perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

7.281 Miles (Part 1)

Aku bergegas mengikuti Evey Hammond menapaki jalan kecil gelap di pinggiran London. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Tiba-tiba sirene berkumandang di seluruh sudut kota. Kami terkejut, lalu segera berbelok ke sebuah lorong bertembok batu khas London yang remang-remang. Tiba-tiba dua orang pria asing menghadang kami. Evey mengeluarkan semprotan merica untuk melindungi diri, tapi kedua orang itu mengeluarkan tanda pengenal Fingermen yang membuat kami tak berkutik. Mereka memiting lengan Evey dan mulai memukulinya. Kami berteriak-teriak minta tolong. Saat itulah muncul seseorang bertopeng Guy Fawkes putih berkumis dan mengenakan jubah dan topi hitam. “V” is for Vendetta.

Kuambil sepotong keripik Mister Potato dari bungkusnya di pangkuanku dan kukunyah dengan jantung berdebar-debar. Mataku tak lepas dari layar TV, pada gedung Old Bailey dengan patung emas Lady Justice di atas kubahnya. Pada jalanan batu yang diapit gedung-gedung flat tua yang berdempetan Kulihat diriku sendiri di sana, berlarian di depan sekolah St. Mary.

Perkenalkan, namaku Anna. Menonton film adalah salah satu caraku untuk berteleportasi ke Inggris. Bila sedang menonton film, imajinasiku selalu membawaku masuk ke dalam adegan-adegannya. Suatu saat, aku melangkah bersama William Thacker keluar dari toko bukunya di Notting Hill, membeli jus di café, lalu menabrak Anna Scott dan menumpahkan minuman itu di kausnya. Di kali lain, aku mengayuh sepeda di pagi hari di Crosswick Street dan menyapa ramah semua orang yang kulewati bersama Poppy di film Happy Go Lucky. Atau berjalan bersama Alice di kepadatan penghuni London yang sibuk berlalu lalang, tersenyum pada Dan di kejauhan, dan ikut tersentak ketika Alice tertabrak mobil. Ah, Closer adalah salah satu film favoritku. Sementara di film Oliver!, aku ikut bernyanyi dan menari bersama Oliver Twist dan Jack Dawkins di jalanan batu kota London pada abad ke-19. Pada pertengahan tahun 1930an, aku ikut berteriak sekuat tenaga melatih suara bersama King George VI, Queen Elizabeth, dan terapis Lionel Logue di jendela kantor sang terapis yang menghadap jalan sempit dan gedung-gedung cantik berhimpit. Dan tentu saja, aku berdansa bersama Julia, ibunda John Lennon, dan seluruh pengunjung The Cavern Club di Liverpool ketika The Quarrymen, band asal-muasal The Beatles, pertama kali manggung di sana dalam film Nowhere Boy.

The Beatles adalah cinta pertamaku pada negeri di Britania Raya itu. Sejak benang-benang ingatanku mulai terjalin, sepertinya The Beatles adalah musik pertama yang aku dengar di dunia. Alih-alih lagu kanak-kanak, ibuku biasa mendendangkan “Yesterday” dan “Michelle” sebagai pengantarku tidur. Ayahku seringkali memutarkan album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band di mobil ketika menyetiriku ke sekolah di pagi hari. Aku ingat, kami bertiga biasa berdebat sambil tertawa-tawa di meja makan. Ayahku dan aku adalah penggemar berat John Lennon, sementara ibuku pemuja Paul McCartney. Kami akan bercanda saling menuding, Ayah dan aku dengan pendapat kami bahwa musik McCartney terlalu mendayu, dan ibuku yang menganggap musik John Lennon terlalu berbau hippies. Sepeninggal ayahku, pemutar piringan hitam tua dan plat-plat The Beatles asli warisannya adalah hartaku yang paling berharga.

Aku lalu tumbuh dan menjalani hari-hari di masa remajaku diiringi alunan musisi Britania lainnya. Oasis, Radiohead, Morrissey, New Order dan Blur adalah sedikit di antaranya. Masih dapat kurasakan panas matahari Jakarta yang membakar kegembiraanku dan teman-teman berseragam putih biru, berdansa sambil tertawa-tawa di depan panggung pentas seni ketika band sekolah memainkan lagu Disco 2000 milik Pulp yang menjadi hit saat itu. Kini, musisi-musisi Inggris yang terhitung baru seperti Coldplay hingga Bombay Bicycle Club juga memenuhi playlist-ku.

Bila tidak menonton film dan mendengarkan musik, di waktu senggang aku akan menenggelamkan imajinasiku dalam buku-buku. Sewaktu kecil, aku sering membayangkan bersekolah di asrama Malory Towers, di kastilnya yang bermenara empat di atas tebing. Aku ikut terbang bersama Harry Potter dengan sapu di atas Diagon Alley, dan berlari mendorong troli koperku di stasiun King’s Cross menembus dinding batu Peron 9¾. Aku mengikuti Sherlock Holmes dan dr. Watson yang sedang menguntit dr. Mortimer dan Baskerville sepanjang Oxford Street dab berbelok ke Regent Street. Aku menkmati kehidupan kota London yang sibuk bersama Pip dan Herbert; menikmati makan malam di kastil berparit, bertemu dengan pelayan-pelayan aneh, dan pergi ke teater. Aku berjalan-jalan bersama Mrs. Dalloway di pagi hari yang cerah, menapaki jalanan batu di depan Big Ben yang berdentang.

Aku penasaran, apa yang tersimpan di Inggris yang membuat penghuninya begitu mahir menciptakan karya ciamik. Mungkin seperti dalam lagu dinyanyikan Ed Sheeran tentang London.

“This town is alive,

With lights that blind keep me awake,

Put my hood up, unlace and tie,

The street fills my mind,

Don’t control what I’m into…”

Pernahkah aku ke Inggris? Tentu saja tidak. Gajiku sebagai staf marketing belum cukup untuk bepergian sejauh itu. Sepeninggal ayahku 4 tahun lalu, aku tinggal berdua dengan ibuku. Praktis akulah yang jadi tulang punggung. Itu pun aku bersyukur kehidupan kami masih layak. Aku bahkan masih bisa pergi bertamasya bersama teman-teman ke Singapura 2 tahun lalu. Aku senang sekali saat itu, karena, yah, paling tidak Singapura pun bekas negara Persemakmuran Inggris. Aku suka sekali dengan kotanya yang bersih. Mungkin Inggris pun serapi itu. Walau dalam bayanganku negeri Queen Elizabeth itu pasti lebih banyak memendam aroma sejarah dalam setiap sudut bangunan berusia berabad-abad. Dan sepertinya udaranya jauh lebih kering dan dingin.

Byar.. pet! Mendadak layar TV-ku menjadi seluruhnya hitam, tepat ketika ratusan orang bertopeng Guy Fawkes dan berjubah hitam berjalan memenuhi Trafalgar Square. Suasana hening seketika.

“Argh, yang benar saja!” rutukku kesal. Siapa yang berharap mati lampu di Minggu sore cerah yang seharusnya jadi hariku bersantai di rumah? Apalagi AC ikut padam sehingga jelas bikin gerah. Apa yang akan kulakukan sekarang? Aku belum mau terbangun dari mimpiku tentang Inggris.

Kumasukkan potongan terakhir Mister Potato ke mulut, lalu aku berdiri dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar. Aku menoleh ke arah jendela. Sinar matahari yang hangat segera mengusap wajahku. Hmm. Mungkin keluar rumah sebentar tak ada salahnya.

Kupilih beberapa buku favoritku dari rak dan kumasukkan ke dalam tas, lalu berganti baju dengan kaus bergambar keempat personil The Beatles favoritku. Setelah pamit pada Ibu, aku berjalan keluar rumah dan mencegat taksi pertama yang lewat. Kuarahkan Pak Supir ke bilangan Kemang, menuju salah satu tempat favoritku di kota ini.

Eleanor Café ini terdiri dari dua tingkat. Hanya ada kurang dari sepuluh meja di setiap lantainya. Lantai dan furniturnya terbuat dari kayu berwarna lembut dan temboknya dibangun dari bata bercat putih. Beberapa sofa kulit hitam tersebar di beberapa tempat. Selain interiornya yang mirip café-café di Inggris dalam film yang kutonton, yang kusuka adalah poster-poster musisi Inggris lama yang memenuhi dindingnya – Oasis, The Smiths, dan tentunya The Beatles. Musik mereka selalu mengalun dari playlist. Selain itu, fish and chips di sini enak sekali.

Kupesan secangkir the English Breakfast panas pada pelayan, lalu mulai membuka lembaran buku. Aku sedang mengikuti langkah dr. Watson yang sedang menapaki ketujuh belas anak tangga di 221B Baker Street ketika sebuah suara asing mengagetkanku.

“Wow, a Sherlockian?”

Kuangkat kepalaku dengan cepat. Seorang laki-laki tinggi berkulit putih berdiri di depan mejaku. Ia berdiri menghalangi lampu di atas kepalanya, aku tidak dapat melihat jelas wajahnya. Rambut hitam pendeknya tertutup topi pet abu-abu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket coklatnya.

Hah? Sherlock Holmes??

(Bersambung)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 26, 2014 by in Fiction and tagged , .
%d blogger menyukai ini: