru toska, tempat ini menawarkan atraksi turis dengan spa, restoran, toko kecantikan dan suvenir. Harga tiket masuk Blue Lagoon berkisar dari 20 – 40 Euro, paling mahal dibandingkan kolam-kolam air panas lainnya. Karena itu penduduk lokal lebih banyak ditemui di kolam-kolam termal lain. Sebuah pantai di utara bernama Nauthhólsvík bahkan juga dihangatkan dengan energi geotermal dan menjadi tujuan wisata pemandian orang lokal.

photo 5

4. Reykjavík

Di hari pertama saya tiba di Reykjavík pada hari Selasa subuh, saya turun dari bus yang mengantar saya ke Kex Hostel. Mengantuk, mata saya masih meraba-raba arsitektur gedung-gedung mungil yang rapat dan tulisan-tulisan berbahasa Icelandic yang ajaib. Begitu bus menderu pergi, saya memutar badan dan astaga… tampak laut dan gunung Esja bersalju di depan saya, tepat di seberang jalan. Padahal itu di pusat kota.

IMG_2825

Ibukota Iceland ini bukanlah kota metropolitan. Ia adalah sebuah kota kecil Scandinavia yang dikelilingi laut Atlantik dan pegunungan salju. Persis seperti negeri dongeng. Selain gereja, tidak ada bangunan pencakar langit di Reykjavík. Itulah justru yang membuat saya betah. Meski jauh dari kesan angkuh, Reykjavík penuh dengan toko, museum, restoran, kedai kopi, dan bar unik dengan arsitektur tradisional namun bergaya kontemporer. I say, it was a natural-born quirky, hipster city. Kota ini mudah ditelusuri dengan jalan kaki ataupun naik bis (jangan naik taksi – mahal sekali!). Saya juga mengikuti tur sightseeing mengitari kota. Hallgrímskirkja, gereja Lutheran terbesar di Reykjavík, berada tepat di pusat kota. Di sini orang dapat naik ke puncak menara dengan membayar 700 ISK untuk menikmati pemandangan kota. Area belanja dengan jalan utama Laugavegur berada di sekitar sekitar gereja ini hingga ke area downtown dengan puluhan toko dan kedai makan. Di Old Harbor, dapat ditemukan banyak kedai yang menyediakan seafood khas Iceland, juga toko-toko dan operator tur whale-watching. Tidak jauh dari Old Harbor berdiri Harpa, gedung pertunjukkan dengan arsitektur kontemporer yang terbuat dari kaca. Saya mengikuti guided tour yang diadakan di gedung ini dengan membayar 1.750 ISK, and it’s worth it, terutama bagi pecinta arsitektur. Beberapa puluh meter dari Harpa, di pinggir laut Atlantik, terdapat sebuah instalasi seni yang dinamakan Solfar (Sun Voyager), sebuah patung kapal impian yang merupakan penghormatan kepada matahari dengan pemandangan Gunung Esja yang epik. Berbagai museum dan galeri seni tersebar di penjuru kota, dari museum seni sampai museum penis (iya, penis. Well, okay, phallological). Bangunan-bangunan bersejarah seperti pusat pemerintahan, rumah pejabat, hingga Gljúfrasteinn yang merupakan bekas kediaman Halldor Laxness – penulis penerima penghargaan Nobel Literatur – pun menarik untuk dikunjungi. Ketika ikut tur, rombongan kami juga mampir di Perlan (The Pearl), sebuah restoran fine dining empat lantai yang dibangun di atas tangki-tangki geotermal di mana terdapat ruang pameran dan juga dek observasi untuk menikmati pemandangan kota 360 derajat.

photo 1

Laugavegur   downtown   Old Harbour

Harpa Concert Hall

inside Harpa

photo 1

photo 2

5. The Food

Negara-negara Scandinavia terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Sekali makan di café atau restoran standar dapat menghabiskan sekitar 2000 ISK, atau sekitar Rp. 200.000. Pilihan yang lebih murah adalah fast foods seperti Subway dengan kisaran harga 300 – 1000 ISK atau membeli makanan di supermarket. Bila akomodasi memungkinkan, memasak makanan sendiri akan membantu menekan biaya meski tidak saya lakukan. Masakan khas Iceland mungkin cukup ajaib dan terasa agak lucu di lidah orang Indonesia. Tapi seafood-nya segar sekali. Saya mencoba humarsúpa, sup lobster di kedai Sæegreifinn yang terkenal di Old Harbour, dan saya suka sekali! Makanan khas di Iceland termasuk minke whale dan hiu, meski saya tidak tega memakannya. Mereka juga memakan hákarl yang dibuat dari ikan hiu busuk dan blóðmör (black pudding) yaitu sejenis sosis yang terbuat dari campuran daging, lemak, isi perut, dan darah ternak. Namun yang paling populer justru adalah sebuah stand hot dog di sentral kota bernama Bæjarins Beztu Pylsur, yang memproklamasikan diri sebagai “the best hot dog in the universe”. Mantan presiden USA, Bill Clinton, konon adalah pelanggannya. Saya mencobanya, dan hotdog dengan campuran berbagai saus dan bawang goreng ini memang super enak! Makanan legendaris yang saya coba juga adalah smørrebrød – roti manis khas Denmark dengan ikan herring mentah di Café Loki dan cheesecake di Café Babalu. Selain itu, sarapan buffet di Kex Hostel tempat saya menginap enak dan sehat, tampaknya cukup populer di Reykjavík.

photo 1

photo 2

photo 4

photo 4

6. The Music

Sejak remaja, saya tumbuh dengan alunan tembang para musisi Iceland seperti BjörkSigur Rós, Of Monsters and Men, Emiliana Torrini, dan múm. Merekalah yang pertama kali memperkenalkan saya pada negara ini. Setelah menyelami keindahan absurd negeri ini, keberadaan musik mereka jadi tidak mengherankan. Untuk penggemar musik, menonton gig musik lokal di Iceland jadi pengalaman tersendiri. Festival musik terbesar adalah Iceland Airwaves Festival yang diadakan setiap bulan November. Acapkali diadakan konser musik kecil di galeri dan sebagainya. Di hari terakhir saya, seorang penjaga toko rekaman memberi tahu saya tentang show band indie lokal, Low Roar, yang tidak kalah keren dengan Sigur Rós!

photo 2

7. Drink like a Viking!

Orang Iceland terkenal akan kegemarannya minum bir dan alkohol, mungkin karena musim dingin yang panjang dan menyiksa. Saya beruntung datang di minggu Beer Festival – Iceland merayakan hari bir nasional yang jatuh pada tanggal 1 Maret – dan setiap hari dibagikan sampel bir di bar Kex Hostel! Bir Iceland adalah salah satu bir terbaik yang pernah saya coba! Harganya cukup mahal bagi kantong orang Indonesia, sekitar 800–1200 ISK per gelas. Dua merk bir yang direkomendasikan adalah Viking dan Úlfur. Pengalaman bar hopping di Reykjavík adalah satu hal yang paling menyenangkan (dan sedikit gila). Daerah downtown menjadi rumah bagi bar-bar paling ramai di Reykjavík. Banyak restoran berganti rupa menjadi bar selewat petang. Di akhir minggu, rata-rata bar baru tutup di pagi hari. Yang saya suka, kehidupan malam di Reykjavík jauh dari kesan pretensius.

photo (80)

8. The Vikings

Inilah favorit saya dari negeri ini. Jangan heran bila melihat manusia-manusia berwajah supermodel di sini – konon di masa lampau para Viking menculik wanita-wanita cantik dari Eropa dan menjadikan mereka istri. Candaan yang terdengar kasar, straight-to-the-point serta gaya yang blak-blakan, hobi berburu dan membuat apapun dengan tangan sendiri, juga kemampuan minum alkohol yang luar biasa membuat orang Iceland kerap dicap udik oleh orang Eropa lainnya. Tapi tebak, itulah yang membuat mereka cocok dengan orang Indonesia – yang sama-sama “ndeso”. 😀 Tidak perlu khawatir karena mereka sangat fasih berbahasa Inggris. Lagipula angka kriminalitas di Iceland sangat rendah. Sepulangnya dari sana, saya menemukan sebuah artikel lama bagus yang mengatakan bahwa mereka adalah bangsa paling bahagia di dunia. Icelanders are among the most sincere and fun natives I’ve ever known. Bila senang dengan kehadiran Anda, mereka tidak segan-segan membantu Anda layaknya kawan lama.

mini viking

Iklan

6 comments on “The Land of Saga

  1. viraindohoy
    April 25, 2014

    hohoho.. it must be so awesome to have been to Iceland! This country made it into my “to visit list” after watching Walter Mitty movie.. 😀
    Pengen juga lihat aurora borealis, tapi ada pergulatan batin (dan fisik!) karena gua gak tahan yg dingin2 amaaattt …huhuhuuu..

    • nindyalubis
      April 25, 2014

      Sebenernya asal bajunya bener mah gak masalah neng. Gue di”kuliah”in – in a good way – sama ibu2 Belanda tentang kostum yang benar saking dia liat gue saltum 😀 tapi pas tur Aurora itu emang edyan euy.

  2. peny pujiati
    Juni 6, 2014

    ga bosen bosen bacanyah. bikin tambah pengen kesanaaa

  3. Diza
    Agustus 4, 2014

    Thank you so much for sharing! Looking forward to crossing “Iceland” off my bucket list 🙂 would you mind to share your trip itinerary and travel agent that you used?

    • nindyalubis
      Agustus 4, 2014

      Hi! I got there with a help from a friend, Kenny Santana (@qnoy2k on Twitter) or well-known as @KartuPos. He arranged the trip for me. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 25, 2014 by in Uncategorized and tagged , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: