perfectelle

Any painkiller has side effects. Use with cautions.

7.281 Miles (Part 3)

Kulempar tubuhku ke atas kasur tanpa mengganti baju kerja. 2 hari berlalu sejak kepergian Robbie. Belum ada kabar darinya.

Mungkin dia masih jetlag, pikirku, berusaha mengalahkan bisikan-bisikan keputusasaan dalam kepalaku.

Tring!” suara ponselku terpendam dari dalam tas. Aku segera tegak, menyambar tasku yang tadi kulempar asal ke pojok kasur dan terburu-buru mengorek isinya. Sebuah foto zebra-cross di jalanan yang familiar bagiku dengan gedung-gedung tuanya yang cantik dan pepohonan asri muncul di layar ponselku.

19:21 Good afternoon from Abbey Road 🙂

Kutahan jeritanku dan berguling di kasur. Malam itu, Robbie menghubungiku dengan Skype. Aku ingin melonjak rasanya begitu melihat wajahnya tersenyum di layar laptopku.

Sejak itu, kami selalu berhubungan melalui messenger, Skype, atau apapun yang membantu kami untuk saling mengontak. Seringkali kami saling berkirim foto. Entah foto bangunan The Beatles Story yang ia lewati, foto kemacetan Jakarta yang kuambil untuknya, hingga sekedar selfie iseng. Hampir setiap malam – atau sore hari di sana – kami melakukan video call hingga waktu kepindahannya ke London. Ia sibuk sekali mengepak barang-barang di apartemennya. Aku hanya tertawa-tawa di balik layar laptop di sini, menemaninya beres-beres apartemen selama hampir 4 jam.

3 hari sudah Robbie tinggal di London. Aku sedang bersiap-siap untuk pulang di kantor ketika tiba-tiba ponselku berdering. Notifikasi Facetime dari Robbie terpampang di layar. Kusentuh tombol terima, dan beberapa detik kemudian jantungku serasa berhenti berdegup.

Di layar ponselku terpampang pemandangan London yang indah dari ketinggian 135 meter.

“Hey Anna,” wajah Robbie muncul di kiri layar, “I wanted to take you here.” Dari balik kaca kapsul yang tebal, Robbie menunjuk House of Parliament yang tampak megah di bawah situ, dan oh… Big Ben berdiri bangga di sana.

“Haha… Kamu membawaku naik London Eye?” aku duduk di kubikelku, dalam kantor di sebuah gedung di bilangan Sudirman di Jakarta, tetapi kini aku seperti sedang berdiri di tempat yang berada 7.281 mil jauhnya. Mataku terasa berkaca-kaca, namun kutahan. Untung kantor sudah sepi.

“I London you,” senyum Robbie jauh lebih hangat dari cuaca London yang tampak berawan di awal bulan Maret. “Suatu hari nanti, segera.”

Di antara kesibukannya bersiap-siap kuliah, Robbie membawaku melewati hari-harinya di London dengan video call dan foto-foto yang ia kirimkan. Suatu kali, ia menghubungiku dengan Facetime dan membuatku tertawa dengan berpura-pura menelepon dari dalam sel telepon merah yang khas London.

“How do you do, My Lady,” katanya dengan logat British kental dengan gagang telepon umum tua di tangan kirinya menempel di telinga, sementara tangan kanannya memegang ponsel. Aku tergelak.

Di hari lain, ia “mengajak”ku berjalan-jalan dengan bus double-decker, melewati jalanan London yang diapit gedung-gedung tua catik yang berdempetan. Kami pernah melakukan Facetimeketika ia sedang berada di dalam taksi hitam, dan membuatku terheran-heran dengan interiornya yang lapang di dalam mobil mungil itu. Ia juga pernah menghubungiku dari kereta London Underground. Rasanya bagiku seperti sedang berada dalam film-film yang kutonton dan buku-buku yang kubaca, tapi live. Lebih baik lagi, aku seperti menjalani hari-hari bersama Robbie di sana.

Ketika kuliah Robbie dimulai, intensitas percakapan kami sedikit berkurang. Bila sebelumnya kami bisa chatting terus-menerus sejak ia bangun – yang berarti menjelang sore hari di sini – hingga waktu  tidurku – yang berarti senja di sana – kini kami chatting hanya ketika Robbie bangun, waktu baginya makan siang, dan waktuku tidur. Lambat laun kegiatan video call kami pun berkurang. Dari yang hampir setiap haru sebelumnya, menjadi 2-3 hari sekali. Melalui Skype. Robbie memperkenalkanku dengan teman-teman satu team-nya di kampus; Steven dan Ron. Hal itu membuatku senang meski kuantitas hubungan kami berkurang, dan diam-diam tersanjung karena ia mengenalkanku ke lingkungannya.

Sementara itu di Jakarta, aku mulai mencari-cari pekerjaan sambilan. Diam-diam, aku mulai berusaha menabung agar aku dapat pergi mengunjungi Robbie di Inggris. Aku mendapatkan beberapa pekerjaan lepas sebagai copywriter, yang dapat kulakukan sepulang kantor di rumah. Meski kadang aku harus meeting dengan klien setelah jam kerja, semua kujalani. Kesibukan baruku membuatku sedikit lupa dengan perasaan kehilangan Robbie.

Suatu ketika, aku pulang larut malam setelah meeting dengan klien. Aku langsung pulas ketika menyentuh kasur, dengan berbaju lengkap dan lampu kamar masih menyala. Di tengah malam, ponselku berdering. Aku tetap tertidur. Ponselku berdering lagi, dan lagi. Aku masih tertidur.

Di pagi hari, aku kaget sekali melihat lima notifikasi missed call. Aku sama sekali lupa, kemarin kami janji untuk melakukan video call.

06:08 Robbie, maaf semalam aku ketiduran. Aku capek sekali. Anyway, have a good day 🙂

14:11 It’s okay, dear. Thanks 🙂 How are you today?

14:14 Much better, thanks. Kita bisa Skype hari Sabtu nanti kalau kamu mau.

14:15 Sure

Sabtu itu, kutolak semua ajakan pergi dari teman-temanku. Aku membantu Ibu memasak, lalu duduk di depan TV sambil mengudap Mister Potato. Robbie suka sekali keripik ini, pikirku sambil mengunyah. Ponsel tak kubiarkan jauh-jauh, begitu juga laptop yang kubiarkan terus menyala di dekatku.

Kulirik ponselku berkali-kali. Angka jamnya menunjukkan pukul 3 sore. Tak lama lagi Robbie pasti bangun.

Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Robbie belum juga menghubungiku. Mungkin dia bangun siang lalu langsung mencari makan, pikirku, toh ini akhir pekan.

Pukul 1 malam, aku menyerah. Kututup laptopku, dan aku bersiap-siap tidur. Kurebahkan tubuhku di kasur sambil memainkan ponselku. Iseng kubuka album fotoku. Foto-foto Big Ben, jalanan London, black cab, double decker, dan banyak selfie Robbie muncul di depanku. Aku tersenyum sedikit elihat gaya-gayanya yang ajaib, namun senyumku segera tertarik turun oleh perasaan dingin yang tiba-tiba menyergap. Aku baru menyadari, kami kini jarang sekali berkirim foto-foto spontan seperti dulu. Kutepuk-tepuk bantalku dan kupaksakan untuk tidur.

02:39 Anna, maafkan aku. Tadi aku bermain bola seharian dengan Steven.

07:26 It’s okay. How was the football going?

Sebagian dariku sebenarnya kesal karena Robbie melupakan janjinya, tapi sebagian lagi aku lega ia masih menghubungiku. Lagipula, siapa aku? Aku toh bukan pacarnya. Ya, aku bukan pacarnya, kata-kata itu terngiang di kepalaku, berusaha memperingatkan harapanku yang sebelumnya sudah bersiap terbang tinggi.

Namun kejadian itu berulangkali terjadi. Ketika aku terburu-buru pulang dari meeting, Robbie sibuk mengerjakan tugas kuliah. Ketika aku menyalakan weker dan bangun larut malam demi chatting dengannya, ia pergi ke bar bersama teman-temannya. Dan banyak lagi.

Malam itu, aku sedang sibuk mengerjakan tulisan mengejar deadline di rumah ketika tiba-tiba notifikasi Skype-ku berbunyi.

“Anna! How are you? You look nice by the way,” Robbie tampak ceria seperti biasa. Sebagian hatiku berdesir melihat senyumnya, tapi sebagian lagi membeku.

“Oh, kamu masih ingat denganku?” aku tak bisa menahan nada sinis dalam ucapanku.

“Apa maksudmu? Aku baru saja terbebas dari tugas-tugasku yang menggila, nih.”

“Oh ya? Aku menghabiskan hampir seluruh waktuku untuk bekerja dan bekerja sepanjang hari, tapi aku masih ingat denganmu.”

“Anna, kamu kenapa?”

“Setiap kali aku membutuhkanmu, kamu nggak ada. Sementara aku berusaha mati-matian mengumpulkan uang agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Menurutmu, aku kenapa?” kalimat-kalimatku meluncur seperti air bah. Robbie terdiam. Aku sendiri kaget aku berbicara begitu.

“Anna…”

“Dengar, Robbie. I don’t want to be such a clingy Indonesian girl. I’ll hate myself if I ever be.”

Robbie menggaruk ujung hidungnya. “Tapi, Anna, aku tidak pernah…”

“Sepertinya sebaiknya kita mengurangi kebersamaan kita. Toh kita tidak betul-betul bersama di dunia nyata, kan? Kita juga tidak tahu kita akan pernah bertemu lagi atau tidak,” tangan-tangan di dalam dadaku berusaha menghentikan kerikil tajam dalam kata-kataku yang melukai dinding hatiku sendiri. Apa yang kukatakan? Tapi, jauh di dalam sana, aku tahu yang kukatakan adalah kenyataan.

“Aku bahkan tidak tahu aku ini apa buatmu, Robbie. I feel stupid. Kita bahkan hanya sebentar sekali saling mengenal. Aku nggak ngerti bagaimana kalian menyikapi hal seperti ini di Inggris sana, tapi yang jelas bukan begini caranya di Indonesia,” aku menelan ludah melewati tenggorokanku yang mulai terasa nyeri seperti terganjal batu.

Robbie kehilangan kata-kata. Aku menghela nafas.

“Robbie, masih ada deadline yang harus kukerjakan. I’ll talk to you later.

Minggu-minggu berlalu sejak video call terakhir kami. Kehidupanku berjalan seperti biasa. Bangun, pergi ke kantor, melakukan pekerjaan sambilan, pulang, tidur. Hanya sesekali aku dan Robbie saling menyapa berbasa-basi di messenger. Setiap kali ponselku berbunyi, aku tergopoh-gopoh mengambilnya. Bila itu bukan pesan dari Robbie, aku kecewa. Bila itu dari Robbie, bukannya senang, hatiku beku ketika membacanya. Entahlah. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Kadang aku merasa bodoh berharap bisa pergi ke London untuk menemuinya. Apa aku harus menjadi wanita Asia menyedihkan yang bermimpi dinikahi bule dan dibawa ke negari seberang? Bagaimana dengan ibuku? Ah, tunggu, itu terlalu jauh. Aku dan Robbie bahkan hanya sempat bersama di dunia nyata selama 3 minggu. Sisanya semu. Lagipula, wajahnya lebih mirip orang Asia daripada bule. Walau justru itu yang kusuka darinya. Apa? Aku suka? Kugelengkan kepala kuat-kuat. Tapi, bila memang semua palsu, untuk apa dia repot-repot menghubungiku? Lalu, segala chat dan video call kami? Aku tidak habis pikir apa sebenarnya maksud semua itu bagi Robbie. Terlebih, aku tak tahu apa arti semua itu bagi diriku sendiri.

‘Cause they fly away
One minute they arrive,
Next you know they’re gone
They fly on, fly on

Maybe one day I’ll come fly with you…”

Kututup laptopku setengah kubanting. Seandainya Chris Martin betulan yang menyanyikannya, mungkin aku tak akan sekasar itu. Mungkin akan kubekap mulutnya dengan mesra. Walau tetap kesal karena lagunya sudah membuatku gamang. Ah, sudahlah. Kurebahkan punggungku di kasur.

Harus kuakui, ternyata kata-kata yang kuucapkan pada Robbie salah. Aku telah terbiasa berbagi hari-hariku bersama Robbie, meski terpisahkan jarak ribuan mil jauhnya. Tak pernah terpikir olehku bahwa teknologi telah menyatukan tempat dan ruang. Pada akhirnya, di antara aku dan Robbie justru kenyataanlah yang menjadi jurang. Dan itu tidak sekompleks, juga tidak sesederhana film yang kutonton dan buku yang kubaca.

Hari ini adalah hari ulangtahunku. Tidak ada yang istimewa. Sepulang dari kantor, aku segera sibuk di depan laptop mengerjakan sebuah tulisan sambil mengunyah Mister Potato kesukaan. Pintu kamar terbuka. Ibu masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas coklat kecil berlapis plastik tebal.

“Ada paket untukmu pagi ini,” kata Ibu sambil berlalu, setelah menaruh bungkusan itu di kasurku.

Kuangkat bungkusan itu dan kubaca labelnya. Dari Inggris? Robbie? Kurobek kertas coklat itu. Sebuah kotak merah mungil dan sebuah kartu pos bergambar House of Parliament dengan Big Ben-nya muncul. Kubuka kotaknya dengan hati-hati.

Sebuah gelang mungil berkilat dari balik penutup kotak. Kuangkat hati-hati dan kusentuh hiasan yang tergantung pada rantainya satu persatu. Big Ben. London Eye. Bus double decker. Box telepon merah. Taksi hitam. London Underground. Semua tempat yang Robbie pernah membawaku melalui video call. Kukenakan gelang itu dan kubolak-balik tanganku perlahan, takjub. Kuambil kartu pos yang menyertainya dan kubaca tulisan di baliknya. Isinya pendek saja.

Dear Anna,

Happy birthday. I miss you.

And I’m sorry. Your absence is way more irritating than your presence.

Now on your birthday, I only wish, and I really do, that we would conquer the 7.281 miles, 12 countries.

I London you. On top of all, I love you.

Robbie

Kubaca tulisan itu berulangkali. Lalu aku duduk terdiam beberapa menit. Surat dari Robbie menggantung di tanganku, dengan Big Ben mini berkilat-kilat di dekatnya. Dengan cepat kutarik laptopku mendekat.

Aku harus ke Inggris.

Kubuka browser dan mulai mengetik.

Aku. Harus. Ke Inggris.

Kata-kata itu terus terulang di kepalaku seperti mantra yang mendorong jari-jariku menari di atas keyboard. Sementara suara John Lennon mendayu dari speaker laptopku.

“I will set you free, Anna

Go with him, Anna

Go with him, Anna

You can go with him, girl.”

 

Tulisan ini termasuk dalam salah satu dari 75 Finalis Blog Competition #InggrisGratis oleh Mister Potato Indonesia.

Iklan

4 comments on “7.281 Miles (Part 3)

  1. Rosanna Simanjuntak
    Mei 29, 2014

    So sweet,,

  2. martinasuryanata
    Juni 1, 2014

    Bagus banget tulisannya 🙂 pasti menang deh inggrisgratis-nya, hehe. Foto-fotonya juga kreatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 29, 2014 by in Fiction and tagged , .
%d blogger menyukai ini: