perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

7.281 Miles (Part 2)

Sherlock menatapku dengan mata coklatnya. Kupindai rambut hitam pendek yang mengintip dari balik topi petnya, wajah putihnya yang membuatku mendadak ingin membeli whitening cream, jaket coklat yang menutupi perawakannya yang tinggi, lalu… celana jeans belelnya. Ok, orang ini pasti bukan Sherlock Holmes.

English books!” katanya sambil menunjuk buku-bukuku, “Boleh aku duduk di sini?” Logat bahasa Indonesia-nya terdengar sedikit kaku. Aku tergagap sejenak. Tidak setiap hari di Jakarta seorang laki-laki asing mengajakmu berbicara di café.

“Ya… Boleh saja.”

Dengan cepat tanpa malu-malu dia duduk di depanku sambil mengulurkan tangannya, “Hai, aku Robbie.”

Kujabat tangannya selintas dengan mata masih awas, “Anna.”

Annaa…,” mendadak dia bernyanyi.

You come and ask me, girl,” spontan aku melanjutkan bernyanyi. Robbie tertawa. Aku tersenyum canggung.

Die-hard fan?” katanya sambil menunjuk kaus The Beatles-ku.

Who are you?” kata-kata itu meluncur dari mulutku tanpa tersaring oleh otakku.

“Oh, maafkan aku,” wajahnya memerah. Aku jadi menyesali nada kalimatku yang ofensif.

“Namaku Robbie. Robbie Fowler. Haha, maaf, bukan. He’s a God, and I’m not. Aku sedang liburan di Jakarta. Asalku dari Inggris.”

“London?”

“Haha, Liverpool. Tapi aku akan pindah ke London bulan depan.. So, tell me… LFC or Everton?”

“London Fashion Week,” jawabku asal. Robbie terbahak.

What?” kataku sok acuh sambil mengaduk tehku, tapi ikut tersenyum, “Burberry and Stella McCartney are classics, walau harganya bikin tercekik.”

“Apakah semua perempuan Indonesia blak-blakan seperti kamu?”

Honestly, nope. Apakah semua orang Inggris asal menyapa orang asing seperti kamu?”

Well, we are friendly people!”

Dia memang tampak ramah dan sopan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Robbie datang ke Jakarta untuk mengunjungi ibunya, seorang wanita Indonesia. Ayahnya berkebangsaan Inggris dan tinggal di Liverpool. Kedua orangtuanya bercerai ketika ia kecil. Ia baru saja berhenti dari pekerjaannya karena akan melanjutkan kuliah di London. Karena itu dia memanfaatkan waktu kosong sebelum sekolah dimulai dengan mengunjungi ibu yang sudah 2 tahun tidak ia temui. Setelah sekitar 1 jam bercakap-cakap, ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia orang berbahaya. Aku mulai bisa mengobrol lebih lepas dengannya. Kami bertukar nomor telepon dan aku berjanji akan menemaninya selama ia di Indonesia.

Sejak itu, kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Ia kerap menjemputku di kantor sepulang kerja, lalu kami pergi untuk sekedar makan, menonton bola, atau mendengarkan piringan hitam The Beatles koleksiku di rumah. Kadang ia dengan bersemangat menjelaskan tentang dunia bola dan Liverpool Club yang menjadi dewa baginya. Kali lain, kami heboh membicarakan The Beatles, The Smiths, Oasis, Ed Sheeran, semua musik asal Britania favorit kami. Ia bercerita banyak tentang Liverpool dan dermaga-dermaganya tempat ia sering menghabiskan senja. Tentang The Beatles Story Museum dan “magical history tour” yang nyata. Katanya, ia seringkali hang out di The Cavern Club, sebuah bar The Beatles manggung di tahun-tahun awal mereka, dan berhasil membuatku menjerit histeris membayangkannya. Ia juga bercerita tentang London. Tentang Peron 9¾ di King’s Cross Station dan Sherlock Holmes Museum di 221 Baker Street yang ternyata benar-benar ada. Tertawa bersama Robbie adalah saat-saat yang terasa tulus. Aku bahkan mulai menikmati bersorak-sorai ketika menonton bola melayang memasuki gawang bersama Robbie. Tanpa terasa 3 minggu berlalu sejak pertemuan pertama kami.

“Lihat nggak, gol ketiga tadi? Cantik sekali, ya? Kerja team Sterling dan Suarez benar-benar keren!” kata Robbie berapi-api sambil mondar-mandir di depanku. Kami sedang bersantai di teras rumahku setelah menonton pertandingan Liverpool versus Arsenal dalam Premier League. Ia menjatuhkan pantatnya di kursi sebelahku. Aku menyeruput teh panasku. Tenggorokanku terasa kering setelah berteriak-teriak tadi.

“Kamu tahu, suatu hari nanti kita harus nonton The Reds bareng di Anfield Stadium. Dengan kapasitas lebih dari 45.000 tempat duduk, Anfield adalah stadion ketujuh terbesar se-Britania Raya!”

Robbie menjatuhkan pantatnya di kursi sebelahku, lalu mencomot Mister Potato sisa perbekalan nobar kami dan mulai mengunyahnya. “Aku akan kangen sekali dengan Mister Potato ini begitu aku kembali ke Inggris,” katanya dengan mulut penuh.

Aku tersedak tehku. Kembali ke Inggris? Aku terbatuk. Tanpa kusadari aku melotot pada Robbie dengan mataku yang memerah.

Are you okay?” Robbie mencondongkan tubuhnya ke arahku, khawatir.

No! Maksudku, ya, tentu saja,” kataku sambil berusaha menenangkan diri. Setelah batukku mereda dan jantungku berdegup lebih tenang, aku pura-pura memandangi tanaman koleksi Ibu.

“Jadi… Kapan kamu berangkat?”

“Minggu depan, Anna,” dari sudut mataku bisa kurasakan ia sedang memandangku, “Aku harus menyiapkan kepindahanku ke London sebelum sekolah dimulai.”

Kini mataku menempel pada pot anggrek Ibu yang belum berbunga. Kami sama-sama terdiam lama setelah itu.

Robbie muncul di pintu rumahku pada malam terakhirnya di Jakarta. Malam itu hujan turun cukup deras. Robbie memayungi kepalaku dengan tangannya ketika kami memasuki taksi.

“Besok aku akan kembali ke Inggris dengan segala cuacanya yang tak menentu,” keluhnya.

“Walau di sana hujan terus juga aku mau kok ke Inggris,” celetukku. Bareng kamu, pikiranku menyambung.

Sepanjang perjalanan menuju Eleanor Café tempat kami pertama bertemu, kami tidak banyak berbicara.

“Kamu tahu, Anna,” Robbie mengaduk kopi panasnya, “Aku bekerja keras sejak kuliah sarjana dulu untuk membiayai sekolahku ini. Diterima di program ini sangat berarti bagiku, apalagi ayahku tidak kuliah. Dia bekerja 30 tahun di tempat yang sama sebagai kasir. Great old man, he is.”

Aku menyedot jus strawberry-ku, masih bungkam. Aku betul-betul tidak tahu harus berkata apa. Sepanjang hari aku melatih kata-kata yang tepat untuk perpisahan kami, tapi entah efek dingin jus yang kuminum atau berada di depan Robbie kini yang membuat otakku membeku.

“Aku selalu bekerja. Karena itulah aku lama tidak ke Indonesia untuk bertemu ibuku,” ia menatapku dengan mata coklatnya.

“Kuliahku ini akan membuatku banyak berkutat di kampus, bahkan mungkin pada waktu libur,” katanya, kali ini sambil melipat tangannya, “Apalagi aku ingin melanjutkan hingga mendapat gelar Ph.D. Mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun hingga aku bisa kembali ke sini.”

Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.

“Baiklah,” kataku sambil memaksakan tersenyum, “Jadi sepertinya kita tidak akan pernah bertemu lagi?”

“Bukan begitu, Anna, tentu saja aku ingin bertemu kamu lagi.”

“Kamu mau aku merengek memintamu membawaku ke Inggris seperti wanita-wanita negara ketiga ketemu bule?”

Robbie terbahak keras. “Kamu perempuan Indonesia paling gila yang pernah aku temui. That’s why I lo…”

Katanya-katanya mengambang di udara. Aku pun membisu seketika.

I lo… I London you!” katanya dengan nada sedikit tercekik, diikuti menggaruk-garuk ujung hidungnya. Kebiasaannya yang mulai aku hafal selalu muncul ketika pertandingan bola dimulai, ketika pamit pada ibuku, atau singkatnya – ketika ia gugup.

Alisku naik satu, bibirku tertarik ke satu sudut. “What was that?”

“Itu mantra. I London you! Supaya suatu hari nanti, segera, kamu akan mengunjungiku di Inggris,” Robbie tersenyum lebar.

“Tahu nggak, London itu berada sejauh 7.281 mil dari Jakarta. Atau dalam hitunganmu, kira-kira sekitar 11.717 kilometer. Bila kamu terbang langsung ke sana tanpa transit, kamu akan melewati 12 negara lain di antara Indonesia dan Inggris,” Robbie menyentuh lenganku, “Itu jarak yang akan kutempuh besok. Dan semoga suatu hari, kamu yang akan menjalaninya.”

Aku hanya bisa tersenyum, berusaha menutupi kesedihanku, “Yah. Suatu hari nanti, segera.”

Ketika mengantarku sampai depan pintu rumah, Robbie memelukku erat. Aku membalas tak kalah kencang. Ketika ia melonggarkan pelukannya, aku menoleh untuk mencium pipinya. Ia melakukan hal yang sama. Bibir kami, entah disengaja atau tidak, bertemu. Kami membeku dalam posisi itu selama beberapa detik, dan bibir kami hanya bergerak sedikit selama beberapa detik berikutnya. Sama sekali bukan ciuman yang kubayangkan antara seorang pria keturunan Inggris dan seorang wanita to-the-point sepertiku, tapi lebih seperti ciuman pertama malu-malu sepasang remaja. Tapi entah bagaimana, ciuman itu terasa menyihir bagiku.

 

(Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 27, 2014 by in Fiction and tagged , .
%d blogger menyukai ini: